Selasa, 06 Maret 2012

Universitas Al-Iman Yaman Dalam Sorotan

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir

Universitas Al-Iman adalah di antara universitas yang tak sedikit menjadi pilihan sebagian orang-orang Indonesia yang ingin belajar agama, sebagian mereka memang diarahkan oleh ustadz-ustadznya untuk belajar di sana karena mereka tahu universitas itu bermanhaj Ikhwanul Muslimin dan sebagian lagi karena mereka tidak tahu tentang hal itu. Mereka menganggap universitas tersebut tempat yang baik untuk menuntut ilmu agama. Padahal pada hakekatnya universitas Al-Iman Shan’a Yaman adalah universitas ikhwani yang mengajarkan berbagai penyimpangan dan kesesatan yang Insya Allah pada kesempatan ini kami akan menjelaskan hal itu secara ringkas, semoga menjadi nasehat untuk ummat.

Sekilas Tentang Universitas Al-Iman Yaman

Universitas Al-Iman berdiri sejak tahun 1414 H/1993 M di kota Shan’a Ibukota Yaman, didirikan oleh Abdul Madjid bin Aziz Az-Zindany. Di umurnya yang relatif masih muda universitas ini mempunyai peran dalam menyebarkan berbagai pemikiran sesat dan menyimpang, mulai dari aqidah Asyaa’irah, manhaj Ikhwanul Muslimin sampai pada penyimpangan dan kesesatan yang lainnya.


Sekilas Tentang Penyimpangan dan Kesesatan Pendirinya Abdul Madjid bin Aziz Az-Zindany

Para ulama ahlussunnah baik di negeri Saudi atau Yaman telah menjarh/menyatakan sesat pendiri universitas Al-Iman yaitu Abdul Majid Az-Zindany di antaranya adalah Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i. Dan di antara penyimpangannya adalah :

1. Bodoh terhadap hakikat tauhid yang dengannya Allah mengutus para Rasul
2. Menetapkan aqidah Jahmiyah dan Mu’tazilah dalam masalah iman
3. Menetapkan sifat-sifat Allah dengan akal, menyelisihi manhaj ahlussunnah yang mengatakan sifat-sifat Allah adalah tauqifiyah (berdasarkan yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah)
4. Mengajak untuk mencintai Yahudi dan Nashrani
5. Menjauhkan para pemuda dari ilmu syar’i menuju kepada ilmu filsafat.
(Di antara penyimpangan dan kesesatan Abdul Madjid Az-Zindany di dalam kitabnya Tauhid Al-Kholiq)

Sekilas Tentang Penyimpangan dan kesesatan Universitas Al-Iman

1. Tidak memberikan perhatian terhadap pendidikan aqidah yang benar
2. Tidak berpegang teguh di atas manhaj yang haq (manhaj salaf) dalam proses belajar dan mengajar
3. Mengajarkan manhaj Ikhwanul Muslimin
Dan lain-lain

Sekilas Tentang Sebagian Penyimpangan Para Dosennya

1. Muhammad Mukhtar As-Sinqity, salah seorang dosen universitas Al-Iman Yaman. Diantara penyimpangannya ia pernah berkata tentang sebagian shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang akhir-akhir (yang belakangan) bahwa mereka tidak paham agama dengan pemahaman yang baik.

2. DR. Abdul Lathiif bin Haa’il, salah seorang dosen keluaran Jami’ah Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyyah dengan titel Doktor dalam bidang tafsir. Di antara penyimpangannya memuji syi’ah secara umum dan khusiy secara khusus, dan mengatakan “Mereka adalah orang-orang yang didzalimi maka wajib membantu mereka dengan melawan negara.”

3. Muhammad Jamil As-Sinqity salah seorang pengajar di Al-Iman di antara penyimpangannya pernah mengatakan : “Tidak ada perbedaan antara sunni dan syi’ah yang penting kita semua adalah kaum muslimin.”

4. DR. Hasan Al-Iman As Sudaani Al-Asy’ari, salah seorang pengajar di Al-Iman, diantara penyimpangannya adalah mengatakan “Bahwa Al-Asyaa’irah mereka adalah ahlussunnah wal jamaah tanpa ada keraguan tentang hal itu.”

5. Ali bin Imraan, salah seorang pengajar dalam bidang hadits di antara penyimpangannya membolehkan memberontak kepada pemerintah kaum muslimin.

6. Abdul Wahhab Ad-Diilamiy, salah satu dosen Universitas Al-Iman mengajar bidang Tafsir dan Aqidah. Abdul Wahhab ini salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin di Yaman.

7. Muhammad bin Ahmad Al-Waqisy, salah seorang dosen di Universitas Al-Iman pada bidang studi Fiqih dan Ushul. Di antara penyimpangannya adalah memuji DR. Yusuf Al-Qardhawi, dengan mengatakan : “Yusuf Al-Qardhaawi Imam Mujadid pada abad 20.”

8. Muhammad Shaadiq, mengajar mata pelajaran “At-Tazkiyah” yaitu kitab Milik Sa’id Hawwa (salah seorang tokoh dan pembesar Ikhwanul Muslimin, seorang sufi)

9. Abdurrahman al-Khumaisi, salah seorang dosen di bidang hadits yang merupakan keluaran Jami’ah Islamiyyah Madinah, seorang yang sangat benci terhadap ahlussunnah, begitu juga meremehkan syaikh Al-Albani dengan mengatakan “(Syaikh Al-Albani) tidak mempunyai syaikh.”

Dan yang lainnya dari para dosen yang memiliki berbagai kesesatan dan penyimpangan yang tidak ringan.
Sekilas Tentang Penuntut Ilmu Yang Ada di Universitas Al-Iman

Sebagian dari mereka adalah orang-orang Ikhwanul Muslimin, sebagian lagi semodel dengan Ikhwanul Muslimin, sebagain lagi Jama’ah Tabligh, dan yang lainnya dari kelompok-kelompok sesat dan menyimpang.
Sebagian lagi orang-orang yang mereka tidak tahu tentang kesesatan Universitas Al-Iman. Sebagaimana ada beberapa orang Indonesia yang pernah belajar di sana setelah mendapat penjelasan atau dakwah dari Ikhwan kita Alhamdulillah sebagian dari mereka keluar dari sana dan sekarang belajar di markiz-markiz ahlussunnah di Yaman.

Kesimpulan :

Untuk kaum muslimin yang menginginkan ilmu agama yang benar yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat maka tidak sepantasnya dan tidak boleh untuk seseorang belajar di Universitas Al-Iman Shan’a Yaman karena di dalamnya diajarkan berbagai penyimpangan dan kesesatan, hal ini diketahui dari realita yang terjadi di dalamnya, begitu juga diketahui dari penyimpangan dan kesesatan pendiri dan para dosennya serta dari hasil para penuntut ilmu atau alumni yang keluar dari universitas tersebut. Disamping itu penjelasan para ulama, masyaikh dan para dai ahlussunnah tentang hakekat Universitas Al-Iman. Maka bukan jalan untuk menuntut ilmu agama yang benar dan mencari kebahagiaan dunia dan akhirat dengan belajar di sana, bahkan jalan kebinasaan dan kehancuran seseorang.

Allah Ta’aala berfirman :

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Qs. al-An’am : 68)

Berkata Al-Imam Syaukani Rahimahullah :

وفي هذه الآية موعظة عظيمة لمن يتسمح بمجالسة المبتدعة ، الذين يحرّفون كلام الله ، ويتلاعبون بكتابه وسنة رسوله ، ويردّون ذلك إلى أهوائهم المضلة وبدعهم الفاسدة ، فإن إذا لم ينكر عليهم ويغير ما هم فيه فأقلّ الأحوال أن يترك مجالستهم ، وذلك يسير عليه غير عسير . وقد يجعلون حضوره معهم مع تنزّهه عما يتلبسون به شبهة يشبهون بها على العامة ، فيكون في حضوره مفسدة زائدة على مجرد سماع المنكر

“Di dalam ayat ini terdapat nasehat yang agung bagi orang bermurah hati (ramah -ed) dengan duduk-duduk kepada ahlu bid’ah yang mereka menyelewengkan kalamullah (Al-Qur’an, ayat-ayat-Nya -ed), bermain-main dengan Kitab-Nya, sunnah Rasul-Nya yang mereka inginkan dengan itu yaitu mengajak kepada hawa nafsu mereka yang sesat, dan kebid’ahan mereka yang rusak, maka apabila tidak bisa mengingkari mereka dan merubah apa yang ada pada mereka, maka keadaan yang paling ringan adalah dengan meninggalkan duduk-duduk bersama mereka, yang demikian itu mudah atasnya, tidaklah sulit. Dan sungguh dengan hadirnya dia bersama mereka (ahlu bid’ah) bersamaan dengan bersihnya orang tersebut dari apa yang mereka samarkan (rancukan) dengannya syubhat yang menjadi syubhat atas kebanyakan orang, maka menjadikan hadirnya dia (bersama ahlu bid’ah) sebuah kerusakkan yang lebih daripada sekedar mendengarkan kemungkaran.” (Fathul Qadir, Pada Ayat Ini)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إنّ من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

“Sesungguhnya sebagian dari tanda-tanda hari kiamat ialah dicarinya ilmu dari para ahli bid’ah.” (HR. Ibnu Mubarak, ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di silsilah ash-Shahiihah no. 695)

Berkata Ibnu Siriin Rahimahullah :

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesunguhnya, ini ilmu agama maka perhatikanlah oleh kalian dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqadimah Muslim dengan sanad shahih)

Berkata Abu Qilabah Rahimahullah :

لا تجالسوا أهل الأهواء ، ولا تجادلوهم ، فإني لا آمن أن يغمسوكم في الضلالة ، أو يلبسوا عليكم في الدين بعض ما لبس عليهم

“Janganlah kalian duduk bersama ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah –ed) dan janganlah mendebat mereka dikarenakan sesungguhnya aku tidak merasa aman mereka menanamkan kesesatan kepada kalian atau menyamarkan (merancukan –ed) kepada kalian perkara agama, sebagian perkara agama yang mereka samarkan.” (Asyari’ah Al-Ajuri : 56 dan Al-Ibanah Ibnu Bathah : 2/437)

Ismail bin Khorijah Rahimahullah menceritakan, beliau berkata :

دخل رجلان على محمد بن سيرين من أهل الأهواء ، فقالا : يا أبا بكر نحدثك بحديث ؟ قال : لا قالا : فنقرأ عليك آية من كتاب الله عز وجل ؟ قال : لا ، لتقومن عني أو لأقومن

“Dua orang dari ahlu ahwa’ (ahlu bid’ah) masuk menemui Muhammad bin Siriin mereka berdua berkata : “Wahai Abu Bakar, kami akan menyampaikan satu hadits kepadamu?” Berkata (Ibnu Siriin) : “Tidak.” Berkata lagi dua orang tersebut : “Kami akan membacakan satu ayat kepadamu dari Kitabullah (al-Qur’an) Azza wa Jalla?” Berkata (Ibnu Siriin) : “Tidak. Kalian pergi dariku atau aku yang pergi.” (Asyari’ah Al-Ajuri : 57 dan Al-Ibanah Ibnu Bathah : 2/446)

Berkata Al-Imam Al-Barbahari Rahimahullah:

فاحذر ثم احذر أهل زمانك خاصة وانظر من تجالس وممن تسمع ومن تصحب فإن الخلق كأنهم في ردة إلا من عصم الله منهم

“Berhati-hatilah dan berhati-hatilah kepada orang-orang yang hidup sezaman denganmu secara khusus, dan perhatikanlah siapa teman dudukmu, dan dari siapa engkau mendengar dan dengan siapa engkau berteman, dikarenakan manusia hampir saja menjadi murtad dari agamanya karena sebab teman bergaulnya kecuali orang yang Allah jaga.” (Syarh Sunnah Lilbarbahaarii, bersama Syarhnya Syaikh Shalih al-Fauzan : 345, Daarul ad-Dhiyaa’)

Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi ?tentang perkataan Imam Barbahari di atas :

في هذا تحذير لطالب العلم, وأنه لا ينبغي أن يجالس و لا يصاحب و لا يسمع إلا ممّن يثق بعلمه و عقيدته

“Pada kalimat ini terdapat peringatan untuk penuntut ilmu, bahwasanya tidak sepantasnya untuk duduk, dan tidak sepantasnya untuk berteman, dan tidak sepantasnya untuk mendengar kecuali kepada orang yang terpercaya ilmu dan aqidahnya.” (Irsyaadus Saarii fi Syarhis Sunnah Lilbarbahaarii, Syaikh Ahmad An-Najmi : 241, Darut Tauhid, Daa rul Minhaaj)

Itulah di antara sekilas penyimpangan Universitas Al-Iman Shan’a Yaman yang kami sebutkan secara ringkas. Di mana universitas ini didirikan di atas manhaj Ikhwanul Muslimin.

http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2012/02/05/universitas-al-iman-yaman-dalam-sorotan/#more-1043

0 komentar:

Poskan Komentar