Tampilkan postingan dengan label Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Agustus 2013

[Audio + Transkrip] Nasehat & Sikap Terhadap Kerusuhan Kaum Muslimin di Mesir

Nasehat Oleh : Ustadz Abu Mu’awiyah Askari hafizhahulloh
(Nasehat ini beliau sampaikan Ba’da Dars AdabulMufrod)
10 Syawal 1434 h / 17 agustus 2013
(Ba’da Magrib – Isya’)

Download

 

Tanya:

 
Assalamu’alaikum.. Ustadz hafizhahullahu mohon nasehatnya sebagai seorang muslim menyikapi kasus Mesir, jazakallahu khaer.

 

Jawab:

Dan ada sebagian ikhwan meminta untuk menjelaskan tentang sikap kita dan sikap para ulama dalam menyikapi situasi yang terjadi di Mesir. Demikian pula di negara-negara islam yang lainnya, di Tunisia, di Suriah. Sebagaimana yang kita dengarkan, ada yang mungkin mendengarkan lebih detail dari yang lainnya. Walhasil, ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, ini pelajaran. Pelajaran bagi kita, pentingnya mempelajari sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Pentingnya seseorang untuk diarahkan dengan Al Qur’an wa sunnah.

Kita berjalan di atas Al Qur’an dan sunnah dimana Al Qur’an dan sunnah itu membimbing kita, mengarahkan kita.

Tidak terbimbing dengan Al Qur’an wa sunnah, itu menyebabkan kerusakan. Terkhusus dalam perkara-perkara yang besar. Yang kaitannya dengan kekuasaan, yang kaitannya dengan memelihara rasa aman di sebuah negeri. Ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, apa yang kita dengarkan dari kejadian yang terjadi pada hari-hari ini, terkhusus yang terjadi di Mesir, setelah dilengserkannya Muhammad Mursi, doktor Muhammad Mursi. Dan dia adalah seorang presiden yang berasal dari Al Ikhwanul Muslimun sebelumnya. Yang dipilih melalui proses pemilu demokrasi. Yang bertahan kurang lebih setahun lamanya dia memerintah, lalu kemudian dilengserkan.

Mereka pun berselisih apakah itu disebut kudeta, atau bukan kudeta. Yang jelas ini bagian dari انقلاب, mengkudeta, melengserkan penguasa yang sah sebelumnya kemudian diganti dengan penguasa yang lainnya dengan kekuatan militer. Lalu kemudian dari pihak al ikhwanul muslimun, yang mereka tidak menyetujui dilengserkannya presiden mereka dari kalangan al ikhwanul muslimun, maka mereka membalasnya dengan مظاهرة dengan demonstrasi-demonstrasi. Dan berhari-hari, sehingga menjatuhkan sekian banyak korban. Demonstrasi yang anarkis, bahkan berani untuk melawan kekuatan militer. Sehingga menyebabkan korban yang demikian banyak.

Berbeda penukilan mereka tentang jumlah korban. Ada yang menyebutkan sampai 500 lebih yang tewas. Dari pihak Al Ikhwanul Muslimun, mereka mengklaim bahwa yang korban sudah lebih. Ketika awal-awal terjadinya pembantaian itu lebih 2000. Kemudian puluhan ribu yang lainnya banyak yang terluka. Luka parah, luka ringan, laki-laki, wanita banyak yang menjadi korban. Ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, apa yang menyebabkan ini semua terjadi? Disebabkan karena kejahilan. Hanya sekedar bermodalkan semangat. Dengan alasan semangat membela islam, namun tidak memperhatikan dampaknya. Dampak negatif yang akan menimpa mereka.

Tentu ini merupakan hal yang sangat menyedihkan. Ditambah lagi munculnya da’i-da’i baik dari kalangan Ikhwanul Muslimin, atau mereka yang mengaku sebagai salafy, mengaku sebagai ahlussunnah, atau mengaku memiliki partai salafy dari Hizbun Nur, dan yang lainnya. Yang mendukung sikap-sikap Ikhwanul Muslimin yang terus melakukan desakan-desakan terhadap pemerintah Mesir yang sekarang ini dikuasai oleh militer. Sehingga menimbulkan pertumpahan darah yang subhanallah, sangat disayangkan. Yang sangat disayangkan. Dan lebih disayangkan lagi sebagian mereka dari kalangan da’i-da’i yang dianggap sebagai ulamanya mereka. Haraqiyin, dan mereka الحزبيون المتستائر مع السلف memakai pakaian salaf namun mereka hizbiyyun.

Yang memfatwakan dengan fatwa yang bathil, dengan fatwa yang bathil. Yang terus mengompori mereka, memberi semangat untuk terus melakukan tuntutan pembebasan terhadap Mursi. Yang akhirnya menimbulkan kerusakan yang luar biasa, Allahul musta’an. Seperti Abdurrahman Abdul Khaliq, yang dikenal sebagai salah seorang mufti Ihya Atturots, yang dia mengatakan kepada rakyat Mesir yang melakukan demonstrasi tersebut. (Yang artinya kurang lebih-red)

“Kalaulah seandainya kalian mempersembahkan satu juta jiwa yang mati syahid, untuk kalian menegakkan kebenaran. Itu bukanlah suatu hal yang berlebihan.”, atau yang semisal yang dia sebutkan.

Satu juta? Lalu diikuti oleh hizybiyyun yang lainnya Nabil Al Awadi, itu juga dari kalangan Ihya Atturots, Al Qoshosh, dan yang semisal mereka, Muhammad Hasan dari kalangan Hizbun Nur. Mereka ini ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, merusak. Pada hakikatnya mereka tidak jauh dari Al Ikhwanul Muslimun. Hanya mereka mengaku sebagai salafy, berpakaian salafy, namun dakhwah salafiyah berlepas diri dari mereka. Dan dari apa yang mereka katakan. Mana dalilnya? Mana hujjah dari kitabullah, dari sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa’alaalihi wasallam? Terhadap apa yang mereka ucapkan. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, kata nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh hilangnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” (Shahîh. HR an-Nasâ`i VII/82, dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi no. 1395. Hadits ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan an-Nasâ`i dan lihat Ghâyatul- Marâm fî Takhrîj Ahâdîtsil-Halâl wal-Harâm no. 439)

Seorang muslim, ma’asyaral ikhwah rahimakumullah yang disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, ataubukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya”. (QS Al Maidah 32)

Bukan suatu hal yang ringan, ini subhanallah membiarkan. Menganggap bahwa itu adalah mempersembahkan para syuhada. Ada sebagian lagi mereka memfatwakan jihad…jihad, jihad di Suriah,  jihad di Mesir. Dianya melancong kemana-mana, melancong ke Inggris, melancong di hotel-hotel yang mewah. Kalau itu jihad, mestinya kamu yang turun, berada di garis yang terdepan, lawan itu militer. Tapi hanya berfatwa di tempat yang jauh untuk mengorbankan rakyat, Allahul musta’an. Kalau seandainya mereka kembali kepada sunnah rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah ‘alaihi shallatu wasallam dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyllahu ‘anhu, datang dari hadits Ibnu Mas’ud muttafaqun ‘alaihi, kata nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّهَا سَتَكُوْنُ بَعْدِيْ أَثَرَةٌ وَأُمُوْرٌ تُنْكِرُوْنَهَا. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ فَمَا تَاْمُرُنَا؟ قَالَ: تُؤَدُّوْنَ الْحَقَّ الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الَّذِيْ لَكُمْ

“Sesungguhnya akan terjadi setelahku para pemimpin yang mementingkan diri mereka (tidak memberikan hak kepada orang yang berhak) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka mengatakan, “Wahai Rasullullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Berikan hak mereka yang menjadi kewajiban kalian dan mintalah kepada Allah hak kalian.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim).

Ishbiru, bersabarlah kalian. Dalam riwayat Al Imam Muslim dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ta’ala ‘anhu kata nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
 

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. (قَالَ حُذَيْفَةُ): كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ

“Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku, tidak menjalani sunnahku, dan akan berada pada mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati-hati setan yang berada dalam jasad manusia.” (Hudzaifah berkata), “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku menemui mereka?” Beliau menjawab, “Engkau dengar dan engkau taati walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (Sahih, HR. Muslim)

Menunjukkan akan munculnya penguasa-penguasa yang dzalim, yang fajir, yang mengambil harta rakyat tanpa hak. Apakah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kepada kaum muslimin untuk menuntut haknya? Apakah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kepada kaum muslimin untuk terus menuntut? melakukan demonstrasi? keluar ke jalan-jalan? Yang akhirnya menghilangkan rasa aman di negeri tersebut? Dan rasa aman itu adalah merupakan bagian dari kenikmatan yang Allah subhanahu wata’ala berikan. Nabiyullah Ibrahim ‘alaihi sallam berdoa kepada Allah:
 

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (QS Al Baqarah 126)

Nabiyullah Ibrahim mendahulukan berdo’a kepada Allah untuk memohon keamanan sebelum memohon rezeki. Rasa aman itu lebih penting. Bagaimana mungkin seorang akan merasakan hidup tentram, meskipun mereka mendapatkan rezeki yang melimpah namun tidak ada rasa aman dalam negeri mereka.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS An-Nûr 55)

Rasa aman itu nikmat yang besar yang Allah subhanahu wata’ala berikan. Namun mereka menghilangkan rasa aman tersebut di negeri mereka sendiri. Kalau seandanya mereka mentaati perintah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk tinggal di rumah. Kata nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

سَتَكُوْنَ فِتَنٌ القاعِدُ فِيْها خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ والقائمُ فيها خيرٌ من المَاشِي والماشِي فيها خير من السَّاعِي. مَنْ تَشَرَّفَ لَها تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذاً فَلْيَعِذْ بِهِ

“Kelak akan ada banyak kekacauan dimana di dalamnya orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berusaha (dalam fitnah). Siapa yang menghadapi kekacauan tersebut maka hendaknya dia menghindarinya dan siapa yang mendapati tempat kembali atau tempat berlindung darinya maka hendaknya dia berlindung.” (HR. Al-Bukhari no. 3601 dan Muslim no. 2886)

Jadi semakin seorang menghindarkan diri dari fitnah, tinggal di rumah, itu jauh lebih baik daripada mengikuti fitnah, keluar, demonstrasi. Yang sama sekali ini bukan bagian dari tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sekarang Muhammad Mursi sudah dilengserkan, tidak punya kekuasaan. Yang berkuasa dari kalangan militer yang dipimpin oleh jendral As Sisi. Sekarang dia yang berkuasa, dan dia punya kekuatan. Didukung oleh militer. Mau apa kita sebagai rakyat? Mau apa kita sebagai rakyat? 

Kata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala dalam fathul baari:
Pafa fuqaha sepakat, wajibnya taat pada penguasa yang mengkudeta
Wajib taat kepadanya, berjihad bersamanya dan taat kepadanya itu lebih baik daripada melakukan pemberontakan atasnya.

Sebab dengan taat kepadanya itu akan menahan, tidak tertumpahkannya darah-darah kaum muslimin. Dan akan menenangkan kondisi yang terjadi di negeri tersebut. 

Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala beliau mengatakan:
Tidak diketahui sama sekali dalam sejarah, apabila ada sekelompok orang mereka melakukan pemberontakan kepada penguasa, melainkan dalam pemberontakan itu akan menimbulkan kerusakan yang kerusakan ini jauh lebih besar daripada kerusakan yang mereka harapkan untuk mereka hilangkan.

Penguasa dzolim, penguasa dzolim, berbuat dzolim, berbuat fajir, tidak taat kepada Allah subhanahu wata’ala dengan berbagai macam kerusakannya itu lebih baik daripada melakukan pemberontakan atasnya. Kerusakannya akan jauh lebih besar. Kalau sudah hilang keamanan, apa yang terjadi? Mendengarkan jiwa-jiwa kaum muslimin tertumpahkan. Pertempuran yang tidak bisa dihindarkan antara kaum muslimin itu sendiri, antara kaum muslimin itu sendiri. Kemudian pemerkosaan, terang terangan, perampokan, pencurian, berbagai macam kerusakan. Tidak ada rasa aman, seorang seenaknya mengambil harta orang lain. Ini yang terjadi apabila tidak ada penguasa yang mengatur mereka.

Maka ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, yang wajib bagi kaum muslimin kembali kepada sunnah rasul shallallahu ‘alaihi wa’alaalihi wasallam. Yang sangat disayangkan, ada sebagian mereka itu dari kalangan hizbiyyun, itu memfatwakan bahwa sekarang peperangan di Mesir antara islam dan kekafiran. Yang dimaksud kekafiran yakni penguasa dengan militernya. Maksudnya mereka semua murtad. Penguasa dengan militernya seluruhnya murtad, jadi mereka sedang memerangi orang-orang yang murtad. Jadi mereka mengkafirkan, takfiriyun khawarij. Mereka mengkafirkan pemerintah Mesir secara umum. Ini dari kalangan khawarij. Bahkan sebagian mereka mengatakan bahwa memerangi pemerintah Mesir itu lebih utama daripada memerangi Yahudi dan Nashara.

Karena memarangi Yahudi dan Nashara, Yahudi dan Nashara bagian dari ahlul kitab. Adapun mereka murtad, murtad lebih parah dari ahlul kitab. Coba lihat, syubhat. Lalu kemudian setiap hari kita mendengarkan sungguh sangat menyedihkan tertumpahkannya darah kaum muslimin. Oleh karena itu para ulama, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, mufti kerajaan Arab Saudi, demikian pula Shaleh Al Haidan, Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahumullahu ta’ala. Mereka semua menasehatkan agar hendaknya rakyat Mesir menahan diri. Menahan diri, jangan keluar, jangan melakukan demnstrasi. Mereka yang menjadi sebab tertumpahkannya darah-darah tersebut. Maka hendaknya mereka menahan diri, berdialog dengan cara yang baik untuk menemukan titik temu. Menghindari yang namanya pertumpahan darah.

Maka ini solusi yang terbaik, adapun membiarkan mereka terus keluar hingga setiap hari tertumpahkannya darah. Dari pihak militerpun mereka merasa didesak. Mereka merasa didesak dan mereka merasa mereka ini melakukan perlawanan kepada mereka. Akhirnya terjadilah bentrokan. Maka tertumpahkan darah-darah yang itu terjadi diantara kaum muslimin. Allahul musta’an, semoga Allah subhanahu wata’ala memelihara kita dari berbagai macam fitnah. Fitnah yang dhohiroh, fitnah yang bathinah, semoga Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada kita, kepada sunnah rasul shallallahu ‘alaihi wa’alaalihi wasallam.”

http://www.darussalaf.or.id/audio-tasjilat/nasehat-sikap-terhadap-kerusuhan-kaum-muslimin-di-mesir/ 


Sabtu, 17 Agustus 2013

Korban Kedengkian Liberalisme dan Sikap Ekstrim Ikhwani

Sesungguhnya konflik yang terjadi di “Bumi Kinanah” (Mesir) pada hari-hari yang panas ini, merupakan tragedi memilukan dan musibah yang sangat besar. Dahi berkeringat dan hati kaum mukminin hancur karenanya. Ini merupakan buah dari kebusukan politik dan fanatisme kelompok yang sangat ekstrim. Akibatnya mengenai orang-orang tak bersalah. Mereka itu terseret dalam arus konflik yang memang sengaja terus diletupkan oleh musuh-musuh kita (orang-orang kafir). Yaitu tatkala mereka (orang-orang kafir) menjejalkan dan mendoktrinkan paham bahwa hukum itu adalah milik rakyat (demokrasi). Maka bangkitlah rakyat (terprovokasi) untuk saling memukul dan saling membunuh. Padalah Allah Jalla Jalaluhu berfirman, Tidak ada hukum kecuali milik Allah.” (Al-An’am: 57) 

Salah satu media orang-orang liberalis – yang sangat dengki terhadap Islam dan kaum muslimin – mengklaim bahwa rakyat Mesir fitrahnya adalah penganut liberalisme!! “Sungguh besar kata-kata yang keluar dari mulut mereka, tidaklah mereka mengatakan kecuali kedustaan.” (Al-Kahfi : 5) 

Demikianlah, makar dan tipu daya terus mereka lancarkan siang dan malam melalui berbagai mass media, yang menjadi corong kebatilan-kebatilan mereka dan menjadi mimbar kemungkaran mereka. Memprovokasi (rakyat) agar bertindak anarkhis dan melepaskan diri dari keterikatan dengan hukum-hukum syari’at. Mereka menampakkan permusuhannya terhadap syari’at Islam untuk membuat gentar dan takut rakyat.

Sebaliknya, pihak yang berlawanan dengan liberalis adalah para hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin (IM) dan orang-orang yang berjalan di atas cara mereka. Menempuh manhaj IM, yaitu berkecimpung dalam urusan politik, sebaliknya berpaling dari dakwah tauhid dan enggan mentarbiyah umat agar mau melaksanakan konsekuensi-konsekuensi tauhid. Padahal itulah manhaj nabawi dalam melakukan tarbiyah dan perbaikan. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, Inilah jalanku (yaitu) aku menyeru (berdakwah) mengajak kepada (agama) Allah di atas bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku.” (Yusuf: 108), Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Jadikanlah yang awal kamu dakwahkan kepada mereka adalah syadat lailaaha illallah. “ dalam riwayat lain dengan lafazh, “… yang awal kamu dakwahkan adalah agar mereka mentauhidkan Allah.” 

Jadi Tauhid adalah asas dan prioritas utama dakwah ke Jalan Allah, sekaligus merupakan tonggak utama perbaikan.
           
Maka akibat dari liberalisme dan manhaj Ikhwanul Muslimin (IM) ini adalah ditumpahkan darah orang-orang yang terjaga (haram) untuk dibunuh, yang diharamkan oleh Allah Jalla wa ‘Ala (untuk dibunuh) kecuali dengan haq (alasan yang dibenarkan dalam syari’at-Nya), berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali dengan al-haq.” (al-An’am: 151), juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seseorang akan terus berada dalam kelapangan pada agamanya selama dia tidak menumpahkan darah yang haram.” Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Usamah bin Zaid, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Lailaaha illallah?!”  dan sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan betapa besar dosa menumpahkan dan mengalir darah jiwa yang dilindungi/dijaga dalam syari’at.

Namun kapankah mereka akan bisa memahami hakekat syar’i ini? dan kapan mereka maun menghentikan perbuatan-perbuatannya dengan adanya dalil-dalil seperti di atas, baik dari al-Qur`an maupun dari sabda-sabda Nabi yang melarang perbuatan tersebut, dan menjelaskan tentang ancaman keras bagi barangsiapa yang berani melakukannya?

Maka sekarang ini, bagi barangsiapa yang tercebur dalam fitnah (Mesir) ini dan ikut terlibat dalam konflik politik yang sedang terjadi, hendaknya mereka takut kepada Allah, ketika mereka berani mempermainkan jiwa-jiwa penduduk Mesir  yang tak berdosa, dengan dijerumuskan kepada resiko yang sangat pahit ini dan dijadikan sebagai alat politik untuk kepentingan slogan-slogan hizbiyyah! [1]

Maka kepada setiap orang yang terlibat dalam menggerakkan/memprovokasi dalam fitnah ini dengan berbagai cara dan sarana, wajib atas mereka untuk menahan penanya, mendiamkan lisannya, dan menghentikan gangungan dan kejelekannya.

Dan kepada kaum muslimin secara umum, yang terlibat dalam permulaan konflik ini – baik mereka yang masuk arus secara langsung maupun dari jarak jauh – maka hendaknya mereka menetapi (tetap tinggal) di rumah masing-masing, menjaga anak-anaknya, dan menengadahkan tangan-tangan mereka berdoa kepada Rabb-nya memohon dengan sangat rendah diri kepada-Nya agar Dia menghentikan musibah ini dan melindungi darah-darah kaum muslimin.

Ditulis oleh
Abu ‘Abdillah Azhar Sunaiqarah
Pengasuh (Musyrif) umum Forum at-Tashfiyah wa at-Tarbiyah as-Salafiyah (www.tasfiatarbia.org )
8 Syawwal 1434 H /15 Agustus 2013 M

[1]  Yakni para tokoh dan elit politik pergerakan Islam – yang disebut-sebut sebagai ‘ulama pergerakan – terus memberikan semangat kepada rakyat untuk menuntut dan berdemo serta turun ke jalan-jalan menuntut kembali “pemerintah Islam” yang dilengserkan oleh pihak militer. Di antaranya apa yang disebarkan melalui twiter/FB dll, dikatakan oleh ‘Abdurrahman ‘AbdulKhaliq (demikian tertulis), “Wahai penduduk mesir, sungguh kalau kalian mempersembahkan sejuta syahid untuk menuntut keinginan kalian dan menegakkan keadilan, maka itu masih bukanlah sesuatu yang banyak. (yaitu masih sedikit).” (8/13/13 12:20 AM) Demikian mereka menganggap berbagai aksi mereka sebagai jihad, dan orang-orang yang terbunuh dalam aksi tersebut sebagai syuhada’, dalam rangka menarik simpati rakyat, karena dianggap ini sebagai perjuangan Islam.

Padahal sama sekali bukan. Ini semata-mata perjuangan hizbiyyah (semangat kekelompokan). Sungguh “para tokoh” atau “para ‘ulama” tersebut tidak menyayangi jiwa-jiwa kaum muslimin. Di antaranya adalah yang dinyatakan oleh Muhammad Hassan, “turunlah kalian ke lapangan, jangan kalian biarkan saudara saudara kalian dibantai”

Namun sangat disesalkan, Muhammad Hasan ini – bersama Husain Ya’qub – justru dielu-elukan dan disebut sebagai dua tokoh ‘ulama salafy!! Maka sungguh ini adalah suatu kedustaan!!

Demikian juga Dr. Ahmad khalil khairull yang menolak seruan pembubaran para demonstran damai pendukung Presiden Mursi dan penolak kudeta, dia disebut sebagai anggota lembaga tinggi Partai Salafi Hizbunnur Mesir.

Subhanallah, bagaimana mereka menampilkan baju salafiyyah padahal dakwah salafiyyah berlepas diri dari mereka!!

sumber : http://dammajhabibah.net/2013/08/17/korban-kedengkian-liberalisme-dan-sikap-ekstrim-ikhwani/ 

 

Hakekat Konflik Yang Terjadi di Mesir

HAKEKAT KONFLIK YANG TERJADI DI MESIR

asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

 

Muqaddimah
Banyak kalangan yang prihatin dengan kondisi di Mesir. Karena mereka melihat bahwa Presiden Muhammad Mursi, yang berasal dari partai yang berlabelkan Islam dan disebut-sebut sebagai tokoh yang memperjuangkan Islam, ternyata dikudeta oleh pihak militer. Tentu saja pembahasan tentang sebab-sebab dan alasan kudeta tersebut merupakan pembahasan rumit dan sangat terkait dengan situasi politik dalam negeri Mesir.

Namun terlepas dari itu, kita perlu tahu siapa sebenarnya Muhammad Mursi ini? Apakah benar dia seorang tokoh yang memang hendak memperjuangkan Islam? Benarkah berbagai aksi demo pembelaan terhadap Mursi ini berarti pembelaan terhadap Islam? Dan apakah benar dengan dilengserkannya Mursi berarti dilengserkannya Islam?

Seorang muslim dituntut untuk bersikap berdasarkan ilmu, yaitu ilmu yang benar berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah dengan manhaj salaful ummah. Sehingga segala sikap dan peniliannya berdasarkan prinsip tersebut. Bukan semata-mata karena emosi, semangat, perasaan, atau “yang penting Islam.”

Maka perlu kita mendengar bagaimana penjelasan para ‘ulama ahlus sunnah dalam masalah ini. Yaitu ‘ulama yang benar-benar berjalan di atas al-Kitab dan as-Sunnah dengan manhaj salaful ummah.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mari kita ikuti penjelasan salah seorang ‘ulama ahlus sunnah dari Madinah asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah. Beliau dikenal sebagai ‘ulama yang banyak mengetahui seluk-beluk ‘pergerakan-pergerakan Islam’. Kami terjemahkan penjelasan beliau ini dengan terjemahan bebas dan dengan sedikit diringkas. Juga kami lengkapi dengan catatan kaki pada beberapa kalimat yang membutuhkan penjelasan, untuk membantu pembaca memahaminya. Semoga bisa memberikan pencerahan kepada kita semua.
_____________

Pertanyaan : Ada sebagian pihak yang mengatakan, bahwa keberhasilan Ikhwanul Muslimin (IM) mencapai tampuk kepemimpinan [1] adalah seperti kemenangan kaum muslimin dalam perang Badr, dan tatkala IM lengser adalah seperti kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud. Sebagian pihak lagi mengatakan, bahwa ini adalah perang antara Islam lawan kekufuran. 

Jawab : Kejadian (di Mesir) ini kami dengar sebagaimana anda mendengarnya. Namun berapa dari hukum (syari’at) Islam yang mereka (IM) terapkan? Sungguh demi Allah,

Pertama: Aku sebelum ini justru berangan-angan kalau IM (di Mesir) bisa menjalankan kekuasaannya selama 4 tahun! Dengan itu tidak ada lagi alasan sama sekali setelahnya. Yakni agar semua pihak menyaksikan apa yang mereka terapkan dari hukum-hukum Islam ini. [2]

Kedua: Perintah Allah yang pasti terlaksana dan kehendak-Nya pasti mengalahkan (segala kehendak makluk). Tidak ada yang bisa menolak keputusan dan hukum-Nya. Subhanahu wa Ta’ala. [3]

Ketiga: IM telah menjalankan kekuasaannya selama 1 tahun di mesir. Lihat apa yang mereka perbuat? [4]

Keempat: ____ (suara terputus) nashrani

Kelima: Sebelum memegang kekuasaan, sudah mengatakan bahwa hukum potong tangan dan hukum cambuk bukan bagian dari syari’at Islam! Itu hanyalah perkara ijtihadiyah!! Pernyataan ini ada dan terekam. Ini dinyatakan sebelum menang dalam pemilu. … maka bagaimana bisa kemenangan IM ini diserupakan dengan kemenangan pada perang Badr?

Kesimpulannya, mereka itu adalah para penyeru demokrasi sejak awal.

Bahkan aku sendiri mendengar dia mengatakan, bahwa hukum itu adalah milik rakyat, bersumber dari rakyat juga, bukan (milik /dari) Allah.

Di mana itu ayat
{إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاه} [يوسف: 40]
“Tidak ada hukum kecuali milik Allah. Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya.” (Yusuf : 40) Yang mereka selama ini  menghujat kita (ahlus sunnah) [5], dan mereka mengkafirkan kaum muslimin karena tidak menerapkan ayat ini dalam penilaian mereka. [6]

Keenam: Jalan (cara) yang kalian buat (untuk bisa naik ke kursi kekuasaan), maka kalian terjatuh melalui jalan (cara) itu pula. Jalan (cara) yang kalian buat (untuk bisa naik ke kursi) adalah kalian menuntut/menyuarakan pembebasan (negeri Mesir), yang di antaranya sampai Yusuf al-Qaradhawi datang dan menyerukan itu di mimbar Jum’at! Dengan itu kalian (IM) berhasil naik ke kursi.  Maka sekarang pun kalian (IM) jatuh dengan cara yang sama, yaitu adanya tuntutan pembebasan (negeri Mesir) dari rakyat.

Ketujuh: Mereka sendiri menyatakan, bahwa kebebasan rakyat tidak boleh dibatasi. Sementara demo yang terjadi sekarang merupakan tuntutan kebebasan rakyat. Dalam undang-undang dinyatakan rakyat tidak boleh dibatasi kebebasannya. Maka mereka bebas menyatakan kemauannya. Kalian (IM) menuntut keinginan kalian. Namun kini mereka berhasil mengalahkan kalian. Maka, bukankah “hukum adalah milik rakyat”.?!

Kedelapan: Sebagaimana dikatakan dalam sebuah bait syair,
أعلمه الرماية كل يوم … فلما اشتد ساعده رماني
وكم علمتُه نظم القوافي … فلما قال قافية هجاني
“Aku ajari dia memanah setiap hari, namun ketika dia kuat tangannya dan sudah mahir memanah justru dia (balik) memanahku.
Sudah berapa banyak aku mengajarinya (cara) pembuatan syair, namun ketika dia telah bersyair, justru dia  menghujatku (dengan syair itu)” 

(Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi melanjutkan): Sejak awal aku sudah katakan, bahwa IM akan meneguk dari gelas yang darinya Husni Mubaraki meneguk, bahkan lebih jelek lagi. [7]
رَأَيْتَ بَنِي الدُّنْيَا إِذَا مَا سَمَوْا بِهَا … هَوَتْ بِهِمُ الدُّنْيَا عَلَى قَدْرِ مَا سَمَوْا
Engkau lihat ahli dunia ketika dia berhasil tinggi (popular, terkenal, kaya, dll) dengan dunianya,
Maka dunia itu akan membuat dia terpelanting sesuai dengan ketinggian yang ia raih

Mereka menghendaki sesuatu, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala
{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُور} [غافر: 19]
“mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”  (Ghafir : 19)

Kesembilan: Pemerintahan-pemerintahan yang ada ini – kata mereka (IM) – semuanya  adalah antek-antek Amerika, Yahudi, dan Israel. Namun anehnya, begitu memegang tampuk kekuasaan, IM langsung memperbaruhi dan menguatkan perjanjian persahabatan dan kerjasama dengan Yahudi!! Amerika-lah yang sejak awal menekan mereka. Maka tidaklah Mursi naik ke kursi kekuasaan kecuali setelah Amerika yakin bahwa pemerintahan Mursi tidak akan mengubah perjanjian damai dengan Israel!! Bagaimana pemerintahan-pemerintahan yang ada dinyatakan kafir, sementara yang memperbaruhi perjanjian tidak kafir?! Kami tidak mengkafirkan, (Ini berdasarkan kaedah mereka sendiri). Bagaimana Husni Mubarak, Anwar Sadat dinyatakan kafir karena mereka berdamai dengan Yahudi. Sementara yang memperbaruhi, mengokohkan dan memprogandakan perjanjian tersebut tidak dinyatakan kafir?

Partai sekuler di Turki tidak membuat perjanjian dengan Yahudi. Namun ketika Najmudin Erbankan (IM) naik, malah membuat perjanjian persekutuan militer dengan Yahudi!! Dan masih terus berlaku! Ketika pemerintahan IM berhasil digulingkan, maka perjanjian persekutuan militer tersebut langsung dihentikan.

Wahai saudaraku…
Aku tahu, sebenarnya sebagian saudara-saudara kita tidak suka dengan pembicaraan seperti ini. Karena ini membuka kejelekan-kejelekan. Padahal IM sebenarnya sudah sangat jelas berbagai penyimpangannya. Namun banyak dari umat ini yang lalai, seakan mereka tidak mengikutinya sebagaimana kami mengikutinya. Maka janganlah menyikapinya berdasarkan perasaan semata. Mungkin mereka menyaksikan itu semua (pernyimpangan-penyimpangan IM), namun mereka lupa. Maka umat ini perlu adanya orang-orang (para da’i) yang mengingatkan penyimpangan-penyimpangan yang muncul dari IM.

Sepuluh: Selalu meneriakkan “hukum, hukum, hukum”. Namun tatkala memegang tampuk, apa yang mereka (IM) perbuat? Apakah mereka melakukan perubahan. Apakah hukum Islam menjadi satu-satunya sumber hukum? Tidak!

Tatkala IM “berhasil” di Tunisia, apa yang terjadi? “Hilangkan Islam sebagai sumber hukum”. Islam tahakkum tidak ada pada mereka. Yang ada pada mereka adalah Islam hukum.

Tahukah kalian apa itu Islam hukum? Apa bedanya dengan Islam tahakkum?

Sebenarnya hukum yang mereka maukan adalah bahwa Ikhwanul Muslimin-lah yang meletakkan hukum (kebijakan).[8]

Sementara tahakkum adalah diterapkannya Islam. Maka Islam apakah yang mereka terapkan? Sama sekali mereka tidak menerapkan Islam!! Sampai-sampai seorang perempuan kafir heran terhadap mereka (IM). Karena memang mereka seolah mengangkat syiar Islam. Padahal mereka sama sekali tidak menerapkan Islam. Namun mereka memperjuangkan Islam hukum. Apa itu? Yaitu mengejar kursi!
Oleh karena itu, ketika terjadi konflik ini, salah seorang di antara mereka mengatakan, “Jatuhnya Mursi ini sebanding dengan Kesyirikan kepada Allah!” ya, dengan lafazh ini.
Wahai saudara-saudaraku,
Sekarang kalian tahu apa itu Islam hukum dan Islam tahakkum. Islam tahakkum adalah penerepan Islam secara hakiki, ini tidak mereka maukan. Karena ini berarti ‘menzhalimi kebebasan manusia’. Oleh karena ini, di Tunisia kedai-kedai minuman keras dan bar semakin menjamur!! Sampai-sampai seorang wanita kafir spanyol terheran-terheran dengan fenomena tersebut!
Adapun Islam hukum, adalah IM sampai ke kursi!! Sehingga merekapun berjuang mewujudkan Islam hukum, bukan Islam tahakkum.
Demi Allah, kalau sampai mereka memerintah kalian di negeri ini niscaya kalian melihat pemandangan yang lebih jelek dari sekarang. Aku memohon kepada Allah agar tidak mendatangkan orang-orang seperti mereka menguasai negeri ini!  Na’udzubillah min dzalik. Janganlah kalian tertipu dengan mereka (IM). Wajib atas kita semua untuk bahu membahu saling bergandengan tangan dengan pemerintah dan para ‘ulama ahlus sunnah yang ada. …
Semoga Allah menjauhkan dari kita berbagai fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi.
* * *
Kaum wanita tidak boleh masuk dalam urusan seperti ini. “Ada seorang wanita yang terbunuh di Iskandariyah, maka kaum wanita terpaksa keluar berdemo”, katanya. Ini tidak boleh. Jika ada orang-orang yang dizhalim terbunuh, maka Allah yang akan membela mereka. Adapun kalian kaum wanita ikut-ikutan berdemo, maka ini sesuatu yang bukan urusan/tugas kalian.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman kepada para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  – maka lebih-lebih wanita yang di bawah mereka kemuliaan dan keutamaannya – “Tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dengan cara berhias jahiliyah dulu.”

Seorang wanita itu aurat, apabila dia keluar maka akan diintai oleh syaithan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka bagaimana wanita keluar untuk sesuatu yang bukan urusannya, dan justru malah meninggalkan urusan (tugas/kewajiban)nya, yaitu urusan rumahnya, anak-anaknya, suaminya.
* * *
Namun Ikhwanul Muslimin tidak mengerti ini semua. Karena mereka tidak tahu kecuali “Islam hukum“, adapun “Islam tahakkum” maka mereka tidak mengakuinya, mereka mengingkarinya.  Mereka hanya tahu “Islam hukum“, yaitu mengejar kursi. Ini yang mereka perjuangkan. Sampai-sampai kalian dengar berbagai omongan dusta, “bahwa Nabi-lah yang mengangkat Mursi.”, dan banyak kedustaan lainnya.

Maka sungguh mengagumkanku pernyataan Muhammad Hamid al-Faqi, “Mereka itu adalah khawwanul muslimin (para pengkhianat kaum muslimin)”
download suara
_____________

Penutup
Dari penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Hadi hafizhahullah di atas, nyatalah kepada kita semua siapakah hakekat Muhammad Mursi sebenarnya, dan secara lebih umum lagi siapa dan bagaimana sepak terjang Ikhwanul Muslimin, khususnya di Mesir kali ini. Sehingga jelaslah kepada kita, bahwa konflik di Mesir, baik pihak yang dikudeta maupun pihak yang mengkudeta bukanlah pihak yang mewakili Islam dan sama-sama tidak memperjuangkan Islam. Konflik Mesir ini merupakan fitnah dan musibah.

Sehingga kaum muslimin secara umum, dan di Mesir secara khusus, sikap mereka yang benar adalah sebagaimana yang dinasehatkan oleh al-’Allamah asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah adalah menghindar dan menjauh dari fitnah ini. Nasehat beliau ini merupakan nasehat emas yang bersumber dari dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah serta tauladan dari as-Salafush Shalih.

Adapun ikut berkomentar tanpa ilmu, ikut bereaksi, ikut berdemo, maka itu bukanlah sikap yang benar, dan sama sekali tidak memberikan penyelesaian. Bahkan sebaliknya, sikap tersebut justru memperkeruh suasana. Semakin demo digencarkan, maka semakin kekerasan yang timbul bahkan pertumpahan darah. Akan semakin banyak korban berjatuhan. Kasus terakhir kejadian rabiah adawiyyah dan nahdhah kemarin, yang disebutkan 2200 jiwa melayang!! Allahul Musta’an. Janganlah kita terpedaya dengan pidato berapi-api dari “para tokoh Islam”, yang terus memberikan semangat kepada kaum muslimin untuk “berjihad”. Padahal hakekatnya para tokoh tersebut sangat tidak sayang kepada kaum muslimin, tidak menyadari betapa mahal dan berharganya darah seorang muslimin. Hati-hati dan waspadalah wahai saudaraku, dari paham khawarij yang sangat berbahaya!! Sejarah membuktikan, tidaklah paham tersebut kecuali memang berujung pada pedang dan pertumpahan darah!!

Apabila kita menyaksikan sepak terjang Ikhwanul Muslimin, sejak dulu, baik di Mesir dan di negeri-negeri lainnya, tampak jelas kepada kita bahwa mereka tidak menegakkan dinul Islam dengan sebenarnya. Dan inilah salah satu sebab terbesar kegagalan mereka di berbagai tempat. Karena di antara sebab kekuasaan dan kekokohan adalah menegakkan agama ini dengan sebenarnya.


[1]  Yaitu dengan berhasilnya Muhammad Mursi meraih kursi Presiden di Mesir.

[2]  Hal sebagaimana disaksikan oleh sejarah, baik di Sudan, Turki, Tunisia, dll, tatkala Ikhwanul Muslimin berhasil meraih kemenangan dalam politik, maka pada kenyataannya justru mereka tidak menerapkan syari’at/hukum Islam yang selama ini mereka teriakkan.

[3]  Yakni apa yang disampaikan oleh Syaikh di sini adalah berdasarkan prinsip dan manhaj Ikhwanul Muslimin yang memang banyak penyimpangan padanya, dan berdasarkan fakta sejarah. Bukan hendak mendahului taqdir Allah.

[4] Yaitu di Mesir. Apakah benar mereka menerapkan syari’at Islam ataukah tidak?

[5]  Yakni para ‘ulama ahlus sunnah mereka anggap tidak konsekuen dengan ayat ini.

[6]  Ini merupakan prinsip paham khawarij sejak awal kemunculan mereka. Dengan prinsip ini mereka mengkafirkan pihak-pihak yang mereka nilai tidak berhukum dengan hukum Allah. Termasuk pemerintah-pemerintah muslimin hari ini.

[7]  Yakni perjalanan IM tidak akan jauh berbeda dengan perjalanan Husni Mubarak. Disebabkan karena IM tidak mau berpegang kepada Islam yang benar, yaitu al-Kitab dan as-Sunnah berdasarkan pemahaman Salaful Ummah.

[8]  Yaitu slogan yang selama ini mereka teriakkan adalah “hukum Islam, hukum Islam.”  Seolah mereka menginginkan diterapkannya hukum Islam di muka bumi. Padahal hakekatnya tidak demikian. Karena fakta menunjukkan tatkala mereka berhasil meraih tampuk kepemimpinan, baik di parlemen maupun kepresidenan, ternyata mereka sama sekali tidak menerapkan hukum Islam. Jadi slogan “hukum Islam” yang mereka teriakkan hakekatnya tidak lebih sebagai alat atau kendaraan agar mereka bisa sampai ke kursi kekuasaan
 
sumber : http://www.salafy.or.id/hakekat-konflik-yang-terjadi-di-mesir/
 
 

Sabtu, 26 November 2011

Al Wala` Wal Bara` Ala Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin (untuk selanjutnya disingkat IM) bisa diibaratkan seperti lokomotif bagi gerbong-gerbong kelompok harakah (pergerakan) Islam dewasa ini1. Pasalnya, IM tergolong kelompok paling tua dalam dunia harakah, bahkan telah banyak melahirkan kelompok-kelompok pergerakan yang muncul setelahnya.

Demikian pula para tokohnya. Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hasan Al-Hudhaibi, Abdul Qadir Audah, Muhammad Ash-Shawwaf, Musthafa As-Siba’i, Umar At-Tilmasani, Muhammad Hamid Abu Nashr, Yusuf Qardhawi, Muhammad Al-Ghazali, Fathi Yakan, Hasan At-Turabi, Abul A’la Al-Maududi, Al-Ghanusyi, Sa’id Hawa dan yang lainnya adalah “orang-orang lama” yang dijadikan narasumber dan “tempat kembali” bagi para aktivis pergerakan. Sontak, kondisi semacam ini cukup mengkhawatirkan… Terkhusus ketika fakta membuktikan bahwa penyimpangan telah terjadi dari dalam IM. Sebagaimana pernyataan Ali Asymawi (mantan tokoh IM yang pernah mendekam di balik terali besi selama 23 tahun dalam perjalanannya bersama mereka), “Menurutku IM (ketika itu) merupakan induk seluruh kelompok (tanzhim) Islam di dunia Arab, karena IM-lah yang paling tua dan yang melahirkan berbagai kelompok setelahnya. Segala bentuk penyimpangannya pun bersumber dari dalam IM sendiri.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-’Adnani, hal. 76)
Para pembaca, bahasan kali ini tidak-lah menyingkap seluruh penyimpangan IM. Akan tetapi khusus penyimpangan mereka dalam hal Al-Wala` dan al-Bara` yang merupakan tali keimanan yang paling kokoh. Rasulullah n bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Tali keimanan yang terkokoh adalah berloyal karena Allah dan memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 11.537 dari shahabat Abdullah bin ‘Abbas c. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1.728)

Apa itu Al-Wala` dan Al-Bara`?
Al-Wala` adalah loyalitas dan kecin-taan kepada Allah k dan Rasul-Nya serta kaum mukminin. Sedangkan al-Bara` adalah benci dan berlepas diri dari musuh-musuh Allah k dan Rasul-Nya serta musuh-musuh kaum mukminin.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Sesungguhnya, setelah mencintai Allah k dan Rasul-Nya, maka wajib mencintai wali-wali Allah k dan memusuhi musuh-musuh-Nya. Dan di antara prinsip (aqidah) Islam yang terpenting adalah bahwa setiap muslim yang beraqidah Islam wajib loyal dan mencintai orang-orang yang berpegang teguh dengannya (aqidah Islam) dan memusuhi para penentangnya. Sehingga diapun loyal dan mencintai orang-orang yang bertauhid lagi mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah k semata, dan membenci/ memusuhi orang-orang yang menyekutukan Allah k. Prinsip ini telah ada dalam ajaran Nabi Ibrahim p dan orang-orang yang bersama beliau yang kita diperintah untuk meneladani mereka. Allah k berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kamu selama-lamanya, sampai kamu mau beriman kepada Allah semata’.” (Al-Mumtahanah: 4) [Al-Wala` wal-Bara` Fil Islam, hal. 3]
Prinsip inipun terus berkesinam-bungan hingga masa Nabi Muhammad n. Allah k berfirman tentang prinsip Al-Wala`:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُوْنَ. وَمَنْ يَتَوَلَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَالَّذِيْنَ آمَنوُا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُوْنَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Al-Ma`idah: 55-56)

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangatlah keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang terhadap sesama mereka.” (Al-Fath: 29)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10)
Adapun firman Allah k tentang prinsip al-Bara`:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الَّظالِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai pemimpin-pemimpin (mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (Al-Ma`idah: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia.” (Al-Mumtahanah: 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا اْلكُفْرَ عَلَى اْلإِيْمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran di atas keimanan. Dan barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (At-Taubah: 23)

لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah: 22)

Slogan Peruntuh Al-Wala` Wal-Bara`
Mungkin anda sering mendengar slogan persatuan yang diproklamirkan Hasan Al-Banna, sang pendiri IM. Slogan yang berbunyi, “(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan.”
Misi apakah yang terselubung di balik slogan tersebut?
Ali Asymawi berkata: “IM getol sekali mendengungkan slogan mereka yang amat terkenal di kalangan kelompok-kelompok dan ormas-ormas Islam ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan’. Sebuah slogan yang diluncurkan dalam upaya memegang tali kendali (umat) dan menggiring segala laju permasalahan untuk kepentingan mereka.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 76)
Bagaimanakah aplikasi dari slogan tersebut di kalangan IM?
Ali Asymawi berkata: “(Dalam mengaplikasikannya, –pen.) tidak ada upaya pembenahan atau pembersihan hal-hal negatif ataupun meluruskan penyimpangan yang telah menggurita di tengah-tengah kelompok pergerakan Islam. Hingga akhirnya (penyimpangan itu pun, -pen.) bercokol dengan kokohnya di seluruh penjuru dunia. Faktor penyebabnya adalah terjatuhnya mayoritas mereka ke dalam sikap ekstrim (berlebihan) –ketika menerapkan slogan tersebut–.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 76)
Fakta dan data di lapangan menun-jukkan benarnya keterangan Ali Asymawi (akan dijelaskan secara rinci nantinya). Terlebih hari-hari ini, ketika slogan itu lebih dikongkritkan dalam bahasa-bahasa yang keren, lugas dan terkesan adem: “Islam Warna-warni”, “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, dll, yang digandrungi oleh banyak kelompok, ormas, dan parpol. Selidik punya selidik, ternyata dalam realisasinya meruntuhkan prinsip al-wala` wal-bara`. Apa misi di balik itu?
Jawabnya adalah idem, seperti keterangan Ali Asymawi tentang IM. Atau, mungkin ada jawaban lain…? Wallahul Musta’an.
Akibatnya, semakin bercokollah penyimpangan/ kebatilan pada individu ataupun kelompok, karena tidak ada upaya pembenahan, pembersihan hal-hal negatif ataupun meluruskan penyimpangan yang telah menggurita (sebagaimana pernyataan Ali Asymawi). Bahkan ketika ada yang berupaya meluruskan penyimpangan tersebut, justru malah mendapatkan serbuan komentar: “Kayak yang bener sendiri”, “Ndak usah ngurusi orang lain”, “Masing-masing kan punya dasar”, “Ribut terus, orang kafir sudah sampai ke bulan kita masih ngurusi khilafiyyah”, dan lain sebagainya. Padahal seringkali upaya pembenahan dan pelurusan itu berkaitan dengan masalah aqidah.
Saudara, contoh di atas erat kaitannya dengan internal kita kaum muslimin. Dan lebih mengherankan, ketika kaitannya dengan orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang kafir lainnya yang Allah k wajibkan kita untuk bara` (berlepas diri/membenci) mereka sebagaimana dalam ayat-ayat yang disebutkan di awal bahasan. Berondongan komentar pun acap kali didengar, “Mereka itu saudara kita”, “Semua agama sama”, dan lain sebagainya.
Mungkin anda merasa janggal, khususnya kaitannya dengan IM. Bukankah pada tahun 1948, IM terlibat kontak senjata melawan orang-orang Yahudi Israel di Palestina?!
Jawabnya adalah: Benar. Namun apa motivasinya?
Hasan Al-Banna berkata (tentang kasus Palestina): “Untuk itu kami tetapkan bahwa permusuhan kami dengan Yahu-di bukanlah permusuhan agama. Karena Al-Qur`an telah menganjurkan untuk berga-bung dan berkawan dekat dengan mereka. Dan Islam merupakan syariat kemanusiaan sebelum menjadi syariat kaum tertentu. Islam pun telah memuji mereka dan men-jadikan antara kita dengan mereka keter-kaitan yang kuat.” (Al-Ikhwanul Mus-limun Ahdatsun Shana’at Tarikh, I/409-410. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 59)
Kalau bukan karena agama, lalu apa?
Yusuf Qardhawi berkata: “Kami memerangi orang-orang Yahudi bukan karena urusan aqidah, akan tetapi karena urusan tanah. Kami memerangi mereka bukan karena statusnya sebagai orang-orang kafir, akan tetapi karena mereka merampas (tanah Palestina).” (Surat Kabar Ar-Rayah, Qatar edisi 4696, 25 Januari 1995. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha (lampiran) hal. 207)

Fatwa Ulama tentang Slogan IM Itu
Manakala para tokoh IM telah berlebihan dalam merealisasikan slogan mereka itu, maka jerit peringatan dari dalam tubuh IM pun terdengar, sebelum adanya fatwa para ulama. Lagi-lagi Ali Asymawi mengatakan: “Untuk itu, aku melihat bahwa sekaranglah saatnya memberi peringatan dan membuka jendela-jendela, agar sinar mentari dan udara segar bisa masuk ke lorong-lorong jamaah (IM) yang telah pengap dan membusuk aromanya. Dan juga, agar pengalaman hidupku bersama mereka dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pemuda untuk tidak gegabah dalam mencari jalan hidupnya, mempertim-bangkan secara matang ke mana kakinya hendak dilangkahkan, dan tidak mudah hanyut dalam memberikan loyalitas dan ketaatannya pada siapapun… Karena Allah k telah mengaruniakan kita akal fikiran sebagai kehormatan bagi anak manusia. Tidaklah sepantasnya kita menyia-nyiakannya, agar tidak mudah dijadikan bulan-bulanan oleh siapapun dan bergerak di bawah slogan apapun.” (At-Tarikh As-Sirri Lijama’atil Ikhwanil Muslimin, hal. 4. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 76)
Adapun fatwa para ulama, antara lain:
1. Fatwa Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t.
Beliau berkata: “Ya, wajib untuk saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati berupa kebenaran, dakwah kepada kebenaran tersebut dan memper-ingatkan (umat manusia) dari apa yang dilarang Allah k dan Rasul-Nya. Adapun saling toleran dalam perkara yang diperselisihkan, maka tidak bisa dibenarkan secara mutlak, bahkan harus dirinci. (Yaitu) di saat perkara tersebut termasuk masalah ijtihad yang tidak ada dalilnya secara jelas, maka tidak boleh di antara kita saling mengingkari. Sedangkan bila perkara tersebut jelas-jelas menyelisihi nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka wajib diingkari dengan hikmah, nasehat dan diskusi dengan cara terbaik.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 3/58-59. Lihat Zajrul Mutahawin Bidharari Qa’idah Al-Ma’dzirah wat Ta’awun, karya Hamd bin Ibrahim Al-Utsman, hal. 128)
2. Fatwa Asy-Syaikh Al-Albani t.
Beliau berkata ketika mengkritik para pengusung slogan di atas: “Merekalah orang yang pertama kali menyelisihinya. Kami yakin bahwa penggalan (pertama, -pen.) dari slogan tersebut benar, yaitu ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati’. Ini tentunya dipetik dari firman Allah k:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِّرِ وَالتَّقْوَى

“Saling tolong-menolonglah dalam perkara kebaikan dan ketaqwaan.” (Al-Ma`idah: 2)
Adapun penggalan kedua ‘Dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan’, maka harus dipertegas… Kapan? (Yaitu) ketika kita saling menasehati. Dan kita katakan kepada yang berbuat kesalahan: ‘Engkau salah, dalilnya adalah demikian dan demikian.’ Bila dia belum puas dan kita lihat dia seorang yang ikhlas (pencari kebenaran, -pen.) maka kita tolerir dia, dan saling tolong-menolong dengannya dalam perkara-perkara yang disepakati. Adapun bila dia seorang penentang kebenaran lagi sombong dan berpaling darinya, maka saat itulah tidak berlaku penggalan kedua dari slogan tersebut dan tidak ada toleransi di antara kita dalam perkara yang diper-selisihkan itu.” (Majalah Al-Furqan, Kuwait, edisi 77, hal. 22. Lihat Zajrul Mutahawin, hal. 130)
3. Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin t.
Beliau berkata: “Slogan mereka ‘(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati’, ini benar. Adapun ‘Dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan’, maka ini harus dirinci:
 Bila termasuk perkara ijtihad yang memang dibolehkan berbeda, maka hendaknya kita saling toleran, dan tidak boleh ada sesuatu di hati karena perbedaan tersebut.
 Adapun bila termasuk perkara yang tertutup pintu ijtihad, maka kita tidak boleh toleran kepada orang yang menyelisihinya. Dan diapun harus tunduk kepada kebenaran. Jadi bagian pertama benar, sedangkan bagian akhir harus dirinci.” (Ash-Shahwah Al-Islamiyyah, Dhawabith Wa Taujihat, I/218-219. Lihat Zajrul Mutahawin, hal. 129)

Fenomena Al-Wala` Wal Bara` Ala IM
Demikianlah koreksi para ulama atas slogan IM di atas. Lalu bagaimanakah fenomena IM di dalam merealisasikannya? Simaklah keterangan berikut ini!
1. Garis besar Al-Wala` wal-Bara` ala IM.
 Hasan Al-Banna dalam momentum peringatan HUT IM yang ke-20 (5-9-1948) berkata: “Gerakan IM tidaklah memusuhi aqidah, agama, atau kelompok apapun.” (Qafilah Al-Ikhwan, karya As-Sisi, I/211. Lihat Ath-Thariq Ilal Jama’atil Um, hal. 132)
 Muhammad Al-Ghazali berkata: “Selaras dengan sejarah lama, maka kamipun berkeinginan untuk membentangkan tangan-tangan kami dan membuka telinga dan hati kami untuk setiap seruan yang mempersatukan agama-agama, dan mendekatkan antar pemeluknya serta menghilangkan sebab-sebab perpecahan dari hati-hati mereka.” (Wamin Huna Na’lam, hal. 150. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 60)
2. Sikap IM terhadap Yahudi dan Nasrani
 Hasan Al-Banna berkata (tentang kasus Palestina): “Untuk itu kami menetapkan bahwa permusuhan kami dengan Yahudi bukanlah permusuhan agama. Karena Al-Qur`an telah menganjurkan untuk bergabung dan berkawan dekat dengan mereka. Dan Islam merupakan syariat kemanusiaan sebelum menjadi syariat kaum tertentu. Islam pun telah memuji mereka dan men-jadikan antara kita dengan me-reka keterkaitan yang kuat.” (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdatsun Shana’at Tarikh, I/409-410. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 59)
 Yusuf Qardhawi berkata: “Kami memerangi orang-orang Yahudi bukan karena urusan aqidah, akan tetapi karena urusan tanah. Kami memerangi mereka bukan karena statusnya sebagai orang-orang kafir, akan tetapi karena mereka merampas (tanah Palestina).” (Surat Kabar Ar-Rayah, Qatar edisi 4696, 25 Januari 1995. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha (lampiran) hal. 207)
 Musthafa As-Siba’i berkata: “Islam bukanlah agama yang memerangi agama Nashrani, bahkan mengakui dan memuliakan agama Nashrani... Islam tidak membedakan antara muslim dan Nashrani. Islam tidak memberikan hak lebih terhadap muslim atas hak Nashrani dalam kedudukan di pemerintahan…” (Ath-Thariq Ilal Jama’atil Um, hal. 134)
 Hasan At-Turabi dalam ceramahnya yang berjudul Ta’dilul Qawanin, berkata: “Boleh bagi seorang muslim untuk menjadi Yahudi atau Nashrani, seperti halnya mereka (Yahudi dan Nashrani) dibolehkan untuk menjadi muslim.”
Di kesempatan ceramahnya yang lain dengan tema Ad-Daulah Baina Nazhariyyah Wa Tathbiq, berkata: “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengkafirkan Yahudi dan Nashrani.” (Isyruna Ma’kha-dzan ‘Ala As-Sururiyyah, hal. 2. Lihat Majalah Asy Syari’ah edisi Fenomena Sinkretisme Agama, hal. 21)
3. Sikap IM terhadap Syi’ah Rafidhah.
Syi’ah Rafidhah adalah rintisan Abdullah bin Saba‘ seorang Yahudi dari Yaman. Di antara keya-kinan kelompok ini adalah: Al-Qur`an (kaum muslimin) yang ada telah mengalami perubahan dan pengurangan sehingga tak tersisa lagi kecuali hanya 1/3 dari aslinya; para shahabat telah murtad (sepeninggal Nabi n) kecuali beberapa orang saja; para istri Nabi n adalah pelacur; imam-imam mereka ma’shum dan kedudukannya di atas malaikat dan nabi; dan lain sebagainya (untuk lebih rincinya, lihat Rubrik Manhaji Majalah Asy Syari’ah edisi Menyikapi Kejahatan Penguasa dan Syi’ah Menikam Keluarga Nabi)
Bagaimanakah sikap IM terhadap mereka? Simaklah keterangan tokoh-tokoh mereka:
 Umar At-Tilmasani berkata: “Pada th 1940-an –sesuai apa yang kuingat– Sayyid Al-Qummi (tokoh Syi’ah) mengunjungi IM di markas besarnya, saat-saat Al-Imam Asy-Syahid (Hasan Al-Banna, -pen.) berjuang keras untuk mempersatukan seluruh madzhab… Kami pun bertanya kepadanya (Hasan Al-Banna, -pen.) tentang perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Maka dia melarang kami untuk masuk ke dalam masalah-masalah riskan semacam ini.” (Mauqif Ulama’ Al-Muslimin, karya Dr. Izzuddin Ibrahim hal. 5-21. Lihat Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 56)
 Salim Bahnasawi berkata: “Sejak terbentuknya lembaga pendekatan antara madzhab-madzhab Islam yang diprakarsai Al-Imam Al-Banna dan Al-Imam Al-Qummi, kerjasama antara IM dengan Syi’ah pun terus berlangsung, yang akhirnya membuahkan kunjungan Al-Imam Nuwab Shafawi (tokoh Syi’ah) ke Kairo pada tahun 1954 M.”
Dia juga berkata: “Dan itu bukan hal aneh, karena manhaj (prinsip) kedua kelompok sama-sama mendukung kerja sama tersebut.” (Mauqif Ulama’ Al-Muslimin, hal. 13. Lihat Tahafutusy Syi’arat Wa Suquthul Aqni’ah, karya Abdul ‘Aziz bin Syabib Ash-Shaqr, hal. 32)
Abdul Aziz bin Syabib Ash-Shaqr berkata: “Ketika Hasan Al-Banna wafat, warisan (pemikiran) yang busuk ini diambil oleh seluruh petinggi IM dan diterapkan di negerinya masing-masing. Sebagaimana yang dilakukan Umar At-Tilmisani –Mursyid Aam (pimpinan umum IM)– di Mesir, Musthafa As-Siba’i di Syria, Hasan At-Turabi di Sudan, Al-Ghanusyi di Tunis, Fathi Yakan di Lebanon dan Al-Maududi di Pakistan.” (Tahafutusy Syi’arat, hal. 33)
Bagaimanakah sikap IM terhadap kelompok-kelompok Islam sempalan lainnya?
Pembaca, jika sikap mereka ter-hadap Syi’ah demikian mesranya, bahkan juga sikap mereka terhadap Yahudi dan Nashrani yang jelas-jelas musuh Allah k dan Rasul-Nya, maka bisa dipastikan jawabnya adalah: idem. Artinya, toleransi tinggi akan dipersembahkan IM untuk mereka. Demikianlah “GBHN” al-wala` wal-bara` ala mereka. Masih ingatkah perkataan Hasan Al-Banna dan Muhammad Al-Ghazali yang telah lalu?!

Penutup
Setelah menelusuri sebagian kecil (saja) perkataan tokoh-tokoh IM seputar sikap terhadap agama-agama kafir dan para pemeluknya (Yahudi, Nashrani dan yang lainnya), atau pun sikap terhadap kelompok-kelompok bid’ah dan sesat, maka sungguh mencolok sekali rapuhnya Al-Wala` wal-Bara` ala mereka. Padahal Al-Wala` wal-Bara` merupakan tali keimanan terkokoh. Tidak-kah ini cukup sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal?!
Sebagai penutup simaklah nasehat Syaikh kami Al-’Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad –hafizhahullah– di bawah ini:
“Sudah sepatutnya –bahkan seharusnya– bagi pengikut da’i tersebut (Hasan Al-Banna, -pen.) untuk tidak merealisasikan perkataannya (slogan di atas, --pen.) yang berujung pada toleransi terhadap kelompok-kelompok sesat, bahkan yang paling sesatnya semacam Syi’ah Rafidhah. (Dan) hendaknya memperhatikan penerapan kaidah ‘Cinta karena Allah k dan benci karena Allah k, berloyal karena Allah k dan memusuhi karena Allah k’ yang tidak ada ruang toleransi bagi orang-orang yang menyimpang lagi sesat dalam perkara-perkara yang menyelisihi Ahlus Sunnah Wal Jamaah.” (Zajrul Mutahawin, hal. 8)
Pembaca, demikianlah sajian kami sebagai bentuk tanggung jawab dan nasehat untuk kaum muslimin. Semoga hidayah Allah k selalu mengiringi kita semua.
Amin.

1 IM didirikan oleh Hasan Al-Banna di kota Ismailiyyah Mesir, pada bulan Maret/April 1928 (Dzulqa’dah 1327 H). (Lihat Al-Mausu’ah Al-Muyassarah, hal. 23)

( Sumber : www.asysyariah.com )
http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=71
Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc