Jumat, 15 Februari 2013

Agar Wanita Tidak Diperdaya

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Ishaq al-Atsariyah)

Wanita ikutan jadi kontestan pemilukada? Kampanye keliling ke mana-mana, tanpa malu-malu tampil di depan para lelaki dan posternya dipasang di mana-mana. Ah… sudah biasa, tidak aneh di zaman modern ini? Jangankan jadi kepala daerah, bupati, atau gubernur, jabatan presiden juga pernah diduduki oleh seorang wanita.

 Wanita keluar rumah tanpa menutup aurat, bercampur baur dengan para lelaki, kerja bersisian, tidak jarang berduaan. Apa yang diherankan…? Semuanya sudah dianggap lazim sebagai tuntutan zaman “kemajuan”.

 Belum lagi kontes ratu-ratuan yang menjadikan wanita sebagai objek pemuas mata lelaki, tidak terhitung macam ragamnya, mulai tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Berlomba-lomba putri-putri kita (baca: muslimah) yang jelita untuk ikut dalam ajang pamer kebagusan wanita tersebut. Kok ribut…? Itu kan biasa.

 Lalu, banggakah kita dengan pencapaian yang diperoleh wanita?

Terkagum-kagumkah kita dengan “kesuksesan” yang diraih kaum wanita?


Kemajuankah ini atau malah keterpurukan dan kehinaan?


Pernahkah kita menyadari bahwa segala upaya mengeluarkan wanita dari “istana”nya, dari hijab yang syar’i dan dari rasa malu adalah bagian dari makar jahat yang terselubung dari orang-orang kafir, dalam hal ini Yahudi dan Nasrani? Makar busuk terhadap Islam dan pemeluknya. Bagaimana bisa demikian? Allah Subhanahu wa ta’ala  telah memperingatkan,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha/senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Maha benar Allah Subhanahu wa ta’ala dengan firman-Nya. Betapa Yahudi dan Nasrani terus melancarkan permusuhannya kepada kaum muslimin dan berusaha menarik kaum muslimin sekuat-kuatnya agar mengikuti agama mereka.

Dilancarkanlah gerakan pemurtadan, mulai dari cara yang paling kasar sampai cara yang halus. Bila usaha permurtadan tidak berhasil, mereka tidak berputus asa.

Ditempuhlah upaya-upaya pendangkalan akidah dan akhlak generasi muslim.
Dilancarkan ghazwul fikri, perang pemikiran, di tengah kaum muslimin, bahwa mengikuti orang kafir adalah kemajuan, sementara tetap bertahan dengan aturan agama adalah kemunduran, kolot, dan terbelakang. Bila upaya-upaya “kriminal” yang mereka lakukan ini berhasil maka tidak perlu kaum muslimin keluar dari Islam lalu beragama dengan agama mereka. Cukuplah prestasi gemilang mereka raih manakala bermunculan individu-individu kaum muslimin yang kosong dari ruh Islam, tidak tersisa Islam kecuali sekadar nama, simbol, dan pengakuan. Hanya Allah Azza Wa Jalla saja yang dimintai pertolongan-Nya dalam menghadapi seluruh makar musuh-musuh-Nya….

Apabila sudah demikian keadaan kaum muslimin, maka ujung-ujungnya bisa saja terjadi tragedi seperti di Bosnia, pembantaian kaum muslimin yang sudah minder dengan agamanya. Ya Allah, kami mohon keselamatan dari kejahatan musuh agama-Mu!

Demikianlah ahlul batil dari kalangan orang-orang kafir ataupun orang-orang yang membebek kepada mereka, ingin selalu menyesatkan manusia dan memalingkan mereka dari agama Allah Subhanahu wa ta’ala. Bagi yang mau memerhatikan dan merenungkan keadaan kebanyakan kaum muslimin pada hari ini, maka ia akan melihat betapa mereka telah banyak berpaling dari aturan agama dan mengikuti yang selainnya.

Sungguh benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengabarkan,
لَتَتَّبِعَنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
“Sungguh, kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai andai orang sebelum kalian masuk ke lubang dhabb1 niscaya kalian akan ikut masuk. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah umat terdahulu itu Yahudi dan Nasrani? Rasul menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Sungguh Yahudi terus-menerus melakukan upaya untuk merusak kaum muslimin dalam hal akhlak dan akidah mereka. Orang-orang Yahudi punya ambisi terhadap negeri-negeri kaum muslimin dan selain mereka. Mereka mempunyai beragam makar yang sebagiannya sudah mereka capai dan terus-menerus mereka melakukan upaya dengan getol untuk mewujudkan rencana yang tersisa. Sebagaimana mereka memerangi kaum muslimin dengan kekuatan dan senjata serta menguasai sebagian tanah kaum muslimin, maka mereka juga memerangi kaum muslimin dalam pemikiran dan keyakinan. Karena itulah, mereka menyebarkan di tengah kaum muslimin kepercayaan, mazhab, dan aliran-aliran yang batil.” (Majalah al-Jami’ah al-Islamiyah, 59/1403 H)

Musuh-musuh Islam mencari cara untuk menyebarkan kerusakan di tengah masyarakat kaum muslimin, maka mereka dapati wanita sebagai alat paling ampuh untuk mendukung rencana pengrusakan mereka. Mereka mendapati; baiknya wanita merupakan kebaikan bagi masyarakatnya, dan sebaliknya rusaknya wanita berarti rusaknya masyarakat. (al-Mar’ah Baina Takrimil Islam wad Da’awat Tahrir, hlm. 18, al-’Uraini)

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Abdil Aziz bin Muhammad alusy Syaikh hafizhahullah, Menteri Urusan Keislaman, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Kerajaan Saudi Arabia, mengatakan, “Allah Subhanahu wa ta’ala memuliakan Bani Adam dengan beragam pemuliaan. Di antaranya yang paling agung adalah apa yang disyariatkan-Nya untuk mereka berupa permasalahan akidah/keyakinan dan hukum-hukum yang akan memperbaiki keadaan mereka, serta meluruskan mereka dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Di antara sejumlah pemuliaan tersebut adalah perkara yang berkaitan dengan wanita, yang syariat datang memberitahukan kadarnya, berlaku adil kepadanya, serta menjelaskan hak, kewajiban, dan tugas-tugasnya. Dan perkara ini telah sempurna lagi mencapai puncaknya dalam ajaran yang dibawa oleh manusia utusan Allah Subhanahu wa ta’ala, nabi dan kekasih-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Agama Islam telah demikian sempurna memberikan pemuliaan kepada wanita, menjelaskan hak-haknya dalam masalah harta, dan apa saja yang harus dilakukan agar wanita terjaga. Islam datang membawa syariat yang sesuai bagi masing-masing jenis (lelaki dan wanita) dan menyamakan antara keduanya dalam perkara yang memang harus sama sembari tetap memerhatikan perbedaan yang ada sesuai dengan hikmah yang dikandunginya.

Namun, ada saja orang-orang yang punya tujuan dan keinginan macam-macam. Mereka enggan kecuali keluar dari manhaj yang syar’i dan bersikap tidak peduli dengan adanya perbedaan antara lelaki dan wanita. Mereka ingin menceburkan wanita ke tempat kebinasaan dan berakibat buruk di dunia dan di akhirat.

Ajakan kepada wanita untuk menerjuni tempat-tempat tersebut dilakukan dengan propaganda yang lahiriahnya rahmat, kasih sayang, dan semangat untuk memberikan kebaikan kepada wanita dan terpenuhinya hak-hak mereka, di bawah tema/isu yang dapat menipu orang yang tidak memiliki pandangan lurus dan akal yang kokoh. Propaganda tersebut mencampuradukkan al-haq dengan al-batil, dan merupakan penyesatan terhadap umat. Sekali waktu dia datang atas nama “kebebasan wanita”, di waktu lain dengan bertajuk “keadilan terhadap wanita”. Kadang dimunculkan dengan slogan mengoptimalkan potensi wanita, demikian seterusnya.

Propaganda yang beragam dengan isu yang berbeda namun terangkum dalam satu tujuan, yaitu mengeluarkan wanita dari manhaj yang syar’i serta memperhadapkan wanita kepada kerendahan, kehinaan, dan fitnah.

Propaganda yang buruk ini telah sukses dijalankan di pelbagai belahan bumi, dan tidaklah asing bila propaganda semacam ini laris di masyarakat nonmuslim yang memang kaum wanita terinjak kehormatannya dan tidak beroleh banyak haknya2.

Yang aneh justru bila sebagian muslimah yang dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta’ala dan hikmah yang dibawa Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka bisa menikmati terpenuhinya hak-hak mereka serta keistimewaan lain yang dibawa oleh Islam sedangkan wanita-wanita lain di luar Islam tidak merasakan seperti yang dirasakannya, namun justru mereka ikut termakan dengan propaganda yang sepertinya manis namun merupakan racun tersebut, tanpa berpikir panjang akan munculnya kerusakan dan bahaya bila mereka memenuhi ajakan dusta itu.

Termasuk yang harus selalu ditekankan dan bersesuaian dengan pengalaman yang ada dalam sejarah kaum muslimin bahwa berpegang teguhnya wanita dengan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala, adab-adab Islam dan akhlak adalah jalan yang paling utama dan perantara yang paling sukses untuk memberikan faedah bagi wanita dalam membangun umat, memperbaikinya dan menguatkan peradabannya.

Di antara buktinya adalah apa yang direalisasikan oleh wanita yang berpegang dengan aturan agama di negeri Mamlakah al-Arabiyah as-Su’udiyah (KSA) berupa keberhasilan di bidang yang memang cocok dengan tabiatnya berupa pendidikan untuk anak-anaknya, mengurusi rumah suaminya, mengajari anak-anak perempuan, dan mengobati sesama perempuan. Hijab yang dikenakannya tidaklah mencegahnya dan menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan tersebut, bahkan hijab tersebut justru menjadi sebab terjaga dan terpeliharanya dirinya.

Adapun fitnah wanita yang terjadi di masyarakat kaum muslimin maka semua itu disebabkan sebagian wanita mereka dari tidak berpegang dengan apa yang disyariatkan oleh Islam serta akhlak dan adab wanita yang tercakup.

Saya berdoa untuk kaum muslimin dan muslimah agar mereka berpegang secara sempurna dengan agama Islam dalam seluruh sisinya dan mengambil pelajaran dari apa yang didapatkan oleh masyarakat-masyarakat yang menganggap lazim budaya tabarruj dan membuka wajah, serta memberikan keleluasan bagi wanita untuk terjun di lapangan-lapangan pekerjaan yang tidak cocok bagi dirinya dan tidak sesuai dengan tabiatnya.

Saya doakan pula agar kaum muslimin tidak tertipu dengan propaganda buruk yang disuarakan oleh para penyeru atas nama kebebasan kaum wanita. Saya pun mendoakan para penyeru itu agar mengoreksi diri mereka dan berhati-hati sehingga tidak menjadi sebab menyimpangnya umat, bahkan membantu musuh-musuh mereka untuk menghancurkan umat.

Saya doakan mereka agar mengingat hari perhitungan amalan di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan mereka. Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar mencegah kejelekan dan fitnah yang menyesatkan dari kaum muslimin, dan agar Allah Subhanahu wa ta’ala memenangkan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan agar Allah Subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepada para pemimpin kaum muslimin untuk berhukum dengan syariat-Nya serta berpegang teguh dengan agama-Nya.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kebaikan kepada pemerintah kita, agar menambahkan petunjuk, iman, dan taufik kepada mereka, dan semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menolong agama-Nya dengan mereka.” (Mukadimah kitab al-Mar’ah Baina Takrimil Islam wad Da’awat Tahrir, hlm. 5—11, al-‘Uraini, secara ringkas)

Ada ucapan dan peringatan yang sangat bagus al-Faruq Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah rahimahullah dalam Mushannafnya (7/113). Umar radhiallahu ‘anhu berkata,
إِناَّ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلَامِ، فَلَنْ نَبْتَغِيَ الْعِزَّ بِغَيْرِهِ
“Kita adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.”

Oleh karena itu, apabila kaum wanita ingin beroleh kemuliaan, berpeganglah dengan Islam. Jangan menoleh sedikit pun pada seruan-seruan yang menyimpang dari aturan agama kita. Sebab, semua itu akan berakhir dengan kesengsaraan di dunia lebih-lebih lagi di akhirat kelak.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

0 komentar:

Posting Komentar