Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Juni 2013

Mengapa Saya Keluar dari MTA (Majlis Tafsir Al-Quran)

Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islam yang berkedudukan di Surakarta yang didirikan oleh ustadz Abdullah Thufail Saputra rahimahullah pada tahun 1972 dengan tujuan untuk mengajak umat Islam kembali kepada Al-Qur’an.
 Dua puluhan tahun sudah saya aktif di MTA, tepatnya sejak bulan Oktober 1987 di Cabang Mojosongo Boyolali. Sungguh suatu fase kehidupan yang membahagiakan dan bersemangat dalam Quran dan Sunnah. Banyak hal yang saya dapatkan, mulai dari tersadarnya akan perlunya ilmu, ittiba’ dan menjauhi syirik, tidak sekedar ikut-ikutan dalam tradisi masyarakat, sampai bagaimana memunculkan al haq sebagai suatu perjuangan dakwah.
MTA Jakarta menjadi awal keistiqomahan saya di MTA, yang semula mustami’ biasa menjadi siswa tetap, bahkan sampai khususi (bai’at dengan pimpinan MTA). Beberapa tugas atau kepercayaan yang pernah diberikan Pimpinan Perwakilan kepada saya selama di MTA Jakarta antara lain, menjadi ketua panitia kurban beberapa kesempatan, ikut mewakili pertemuan-pertemuan pengurus di MTA Pusat (Pertemuan Ahad Siang), menjadi ketua Tim Janaiz (sempat menerbitkan buku), dilibatkan dalam pembinaan calon Cabang di Cikampek (sekarang Karawang) dari tahun 1997, dan moment-moment penting lainya dalam kegiatan Perwakilan. Terakhir sebelum saya pamit keluar dari MTA awal tahun 2010, saya masih dipercaya sebagai Koordinator Tim Dakwah dan Koordinator Satgas untuk Jakarta dan sekitarnya,
Awal mula pencetus kenapa saya pamit keluar dari MTA adalah adanya statemen MTA bahwa ‘Siapa yang berbeda (punya faham yang beda dengan MTA) lebih baik keluar (dari MTA)’. Saat Ketua Perwakilan memberitahukan statemen itu secara khusus kepada saya, saat itu juga langsung saya pamit keluar. Perlu saya tegaskan, keputusan saya bukan didasari karena ada masalah pribadi dengan persons-persons MTA atau kepengurusan MTA, murni karena faham dan pendirian. Kenapa ini saya angkat? karena ada rumor seolah-olah orang yang keluar dari MTA adalah orang-orang yang ‘bermasalah’ dalam konotasi negatif. Perlu diketahui juga, malam sebelum saya pamit keluar, saya masih mengisi pengajian atas nama MTA dan membahas perjodohan lewat telepon dengan ketua perwakilan sampai hampir setengah-an jam.
Apa alasannya?
Orang akan bertanya, kalau memang sudah punya faham berbeda kenapa nggak dari awal bersikap?
Waktu itu saya berfikir bahwa saya bisa memperbaiki dari dalam dengan posisi yang ada. Saya lupa bahwa tidak ada perintah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memelihara firqah, yang ada tentu tinggalkan firqah! (Hadits Hudzaifah)

Ada faham apa sih di MTA (yang saya selisihi)?

Semula tidak banyak yang saya selisihi, tapi ternyata berkembang menjadi banyak, dan tersimpul dalam tiga masalah besar, yaitu masalah jama’ah, aqidah, dan manhaj.
Dalam masalah jama’ah, MTA memiliki Imam sendiri yang dibai’at, dita’ati dan seterusnya, sebagaimana LDII, Jama’atul Muslimin (Hizbullah), MMI, Ikhwani dan lain-lain. Kalau mereka ini al-jama’ah sebagaimana hadits Rasulullah, lantas mana firqah-firqah yang banyak yang disebutkan Rasulullah. Sudah sangat jelas mereka membangun wala’ dan bara’ di atas kelompoknya. (bahkan di sebagian tempat ada boikot terhadap orang yang keluar dari MTA)
Dalam masalah aqidah, MTA mengingkari syafa’at di akhirat, mengimani kalau orang islam masuk neraka ya selamanya sebagaimana pemahaman khawarij/mu’tazilah (tidak ada jahanamiyyun), mengingkari kesurupan jin, mengimani bahwa malam lailatul qadr sudah tidak ada lagi, mengimani bahwa Allah tidak menetapkan taqdir (tapi sebagai sebab akibat murni, ini pemahaman qadariyah mu’tazilah), tidak mengimani beberapa peristiwa hari akhir antara lain turunnya Isa, munculnya Dajjal, dan Imam Mahdi, beraqidah Asy’ariyah dengan menakwilkan asma wa sifat Allah, istawa nya Allah, wajah Allah, tangan Allah, Allah dimana-mana, dan lain-lain
Dalam masalah manhaj, metodologi MTA dalam memahami agama adalah mendahulukan akal, kadang mengesampingkan hadits shahih (bila dianggap menyelisihi Al-Quran), apalagi atsar, atau perkataan para ‘ulama kibar. Dari metodologi ini maka anjingpun jadi halal, sutera dan emas untuk laki-laki juga mubah, atau paling banter jadi makruh hukumnya.
Disamping itu, dalam masalah fikh juga terjerumus dalam bid,ah, padahal masalah memerangi bid’ah ini menjadi jargon MTA. Sangat ironis memang! Contohnya, menerapkan zakat tanpa memakai haul dan nishab, orang safar boleh bertayamum (bahkan menjadi kebiasaan sebagian besar warga MTA) walaupun di depan mata ada air yang melimpah
Mudah-mudahan blog yang saya garap ini ada maslahahnya, dan mampu menjawab berbagai permasalahan sebagaimana saya sebutkan di atas. Inilah perjalananan saya menuju manhaj salaf. Kepada saudara-saudaraku yang menyempatkan mampir di blog ini, saya berharap kritik dan sarannya. Akhirnya hanya kepada Allah-lah saya berhajat dan mohon ampun, semoga blog yang saya kelola ini tercatat sebagai amal shalih. Wallahu a’lam.
===============================================================================

20 PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN MTA DITINJAU DARI PEMAHAMAN AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH

Tidak menggunakan qo’idah tafsir yang benar, MTA membuat metode tafsir sendiri sehingga banyak kekeliruan di dalamnya.

  1. Memalingkan makna sifat-sifat Allah dengan tanpa hujjah yg benar.
  2. Membuang sifat AL-HAYAA-U bagi Allah Azza wa Jalla (Q.S Albaqarah:26) dan menggantinya dengan makna “Meninggalkan sesuatu perbuatan” berhujjah dengan hadits lemah bahkan salah dalam penulisan matannya. Padahal Rasulullah menyatakan dalam sabdanya: “innallaha hayiyyun kariimun” Sesungguhnya Allah Pemalu lagi Maha Mulia” (H.R. Abu dawud, Tirmidzi)
  3. Menolak Sifat Wajah bagi Allah Azza wa Jalla. MTA katakan :”Alah tidak mempunyai muka”. Sedangkan Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan hal ini dalam firmanNya (Q.S Albaqarah:272), juga hadits hadits dari rasulullah shalalllahu’alaih wassalam “Sesungguhnya engkau tdk akan ditnggal sehingga engkau melakukan amalan yg mengharap dengan WAJAH ALLAH” (H.R Bukhari dan Muslim)
  4. MTA meyaqini bahwa surga tempat tinggal ADAM adalah di BUMI. Mereka menafsirkan surat albaqarah:35 bahwa Syurga Adam itu adalah “KEBUN DI ATAS BUMI INI”. Padahal ini adalah pendapat yg masyhur dari orang orang qadariyyah dan mu’tazilah.
  5. Menyelewengkan makna bahkan menginkari syafa’at nabi. Dlm tafsir surat albaqoroh:48 mereka mengatakan bahwa syafa’at adalah “TIUPAN ‘ILMU, BUDI PEKERTI YANG TINGGI DAN PERADABAN KENABIAN YANG SUCI, TEGASNYA DI HARI AKHIR NANTI TIDAK AKAN DITERIMA SYAFA’AT”. Padahal adanya syafa’at ini telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla dan hadits-hadits mutawatir dari Rasulullah sholallohu’alaihi wasallam.
  6. Meyaqini bahwa yg haram hanya 4 saja yg disebut dalam surat al an’am:145, sedangkan yg dijelaskan oleh nabi dgn hadits yg shahih diinkarinya. Bahkan berani membuang hadits tsb.
  7. Salah dalam mendudukkan ayat ayat utk orang kafir dan disematkan kpd orang2 muslim, smisal surat ala’raf:40, shingga mereka menganggap sama hukumnya orang muslim dengan orang kafir jika telah masuk neraka yaitu kekal di dalamnya.
  8. Menganggap yg diharamkan Rasulullah hanya makruh saja jadi boleh dilakukan/dikerjakan. Ini bertentangan dengan surat alhasyr:7, dan ali imran :31
  9. Menganggap hadits yg shahih bahkan mutawatir disamakan dengan hadits syadz bila bertabrakan dngan alqur’an, jadi boleh dibuang, dan ini adalah pendapat yg paling bathil dari inkarussunnah.
  10. Mereka menghalalkan anjing buas, serigala , katak/kodok dll yg telah diharamkan rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, tetapi utk menutupi pendapat ini dihadapan para pengikut MTA yg masih pemula maka sang ketua dan para ustadznya menjawab ;”MTA tidak berhak mengharamkan dan menghalalkan anjing, yang berhak mengharamkan dan menghalalkan hanyalah Allah”. Perkataan ini utk mengelabuhi ummat agar pengikutnya tidak lari karena tahu bahwa ustadznya mnghalalkan anjing walau dia tidak memakannya. Lihat bukti perkataan mereka dalam tafsir MTA jilid ke 4 pada saat menafsirkan surat albaqoroh:173. Padahal faham seperti ini telah dibantah oleh Rasulullah, beliau bersabda “Ingatlah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti apa yang diharamkan oleh Allah”. (HR Ibnu Majah, no. 12, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
  11. Mereka mengingkari adanya jahannamiyuun, yaitu orang yg beriman yg dientaskan dari neraka oleh Allah Azza wa Jalla berdasarkan ayat2 yg diperuntukkan bagi orang orang kafir. Padahal banyak hadits mutawatir yang mengabarkannya. Mereka meyaqini bahwa “”wa khobarulwaahidi dhonniyyun” hadits yg ahad adalah DUGAAN/dhonny”. Imam syafi’i telah membantah perkataan sesat ini dan beliau berkata;”ijma’almuslimuuna qodiiman wahadiitsan’ala tatsbiiti khobarilahaadi walintihaa-i ilaihi” “Kaum muslimin sejak dahulu hingga skarang telah spakat atas menetapkan hadits ahad dan berhenti padanya”(Ar-Risalah), juga dikuatkan oleh imam ibnu hajar atsqolani, ibnu abil izz, syaikh albani dll.
  12. Menganggap bahwa petunjuk hadits nabi tidak harus diikuti karena nabi adlah manusia biasa yang bisa benar dan bisa SALAH. Ini sungguh akan merusak syahadat mereka terhadap rasulullah, karena rasulullah bersabda :” TIDAKLAH KELUAR DARINYA MELAINKAN KEBENARAN” [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 501; shahih. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 2/164 & 192, Al-Haakim 1/105-106, dan yang lainnya].
  13. Dalam hukum mawaarits mereka juga tidak menggunakan hadits yang shahih yg menjelaskannya, tapi hanya dengan ayat alqur’an saja yg ditafsirkan aqalnya sendiri.
  14. Dalam hukum zakat, mereka membuat ajaran bid’ah yaitu zakat profesi yg tdk pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya juga imam empat skalipun.
  15. Dan mereka menyamakannya dengan hukum zakat pertanian, TETAPI anehnya ukuran zakatnya menggunakan zakat MAL. Aneh bin ajaib, bisa bisanya membuat syari’at sendiri.
  16. Membolehkan tayamum mutlaq saat safar walaupun ada air, ini menyelisihi dalil yg sangat banyak.
  17. Menganggap bahwa laki laki dan perempuan semuanya wajib shalat jum’at scara mutlaq. Padahal jika meruju’ pada hadits nabi tidaklah sbagaimana yg mereka fahami. Dan mereka menganggap orang yg ada udzur di masjid kmudian shalat di rumahpun dianggap shalat jum’at pada hari itu.
  18. Mengatakan bahwa ISBAL hukumnya “MUBAH”, sdangkan Rasulullah telah menyatakan keharamannya dengan adzab neraka jika tidak dengan kesombongan dan bila dengan kesombongan lebih berat lagi yakni tdk diajak bicara oleh Allah dan tidak disucikan.
  19. Menghalalkan musik, maka dari itu dalam radio mereka juga full music, padahal para sahabat telh menafsirkan surat luqman:6 sbagai haramnya nyanyian dan alat alat music.
  20. MTA tidak mempercayai/meyaqini bahwa jin bisa masuk dalam tubuhmanusia, smentara Rasulullah telah menjelaskan dengan hadits2 yg shahih akan adanya kesurupan dan ruqyah.
  21. Sungguh banyak lagi penyimpangan2 dalam MTA dan kesalahan2 penafsiran mereka, tapi ini cukup kiranya sbagai peringatan agar kita berhati hati pada faham yg seperti ini. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menjadikan tulisan I ni di dalam timbangan ‘amalan kebaikan kami. Barokallohufiykum.
Sumber:
http://kaahil.wordpress.com/2013/05/06/bagus-mengenal-mta-majlis-tafsir-al-quran-solo-mengapa-saya-keluar-dari-mta-majlis-tafsir-al-quran-20-penyimpangan-penyimpangan-mta-ditinjau-dari-pemahaman-ahlussunah-wal-jama/


Jumat, 07 Desember 2012

MENJAWAB TUDUHAN DUSTA TERHADAP ULAMA AHLUS SUNNAH SEPUTAR ZIARAH KUBUR RASULULLAH SHALLALLAHU’ALAIHI WA SALLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


Pertanyaan:
Ulama salafi wahabi, mantan mufti Kerajaan Saudi Arabia telah berani mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan hadis Nabi dan ijma’ ulama kaum muslimin. Bin Baz mengatakan: Haram melakukan perjalanan (musafir) untuk menziarahi makam Rasulullah, walaupun bagi mereka yang sedang mengerjakan haji dan jauh dari Madinah. Lihat buku Ibnu Baz yang berjudul at-Tahqiq wa al-Idhah li Katsirin min Masa’il il-Haj wa Umrah wa az-Ziyarah, karangan Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz, halaman 88,90,98.
Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, ziarah ke makam Rasulullah bukan hanya boleh, bahkan sangat di anjurkan bagi yang mampu pergi kesana. Lihatlah sabda Rasulullah,
من جاءني زائرا لايهمه الا زيارتي كان حقا علي ان اكون له شفيعا
“Barang siapa yang datang menziarahiku dan tidaklah dia niatkan kecuali menziarahiku, sesungguhnya dia berhak mendapat syafa’atku.” (HR. Thabrani)
Tolong ditanggapi.
  
Jawaban:
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dalam kitabnya At-Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masaailil Haj wal ‘Umroh berkata,
ليست زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم واجبة ولا شرطا في الحج كما يظنه بعض العامة وأشباههم ، بل هي مستحبة في حق من زار مسجد الرسول صلى الله عليه وسلم أو كان قريبا منه .
أما البعيد عن المدينة فليس له شد الرحل لقصد زيارة القبر ، ولكن يسن له شد الرحل لقصد المسجد الشريف ، فإذا وصله زار القبر الشريف وقبر الصاحبين ، ودخلت الزيارة لقبرهعليه الصلاة والسلام وقبري صاحبيه تبعا لزيارة مسجده صلى الله عليه وسلم ، وذلك لما ثبت في الصحيحين ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد : المسجد الحرام ، ومسجدي هذا ، والمسجد الأقصى »
“Ziarah kubur Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bukan kewajiban ataupun syarat dalam ibadah haji seperti yang disangka oleh sebagian orang awam dan yang semisal dengan mereka, akan tetapi ziarah ke kubur Nabi shallallahu’alaihi wa sallam itu DISUNNAHKAN BAGI ORANG YANG MENDATANGI MASJID BELIAU SHALLALLAHU’ALAIHI WA SALLAM ATAU SUDAH DEKAT DENGANNYA.

Adapun orang yang jauh dari kota Madinah, maka tidak disyari’atkan baginya untuk bersusah payah melakukan perjalanan dengan maksud berziarah kubur, tetapi disunnahkan baginya melakukan itu dengan maksud mengunjungi masjid Nabawi, jika dia telah sampai di masjid Nabawi barulah disunnahkan baginya berziarah ke kuburan beliau dan dua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar), maka ketika itu ziarah ke kuburan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam masuk dalam ziarah ke masjid beliau. Dan dilarangnya bersusah payah melakukan perjalanan untuk ziarah ke kuburan beliau karena adanya sebuah hadits dalam As-Shahihain, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Tidak boleh bersusah payah melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid; masjidil Haram, masjid Nabawi dan masjid Al-Aqsho” [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Haji, Bab Hajinya Wanita, no. 1864 dan Muslim dalam Bab Larangan Bersusah Payah Melakukan Perjalanan (Ibadah) Kecuali ke Tiga Masjid, no. 1397].“
[Lihat Kitab At-Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masaailil Haj wal ‘Umroh, Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, dengan tahqiq Syaikh Dr. Shalih bin Muqbil Al-‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 250-252, lihat juga buku kami SALAFI, ANTARA TUDUHAN dan KENYATAAN, hal. 141, cetakan ke-3 Shafar 1433 H]

Jelas dari fatwa di atas, beliau tidak mengharamkan semua bentuk ziarah, yang beliau haramkan hanyalah cara berziarah yang menyelisihi dalil, dan nampak jelas fatwa beliau berdasarkan dalil dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, bukan mengada-ada dalam agama sebagaimana yang dilakukan oleh ahlul bid’ah wal furqoh.
Adapun hadits Ath-Thobrani yang disebutkan dalam pertanyaan, tidak shahih karena ada rawi yang bernama Muslim bin Salim Al-Juhani yang dha’if, berkata Abu Daud: “Dia tidak terpercaya.” [Lihat Silsilah Adh-Dha’ifah, no. 5732]

Andaikan haditsnya shahih sekalipun maka maknanya masih umum, yaitu tentang keutamaan berziarah, bukan menjelaskan tentang cara berziarah. Sedangkan dalam fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah, beliau mengutip hadits Al-Bukhari dan Muslim yang menjelaskan salah satu bentuk cara berziarah yang dilarang adalah melakukan perjalanan (safar) untuk berziarah kubur, bukan larangan berziarah secara mutlak.
Juga tidak terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat melakukan perjalanan jauh (safar) untuk berziarah kubur, berarti melakukannya termasuk bid’ah, mengada-ada dalam agama. Sekali lagi, bid’ahnya adalah pada safar dengan niat ziarah, bukan pada ziarahnya.


وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

http://nasihatonline.wordpress.com/2012/12/06/menjawab-tuduhan-dusta-terhadap-ulama-ahlus-sunnah-seputar-ziarah-kubur-rasulullah-shallallahualaihi-wa-sallam/

Sabtu, 01 Desember 2012

(bagus) TAREKAT NAQSYABANDIYAH : Kenapa saya keluar dari Sufi “Tarekat/Tariqat/Tariqah Naqshbandiyah/Naqsyabandiyah”?

Tarekat/Tariqat/Tariqah Naqshbandiyah/Naqsyabandiyah merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebaran nya, dan terdapat banyak di wilayah Asia  serta Turki, Bosnia-Herzegovina, dan wilayah Dagestan, Russia.

Kata Naqsyabandiyah/Naqsyabandi/Naqshbandi نقشبندی berasal dari Bahasa Arab iaitu Murakab Bina-i dua kalimah Naqsh dan Band yang bererti suatu ukiran yang terpateri, atau mungkin juga dari Bahasa Persia, atau diambil dari nama pendirinya yaitu Baha-ud-Din Naqshband. Sebagian orang menerjemahkan kata tersebut sebagai “pembuat gambar”, “pembuat hiasan”. Sebagian lagi menerjemahkannya sebagai “Jalan Rantai”, atau “Rantai Emas”.

Tarekat ini didirikan oleh Imam Tariqat Hadhrat Khwajah Khwajahgan Sayyid Shah Muhammad Bahauddin Naqshband Al-Bukhari Al-Uwaisi , dilahirkan pada bulan Muharram tahun 717 Hijrah bersamaan 1317 Masihi iaitu pada abad ke 8 Hijrah bersamaan dengan abad ke 14 Masihi di sebuah perkampungan bernama Qasrul ‘Arifan berdekatan Bukhara. Ia menerima pendidikan awal Tariqat secara Zahir dari gurunya Hadhrat Sayyid Muhammad Baba As-Sammasi dan seterusnya menerima rahsia-rahsia Tariqat dan Khilafat dari Syeikhnya, Hadhrat Sayyid Amir Kullal .

Shah Naqshband telah berkata: Pada suatu hari aku dan sahabatku sedang bermuraqabah, lalu pintu langit terbuka dan gambaran Musyahadah hadir kepadaku lalu aku mendengar satu suara berkata, “Tidakkah cukup bagimu untuk meninggalkan mereka yang lain dan hadir ke Hadhrat Kami secara berseorangan?”………….
********
Berikut ini kisah perjalanan dakwah Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafidzahullah sebelum beliau mengenal dakwah Salafiyah. Bagaimana kesesatan Shufi yang banyak menyimpang dari tauhid menemani langkah dakwah beliau




Mengikuti Thariqat Naqsabandiyah

Sejak kecil saya selalu mengikuti pelajaran dan halaqoh dzikir di masjid. Suatu ketika, pemimpin tarekat Naksabandiyyah melihatku, lalu ia mengajakku ke pojok masjid dan memberiku wirid-wirid tarekat Naksabandiyyah. Namun, karena usiaku yang masih belia, saya belum mampu membaca wirid-wirid itu sesuai dengan petunjuknya, tetapi saya tetap mengikuti pelajaran mereka bersama teman-teman saya dari pojokan masjid.

Saya mendengar lantunan qasidah dan nyanyian mereka, dan ketika sampai pada penyebutan nama syaikh mereka, dengan serta merta mereka meninggikan dan mengeraskan suara. Teriakan keras di tengah malam ini sangat menggangguku dan membuatku takut dan merinding.

Dan ketika usiaku semakin menajak dewasa, salah seorang kerabat mengajakku ke masjid di daerah kami untuk mengikuti acara yang mereka namakan al-khatam. Kami duduk melingkar, kemudian salah seorang syaikh membagikan kepada kami batu-batu kecil dan berkata:”Al-Fatihah Asy-Syarif dan Al-Ikhlash Asy-Syarif”.

Lalu dengan jumlah batu-batu kecil itu kami membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlash, istighfar dan sholawat dengan bentuk bacaan sholawat yang telah mereka hafal.
Diantara bentuk sholawat yang saya ingat adalah
اللّهُمَ صَلِّ عَلىَ محَُمَّدٍ عَدَدَ الدَّوَابِّ
“Ya Allah, berilah sholawat untuk Muhammad sebanyak binatang melata”
Mereka membaca sholwat ini dengan suara keras di akhir dzikir. Dan selanjutnya, syaikh yang ditugaskan itu menutupnya dengan ucapan rabithah syarifah (ikatan mulia). Mereka mengucapkannya dengan tujuan membayangkan wujud syaikhnya saat menyebut namanya, karena syaikh itulah –menurut mereka- yang mengikat mereka dengan Allah Azza wa Jalla.

Mereka merendahkan suara kemudian berteriak dan terbuai dalam kekhusyu’an, saat itu saya melihat salah seorang diantara mereka melompat ke atas kepala orang-orang yang hadir dari tempat yang tinggi karena kesedihan yang mendalam bagaikan permainan sulap. Saya heran dengan tingkah dan suara yang keras ini ketika menyebut nama syaikh tarekat mereka.
Suatu ketika saya berkunjung ke rumah salah seorang kerabatku dan mendengarkan lantunan nyanyian dari kelompok tarekat Naksabandiyyah, yang berbunyi:
دَلُوْنِيْ بِاللهِ دَلُوْنِيْ # # # # # عَلَى شَيْخِ النَّصْرِ دَلُوْنِي
Tunjuki aku, demi Allah, tunjuki aku. Kepada syaikh penolong, tunjuki aku
اللَّي يُبْرِي العَلِيْلَ ##### وَيَشْفِي المَجْنُوْنَا
Syaikh yang menyembuhkan orang yang sakit. Dan menyembuhkan orang yang gila
Saya berdiri di depan pintu rumah, dan belum sempat masuk ke dalam, lalu berkata kepada tuan rumah:”Apakah syaikh itu yang menyebabkan orang yang sakit dan orang gila?”. Ia menjawab: ”Ya, yang telah diberikan Allah Azza wa Jalla mukjizat menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak, tetapi ia tetap mengatakan “dengan izin Allah”.

Kemudian ia berkata kepadaku:”Dan syaikh kami juga melakukannya dengan izin Allah”. Lalu saya  menyanggahnya:”Tetapi mengapa Anda tadi tidak mengatakannya ‘dengan izin Allah’?”.
Karena penyembuh yang sebenarnya adalah Allah Azza wa Jalla semata, sebagaimana perkataan Ibrohim ‘alaihi salam dalam Al-Qur’an:
{وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ} (80) سورة الشعراء
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (QS. Asy-Syu’ara: 80).
*****

Beberapa Catatan Tentang Thariqat Naqsabandiyah 

1. Ciri khusus tarekat ini adalah wirid-wirid mereka yang tidak dikeraskan. Jadi tarekat ini tidak mengandung tari-tarian dan tepuk tangan sebagaimana pada tarekat-tarekat lainnya.

2. Dzikir-dzikir yang dilakukan secara berkelompok dan pembagian batu-batu kecil untuk setiap orang, lalu mereka diperintahkan membaca sesuatu dan meletakkan batu-batu kecil di dalam gelas berisi air untuk diminum dengan niat kesembuhan, semuanya itu adalah termasuk perbuatan bid’ah yang pernah diingkari oleh salah seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ketika masuk ke dalam masjid dan melihat sekelompok orang yang duduk melingkar dan ditangan mereka terdapat batu-batu kecil. Salah seorang diantara mereka berkata:”Bertasbihlah kalian sebanyak batu-batu kecil yang ada di tangan kalian!”.
Beliau mencela perbuatan mereka sambil berkata:”Perbuatan apa yang kalian lakukan ini?”.Mereka menjawab:’Wahai Abu Abdurrahman, kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan batu-batu ini”. Lalu beliau berkata:”Hitunglah dosa-dosa kalian, dan saya menjamin bahwa segala kebaikanmu tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celakalah kalian wahai umat Muhammad, mengapa begitu cepat kalian binasa? Sahabat-sahabat Rasul kalian masih banyak yang masih hidup, baju mereka belum hancur, perabot mereka belum pecah, dan demi jiwaku ada di tangan-Nya. Apakah petunjuk kalian lebih baik dari petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan?!” [1]

Jika kita menggunakan logika yang murni, apakah mungkin petunjuk mereka yang lebih baik dari pada petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka telah mendapatkan taufik (petunjuk) untuk melaksanakan suatu amalan yang tidak diketahui oleh beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam?, atau mungkin mereka yang sesat?. Kemungkinan pertama jelas salah, karena tidak ada seorangpun yang lebih baik dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian, berarti tersisa kemungkinan yang terakhir.

3. Rabithah Syarifah (ikatan mulia). Istilah ini menurut mereka adalah gambaran wujud syaikh, seolah-olah ia datang mengawasi mereka ketika namanya disebut dalam dzikir. Sehingga kita dapat melihat bagaimana mereka melakukannya dengan penuh kekhusyu’an dan berteriak-teriak dengan suara yang tidak jelas. Dan inilah derajat ihsan yang sebenarnya, yang menurut mereka dijelaskan dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه, فإن لم تكن تراه فإنه يراك (رواه مسلم).
“Ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia melihatmu” (HR. Muslim).
Dalam hadits ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk agar kita menyembah Allah seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak meliaht-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kita. Inilah derajat ihsan yang ditujukan hanya kepada Allah Azza wa jalla semata. Tetapi mereka justru mempersembahkan ihsan itu untuk syaikh mereka. Dan ini termasuk perbuatan syirik yang dilarang Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
{وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا …} (36) سورة النساء
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun…”(QS. An-Nisa: 36).
Jadi, dzikir itu adalah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah Azza wa Jalla semata dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan yang lain. Walaupun ia malaikat, seorang Rasul maupun seorang syaikh yang justru kedudukannya di bawah para Rasul. Sehingga larangan mempersekutukan Allah Azza wa Jalla dengan mereka menjadi lebih jelas. Sebenarnya penggambaran syaikh mereka ketika menyebutkan namanya juga terdapat dalam tarekat Syadzaliyyah.

4. Teriakan keras yang mereka lakukan ketika menyebut nama syaikh mereka atau ketika memohon pertolongan kepada selain Allah, seperti kepada ahlul bait dan orang-orang yang dekat kepada Allah Azza wa Jalla adalah termasuk perbuatan mungkar bahkan termasuk perbuatan syirik yang sangat dilarang.
Berteriak dengan suara keras ketika menyebut nama Allah Azza wa Jalla adalah suatu kemungkaran, karena bertentangan dengan firman Allah:
{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ …} (2) سورة الأنفال
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka…”(QS. Al-Anfal: 2).

Juga bertentangan dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
أيها الناس اربعوا على أنفسكم, فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا, إنكم تدعون سميعا قريبا وهو معكم (رواه البخاري و مسلم).
“Wahai manusia sekalian, kasihanilah diri kalian (pelan-pelan dalam berdo’a) karena kalian tidak memanjatkan do’a kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang tiada, tetapi kalian memanjatkan do’a kpada Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia selalu bersamamu” (HR. Bukhori; Muslim).

Bila menyebut nama Allah Azza wa Jalla dengan suara yang keras itu dilarang, maka berteriak, khusyu’ dan menangis ketika menyebut nama syaikh mereka termasuk kemungkaran yang lebih besar. Karena perbuatan ini termasuk bentuk “kegembiraan” yang digambarkan oleh Allah Azza wa Jalla tentang keadaan orang-orang musyrik dalam firman-Nya:
{وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ} (45) سورة الزمر
“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati”(QS. Az-Zumar: 45).

5. Sikap ghuluw terhadap tarekat serta keyakinan bahwa syaikh mereka itulah yang dapat menyembuhkan orang yang sakit. Padahal Allah Azza wa Jalla menyebutkan perkataan Nabi Ibrohim dalam Al-Qur’an:
{وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ} (80) سورة الشعراء
“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku  (QS. Asy-Syu’ara: 80).

Demikian juga dengan kisah seorang pemuda mukmin yang berdo’a kepada Allah untuk orang-orang yang sakit, lalu Allah Azza wa Jalla menyembuhkan mereka, ketika seorang kerabat raja berkata kepadanya:”Kamu akan mendapatkan harta yang banyak ini, jika engkau dapat menyembuhkanku”. Kemudian pemuda itu berkata:”Saya tidak dapat menyembuhkan seseoang, karena yang dapat menyembuhkan itu adalah Allah Azza wa Jalla, jika engkau beriman kepada Allah Azza wa Jalla maka saya akan memohon kepada Allah Azza wa Jalla dan menyembuhkanmu” (HR. Muslim).

6. Penyebutan lafadz tunggal “Allah” ribuan kali adalah wirid mereka. Padahal dzikir dengan menggunakan lafadz “Allah” tidak memiliki landasan syar’I, baik dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para tabi’in, maupun dari para imam-imam mujtahidin. Perbuatan ini diadopsi dari perbuatan bid’ah orang-orang shufi. Karena lafadz “Allah” dalam bahasa arab adalah mubtada’ yang tidak mengandung khobar, sehingga kalimat itu menjadi tidak lengkap.

Seandainya seseorang menyebut nama “Umar” berkali-kali dan kita bertanya kepadanya:”Apa yang Anda inginkan dari Umar?”. Kemudian orang tersebut tidak menjawab apa-apa kecuali dengan menyebutkan nama “Umar, Umar…” berkali-kali, maka kita tidak akan mengatakan bahwa ia adalah orang gila, tidak memahami apa yang ia ucapkan.

Orang-orang shufi ketika berdzikir dengan menggunakan lafadz tunggal tersebut, berdalil dengan firman Allah Azza wa Jalla:
{… قُلِ اللّهُ …} (91) سورة الأنعام
“Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)” (QS. Al-An’am: 91).
Seandainya mereka membaca penggalan ayat sebelumnya, tentu mereka akan paham, bahwa maksud ayat itu adalah:”Katakanlah: Allah-lah yang menurunkan kitab itu”.

Adapun nash ayat yang dimaksud adalah firman-Nya:
{وَمَا قَدَرُواْ اللّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُواْ مَا أَنزَلَ اللّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاء بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُم مَّا لَمْ تَعْلَمُواْ أَنتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ قُلِ اللّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ} (91) سورة الأنعام
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)” (QS. Al-An’am: 91).
Maksudnya adalah:”Katakanlah: Allah-lah yang menurunkan kitab Taurat itu”.
Catatan Kaki:
[1] HR. Ad-Darimi dan Ath-Thabariy. Hadits Hasan.
******

TAREKAT SUFI NAQSYABANDIYAH

Pertanyaan.
Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya: Ada sebuah perkumpulan wanita dari Kuwait. Mereka menyebarkan dakwah sufi beraliran Naqsyabandiyah secara sembunyi-sembunyi perkumpulan wanita tersebut berada dibawah naungan lembaga resmi.
 Kami telah mempelajari kitab-kitab mereka & berdasarkan pengakuan mereka yg pernah ikut perkumpulan wanita ini tarekat ini memiliki pemahaman diantaranya:
(a). Barangsiapa yg tdk mempunyai syaikh maka yg menjadi syaikhnya adalah syetan.
(b). Barangsiapa yg tdk bisa mengambil ahlak syaikh/gurunya maka tdk akan bermanfaat baginya Kitab & Sunnah.
(c). Barangsiapa yg mengatakan pd syaikhnya “Mengapa begitu?” Maka tak akan sukses selamanya.
Selain itu mereka berdzikir (dengan tata cara sufi tentunya) seraya membawa gambar syaikhnya. Mereka suka mencium tangan gurunya yg bergelar Al-Anisaa & berasal dari negeri Arab. Mereka menganggap akan mendapat berkah dg meminum air sisa sang gurunya.
Mereka menulis do’a dg do’a khusus yg dinukil dari buku Al-Lu’lu wa Al-Marjan Fi Taskhiri Muluki Al-Jann. Dan dalam lapangan pendidikan perkumpulan ini membangun madarasah khusus utk kalangan sendiri mereka didik anak-anak berdasarkan ide-ide kelompoknya bahkan ada di antaranya yg mengajar di sekolah-sekolah negeri umum baik jenjang setingkat SMP maupun SMA. Sebagian mereka ada yg berpisah dg suami & meminta cerai lewat pengadilan hal itu terjadi manakala sang suami menyuruh sang istri agar menjauh dari aliran yg sesat ini.
Pertanyaan yg kami ajukan:
. Bagaimanakah menurut syariat tentang perkumpulan wanita tersebut?.
. Diperbolehkan mengawini mereka?.
. Bagaimana pula hukumnya dg akad nikah yg telah berlangsung selama ini?.
. Sekarang nasihat & ancaman yg bagaimana yg pantas utk mereka?.
Mohon penjelasan.

Jawaban.
Tarekat sufi salah satunya Naqsyabandiyah adalah aliran sesat & bid’ah menyeleweng dari Kitab & Sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya: Jauhilah oleh kalian perkara baru karena sesuatu yg baru (di dalam agama) adalah bid’ah & setiap bid’ah adalah sesat”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad Abu Dawud Ibnu Majah Tirmidzi & Hakim)

Tarekat sufi tdk semata bid’ah. Bahkan di dalamnya terdapat banyak kesesatan & kesyirikan yg besar hal ini dikarenakan mereka mengkultuskan syaikh/guru mereka dg meminta berkah darinya & penyelewengan-penyelewengan lainnya bila dilihat dari Kitab & Sunnah. Diantaranya pernyataan-pernyataan kelompok sufi sebagaimana telah diungkap oleh penanya.

Semua itu adalah pernyataan yg batil & tdk sesuai dg Al-Qur’an & Sunnah sebab yg patut diterima perkataannya secara mutlak adalah perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah.
“Artinya: Apa yg diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yg dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (Al-Hasyr: 7)

“Artinya: Dan tidaklah yg diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya”. (An-Najm: 3)
Adapun selain Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam walau bagaimana tinggi ilmunya perkataannya tdk bisa diterima kecuali kalau sesuai dg Al-Kitab & Sunnah. Adapun yg berpendapat wajib metaati seseorang selain Rasul secara mutlak hanya lantaran memandang “si dia/orang”nya maka ia murtad (keluar dari Islam). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya & rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah & (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam ; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa ; tdk ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yg mereka persekutukan”. (At-Taubah: 31)

Ulama menafsirkan ayat ini bahwa makna kalimat “menjadikan para rahib sebagai tuhan” ialah bila mereka menta’ati dalam menghalalkan apa yg diharamkan & mengharamkan apa yg dihalalkan. Hal ini diriwayatkan dalam hadits Adi bin Hatim.

Maka wajiblah berhati-hati terhadap aliran sufi baik dia laki-laki / perempuan demikianlah pula terhadap mereka yg berperan dalam pengajaran & pendidikan yg masuk kedalam lembaga-lembaga. Hal ini agar tdk merusak aqidah kaum muslimin.

Lantas diwajibkan pula kepada seorang suami utk melarang orang-orang yg menjadi tanggung jawabnya agar jangan masuk ke dalam lembaga-lembaga tersebut ataupun sekolah-sekolah yg mengajarkan ajaran sufi. Hal ini sebagai upaya memelihara aqidah serta keluarga dari perpecahan & kebejatan para istri terhadap suaminya.

Barangsiapa yg merasa cukup dg aliran sufi maka ia lepas dari manhaj Ahlus Sunnah wa Jamaah jika berkeyakinan bahwa syaikh sufi dapat memberikan berkah / dapat memberikan manfa’at & madharat menyembuhkan orang sakit memberikan rezeki menolak bahaya / berkeyakinan bahwa wajib menta’ati setiap yg dikatakan gurunya/syaikh walaupun bertentangan dg Al-Kitab & As-Sunnah.

Barangsiapa berkeyakinan dg semuanya itu maka dia telah berbuat syirik terhadap Allah dg kesyirikan yg besar dia keluar dari Islam dilarang berloyalitas padanya & menikah dengannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya: Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrikah sebelum mereka beriman ………. Dan janganlah kalian menikahkan (anak perempuan) dg laki-laki musyrik sebelum mereka beriman ……..”. (Al-Baqarah: 221)

Wanita yg telah terpengaruh aliran sufi akan tetapi belum sampai pd keyakinan yg telah kami sebutkan diatas tetap tdk dianjurkan utk menikahinya. Entah itu sebelum terjadi aqad ataupun setelahnya kecuali bila setelah dinasehati & bertaubat kepada Allah.

Yang kita nasehatkan adalah bertaubat kepada Allah kembali kepada yg haq meninggalkan aliaran yg batil ini & berhati-hati terhadap orang-orang yg menyeru kepada kejelekan-kejelekan. Hendaknya berpegang teguh dg manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah membaca buku-buku bermanfa’at yg berisi tentang aqidah yg shahih mendengarkan pelajaran muhadharah & acara-acara yg berfaedah yg dilakukan oleh ulama yg berpegang dg teguh pd manhaj yg benar.

Juga kita nasehatkan kepada para istri agar taat kepada suami mereka & orang-orang yg bertanggung jawab dalam hal-hal yg ma’ruf.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya.

Sumber:
http://sunniy.wordpress.com/buku-sunniy-chm/
http://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat_Naqsyabandiyah
http://kaahil.wordpress.com/2012/06/12/bagus-tarekat-naqsyabandiyah-kenapa-saya-keluar-dari-sufi-tarekattariqattariqah-naqshbandiyahnaqsyabandiyah-sejarah-prinsip-dasar-dan-ajaran-tarekat-sufy-naqsyabandiyah/

Senin, 19 November 2012

Menghadiri Tahlilan

Tanya: Assalamu 'alaikum. Saya ingin bertanya apa hukum menghadiri tahlilan demi untuk hubungan sesama manusia walau tidak ada contoh dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam? (Jay Cimahi, 081321125***)

Jawab: Wa 'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, saudaraku Jay -semoga Allah menjagamu- hubungan sesama manusia adalah hal yang baik, bahkan diperintahkan oleh syariat. Jika demikian syariat tentu tidaklah mengesampingkan aturan mainnya. Syariat sedikitpun tidaklah menghendaki dengan dalih "hubungan sesama manusia", seseorang harus melakukan dosa, melakukan hal yang maksiat, hal yang diharamkan atau hal yang merupakan bid'ah. Oleh karena itulah maka Allah telah berfirman, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya." (QS Al Maidah: 2). Wal ilmu indallah.


Artikel Terkait
Tahlilan Dalam Timbangan Islam
Download Kajian Hukum Tahlilan Dalam Islam 
 

Rabu, 22 Agustus 2012

Penyimpangan Kedua : Kebodohan dan Penyimpangan Habib Mundzir Terhadap Tauhid Asma’ wa Sifat dan Menyandarkan Penyimpangannya Kepada Pemahaman Salaf adalah Sebuah Kedustaan darinya.

Di antara kesesatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh Habib Mundzir Al-Musawa adalah dalam masalah tauhid asma wa sifat. Namun sebelum lebih jauh menjelaskan kesesatan dan penyimpangan Habib Mundzir dalam masalah tauhid asma’ wa sifat, maka alangkah baiknya kita memulai dengan menjelaskan makna tauhid dan macam-macamnya secara ringkas.

Tauhid adalah Mentauhidkan Allah dengan apa-apa yang merupakan kekhususan bagi Allah, di dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan Asma’ wa Sifat-Nya. (Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid , Syaikh Ibnu Utsaimin : 11 dan Syarh Kasyfisy Syubhaat, Syaikh Ibnu Utsaimin : 21)
Para ulama membagi tauhid  menjadi tiga macam berdasarkan penelitian dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah

Tauhid rububiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan-Nya. Yaitu mengilmui dan meyakini bahwa Allah sematalah yang mencipta, memberi rizki dan mengatur alam semesta ini.
Dalilnya firman Allah Ta’aala :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:  “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.  (QS. Al-Fatihah : 2)

Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan hamba, yaitu dengan beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu baginya dengan seluruh macam-macam ibadah.
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Tauhid Asma wa Sifat yaitu mentauhidkan Allah Subhaanahu wa ta’aala dengan menetapkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tetapkan untuk Allah, dengan tanpa tahrif (menyelewengkan makna yang benar ke makna yang tidak benar), dengan tanpa ta’thil (menolaknya) dengan tanpa takyif (menghayalkan bagaimana sifat Allah) dan dengan tanpa tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
 Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. As-Syura : 11)

(Silahkan lihat penjelasan pembagian tauhid menjadi tiga beserta penjelasannya di kitab-kitab syarh para ulama terhadap kitab tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan syarh matan-matan aqidah)

Aqidah yang benar tentang tauhid asma wa sifat sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya di atas. Berikut ini sebagai tambahan penjelasan dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah :
وَمِنْ الْإِيمَانِ بِاَللَّهِ : الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ : { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } . فَلَا يَنْفُونَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ وَلَا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَلَا يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ وَلَا يُكَيِّفُونَ وَلَا يُمَثِّلُونَ صِفَاتِهِ بِصِفَاتِ خَلْقِهِ لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا سَمِيَّ لَهُ وَلَا كُفُوَ لَهُ وَلَا نِدَّ لَهُ وَلَا يُقَاسُ بِخَلْقِهِ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ وَبِغَيْرِهِ وَأَصْدَقُ قِيلًا وَأَحْسَنُ حَدِيثًا مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ رُسُلُهُ صَادِقُونَ مَصْدُوقُونَ
“Dan bagian dari beriman kepada Allah adalah beriman  dengan sifat – sifat yang Allah sifati diri-Nya sendiri di dalam kitab-Nya,  dengan tanpa tahrif (menyelewengkan makna yang haq (benar) kepada makna yang tidak benar), dengan tanpa ta’thil (menolaknya), dengan tanpa takyif (menghayalkan sifat Allah) dengan tanpa tamtsiil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Bahkan beriman bahwasanya Allah Ta’aala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As-Samii’ (Maha Mendengar) dan Al-Bashiir (Maha Melihat).” (Qs. Asy Syura : 11)

 Janganlah kalian menolak untuk-Nya sifat-sifat yang Allah mensifati diri-Nya sendiri, janganlah kalian memalingkan ayat tentang sifat Allah dari maksud sebenarnya, janganlah kalian berpaling dari nama-nama Allah dan ayat-Nya, janganlah kalian menyamakan sifat-sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya, dikarenakan Dia, yang Maha Suci bagi-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, dan tidak diqiaskan Dia dengan makhluq-Nya, Maha Suci Allah Ta’aala, dikarenakan Dia, Maha Suci bagi-Nya lebih mengetahui diri-Nya sendiri dari selain-Nya, dan yang paling jujur perkataannya serta paling baik ucapannya dari makhluk-Nya kemudian Rasul-Nya adalah orang yang benar lagi dibenarkan.” (Matan Aqidah Al Wasithiyah)

Adapun yang ditempuh oleh Habib Mundzir adalah jalannya orang-orang sesat lagi menyimpang,  jalan-Nya orang-orang yang tidak beradab kepada Allah dengan menolak, menyelewengkan ayat-ayat dan hadits-hadits sifat kepada makna yang tidak diinginkan Allah dan Rasul-Nya.

Perlu diketahui bahwasanya manusia terkelompokkan menjadi tiga kelompok ditinjau dari aqidah mereka  tentang tauhid asma’ wa sifat.

Pertama : Ahlul haq (orang-orang yang berada di atas kebenaran), orang-orang yang Allah beri petunjuk, mereka adalah ahlu sunnah wal jama’ah yaitu mereka mengimani dengan menetapkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Kedua: Orang-orang sesat lagi menyimpang dari musyabihah (orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan makhluk-Nya).

Ketiga:  orang-orang sesat dari mu’athilah (orang yang menolak sifat-sifat Allah) yang mereka terbagi menjadi beberapa kelompok :
  1. Mereka yang menolak seluruh nama-nama Allah dan sifat-Nya seperti  kelompok Jahmiyah.
  2. Mereka yang menetapkan nama-nama Allah dan menolak seluruh sifat-sifat Allah seperti kelompok Mu’tazilah.
  3. Mereka yang menolak sebagian sifat Allah dan menetapkan nama-nama Allah, seperti kelompok Asy-Sya’irah, Al-Maturidiyah dan yang sepemahaman dengannya. Dan Habib Mundzir menempuh jalan sesat ini (hal ini diketahui dari ceramah dan tulisan-tulisannya, di antaranya apa yang ada di bukunya yang berjudul “Aqidahku 2”). Dan penolakan mereka dengan jalan melakukan takwil (menyelewengkan makna yang benar tentang sifat Allah ke makna yang tidak benar).
Berikut ini di antara perkataan Habib Mundzir yang menunjukkan penyimpangannya terhadap tauhid asma’ wa sifat.
Berkata Habib Munzir :
“Madzhab Takwil ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan Allah dan keagungan Allah swt, dan pendapat ini lebih arjah (lebih baik untuk di ikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaan (khayalan dan wasangka) pada kaum muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syaf’i, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll.” (dinukil dari buku “Aqidahku 2 Penulis Habib Mundzir, hal 25-26)

Dan Habib Mundzir berkata lagi :
“Dan banyak para shahabat, tabi’in dan para Imam Ahlussunnah waljama’ah yang berpegang dengan pendapat takwil, seperti Imam Ibnu Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidzy, Imam Abul Hasan Al-Asyariy, Imam Ibnul Jauziy dll.” (dari buku Aqidahku 2 Penulis Habib Mundzir, hal 25-26)

Lihatlah wahai para pembaca budiman, tentang pendapat, keyakinan dan aqidah sesat Habib Mundzir yang berpegang kepada mazhab sesat takwil, menolak sifat Allah dengan jalan mentakwil/menyelewengkan makna yang haq dari sifat Allah kepada makna yang tidak benar. Bahkan dia sandarkan kesesatannya itu kepada para shahabat, tabi’in dan Imam Syafi’i dan Imam Ahlussunnah yang lainnya. Jelas hal ini adalah sebuah KEBODOHAN DAN KEDUSTAAN HABIB MUNDZIR ATAS MEREKA. 

Para pembaca budiman saya mengajak Anda untuk memperhatikan lebih seksama karena kita akan membantah kedustaan Habib Mundzir dengan apa yang dia katakan di  atas.

Sebagaimana telah dijelaskan di awal bahwa ahlus sunnah wal jama’ah mereka beriman kepada seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dan yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sifatkan untuk Allah dengan tanpa takwil (yaitu menyelewengkan makna  yang benar kepada makna yang tidak benar) dan dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makluk-Nya. Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat).” (Qs. Asy Syura : 11).
Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Al Fauzan Hafidzahullaah :
هذه الأية ميزان لأهل الحق ترد على المعطلة وترد على المشبهة, وتسبت لله الأسماء والصفات من غيرتعطيل ومن غير تشبيه, (  لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ    ) هذا رد على المشبهة الذين غلوا في الإثبات (  وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ  )  هذا رد على المعطلة الذين غلوا في التنزيه حتى نفوا أسماء الله صفاته فرارا من الثشبيه عندهم, فوقعوا في تشبيه  أشر مما فروا منه وهو أنهم شبهوا الله بالمعدومات و الممتنعات.
“Ayat ini adalah miizan (timbangan) bagi ahlu haq (orang – orang yang berada di atas kebenaran) yang membantah mu’athilah dan musyabihah. Ditetapkan nama-nama dan sifat-sifat untuk Allah dengan tanpa ta’thil (menolak sifat-sifat Allah -ed) dan dengan tanpa tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya -ed). Ayat ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ  “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”) ini adalah bantahan bagi musyabihah yang berlebih-lebihan dalam menetapkan. Ayat  (وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ,  “dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat)” ) ini bantahan bagi mu’athilah yang berlebihan dalam tanziih (mensucikan) sampai menolak nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah, mereka lari dari tasybih (menyerupakan) menurut anggapan mereka justru malah terjatuh kepada tasybih (menyerupakan) yang lebih jelek dari apa yang mereka lari darinya, yaitu mereka menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau tidak mungkin ada.“ (Syarh Lum’atil I’tiqaad Syaikh Shalih Al-Fauzaan, hal 90)
Benarkah takwil terhadap sifat Allah jalannya para shahabat, tabi’in dan para imam Ahlus sunnah wal jama’ah di antaranya Al-Imam Syafi’i rahimahullah. Atau hal ini merupakan sebuah kedustaan atas mereka yang dikatakan oleh Habib Munzir…?
Berikut ini penjelasannya :
Pada kesempatan ini saya hanya membawakan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullaah. Untuk menjelaskan kedustaan Habib Mundzir terhadap apa yang dia katakan diatas. 
قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعي  : آمنت بالله وبما جاء عن الله ، على مراد الله ، وآمنت
برسول الله ، وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
Berkata Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i)  Rahimahullaah :
“Aku beriman kepada Allah dan kepada semua perkara yang berasal dari Allah, di atas apa yang Allah maksudkan. Dan aku juga beriman kepada Rasullullah dan apa yang datang dari Rasulullah di atas apa yang Rasulullah maksudkan.”
Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan kepada kita tentang makna perkataan Al-Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata :
“ما تضمنه كلام الإمام الشافعي”
تضمن كلام الإمام الشافعي ما يأتي:
1- الإيمان بما جاء عن الله تعالى في كتابه المبين على ما أراده الله من غير زيادة، ولا نقص، ولا تحريف.
2- الإيمان بما جاء عن رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، في سنة رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، على ما أراده رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، من غير زيادة ولا نقص ولا تحريف.
وفي هذا الكلام رد على أهل التأويل، وأهل التمثيل، لأن كل واحد منهم لم يؤمن بما جاء عن الله ورسوله على مراد الله ورسوله فإن أهل التأويل نقصوا، وأهل التمثيل زادوا.
Kandungan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i adalah sebagai berikut :
  1. Beriman dengan perkara yang berasal dari Allah Ta’aala dalam kitab-Nya yang jelas sesuai dengan apa yang Allah maksudkan, tanpa memberi tambahan, tanpa pengurangan dan tanpa menyimpangkannya.
  2. Beriman dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam sunnahnya sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maksudkan, tanpa memberi tambahan, tanpa pengurangan dan tanpa menyimpangkannya.
Dan pada perkataan beliau (Al-Imam Syafi’i) di atas terdapat bantahan bagi ahlu takwil (para pentakwil/orang yang menyelewengkan makna yang benar tentang sifat Allah ke makna yang tidak benar -ed) dan ahlu tamtsil (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluknya) dikarenakan masing-masing dari mereka tidak beriman kepada apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dan di atas apa yang Allah dan Rasul-Nya maksudkan. Sesungguhnya para pentakwil adalah orang-orang yang mengurangi sifat Allah (makna yang benar dihilangkan atau dikurangi-ed). Sedangkan para pentamtsil adalah orang-orang yang telah menambah.” (Lum’atul I’tiqad, Syarh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : 37, Ad-Waa’us Salaf)

Lihat wahai para pembaca budiman kedustaan Habib Mundzir atas Al-Imam Syafi’i Rahimahullaah dengan mengatakan Al-Imam As-Syafi’i  menempuh jalan takwil dalam masalah asma wa sifat. !! padahal hakekatnya sebaliknya justru Al-Imam As-Syafi’i malah membantah orang-orang yang melakukan takwil dalam asma wasifat..!! Itulah Habib Mundzir seorang pendusta.

Perhatikan juga perkataan Al-Imam Syafi’i Rahimahullaah berikut ini sebagai penjelasan tambahan bagi kita semua atas kedustaan Habib Mundzir dengan perkataannya di atas. Berkata Al-Imam Syafi’i Rahimahullaah :
لله تغالى أسماء وصفات لايسع أحدا قامت عليه الحجة ردها, فإن خلف بعد ثبوت الحجة عليه فهو كافر فأم قبل ثبوت الحجة عليه فمعذور بالجهل, لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل, ولابالروية والفكر, ويثبت هذه الصفات وينفي عنها التسبيه كما نفى عن نفسه ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ)
“Bagi Allah Ta’aala mempunyai nama-nama dan sifat-sifat yang tidak boleh seorang pun yang telah tegak hujjah atasnya untuk menolaknya, jika dia menyelisihi setelah tetapnya (tegaknya) hujjah maka dia seorang kafir ada pun sebelum tetapnya (tegaknya) hujjah  maka dia diberi udzur atas kebodohannya. Dikarenakan ilmu tentang hal itu (nama-nama dan sifat Allah –ed) tidaklah didapatkan dengan akal, tidak juga dengan pemikiran dan tidak juga dengan pendapat. Ditetapkan sifat-sifat ini dan ditiadakan dari tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya) sebagaimana Allah menafikan (meniadakan) hal itu (tasybih) dari-Nya.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat).” (Qs. Asy Syura : 11). (Silahkan meruju’ dalam Kitab Mukhtashar Al-‘Uluw, Syaikh Al-Albani : 177 dan Ijtimaaul Juyyus Al-Islmiyyah, Ibnul Qayyim : 59 – Tahqiq Lum’atul I’tiqad Syarh Syaikh Ibnu Utsaimin :  37, Penerbit Adwaa’us Salaf)

Kami mencukupkan hanya membawakan perkataan Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah untuk menjelaskan kedustaan Habib Mundzir dan tidak membawakan perkataan ulama dan imam ahlussunnah yang lainnya yang Habib Mundzir sebutkan sebagiannya agar tidak memperpanjang risalah ini. 


Dan berikut ini penjelasan tentang kedustaan Habib Mundzir atas nama para shahabat dan tabi’in.
Yang pertama kami nukilkan kembali perkataan Habib Mundzir :
“Dan banyak para shahabat, tabi’in dan para Imam Ahlussunnah waljama’ah yang berpegang dengan pendapat takwil, seperti Imam Ibnu Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidzy, Imam Abul Hasan Al-Asyariy, Imam Ibnul Jauziy dll.” (dari buku “Aqidahku 2 Penulis Habib Mundzir, hal 25-26)

Berikut ini penjelasan kedustaannya, dengan membawakan perkataan para ulama kibar ahlus sunnah wal jama’ah
Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah:
الذي درج عليه السلف في الصفات هو الإقرار والإثبات لما ورد من صفات الله تعالى في كتاب الله وسنة رسوله ، صلى الله عليه وسلم ، من غير تعرض لتأويله بما لا يتفق مع مراد الله ورسوله
“Yang ditempuh oleh para salaf (generasi shahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in –ed) dalam masalah sifat Allah adalah mengakui, membiarkan apa adanya, dan menetapkan segala yang datang dalam permasalahan sifat Allah dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya tanpa melakukan upaya-upaya pentakwilan yang tidak sesuai dengan maksud Allah dan Rasul-Nya.” (Lum’atul I’tiqad Syarh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : 38)

Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan Hafidzahullah:
Tentang perkataan ini yaitu beriman kepada apa yang berasal dari Allah sesuai dengan apa yang Allah maksudkan (tidak melakukan takwil –ed) dan beriman kepada apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maksudkan (tidak melakukan takwil –ed), ini adalah jalan yang ditempuh oleh para salaf, mereka adalah pemimpin umat ini, dari kalangan para shahabat, tabi’in dan atba tabi’iin generasi yang memiliki keutamaan, tidak seorang pun dari mereka yang tidak berpendapat seperti ini. Mereka membaca Al-Qur’an dan meriwayatkan hadits-hadits dan tidak mendapatkan pertentangan sesuatu pun dari hal ini. Telah lewat generasi yang memiliki keutamaan, mereka tidak mendapatkan pertentangan pada ayat-ayat dan hadits-hadits ini. Dan muncul pertentangan setelah habis generasi yang memiliki keutamaan, ketika datang (muncul) ulama-ulama kalam dan filsafat  mereka memasukkan ke dalam agama apa yang bukan bagian darinya, mereka berhukum dengan kaidah-kaidah mantiq dan penjelasan akal –sebagaimana yang mereka namakan- dan menjadikan hal itu sebagai hakim bagi kitabullah dan sunnah Rasulullah.”  (Syarh Lum’atil I’tiqaad Syaikh Shalih Al-Fauzaan, hal 90. Darul Atsariyah)

Berkata Syaikh Al Allamah Shalih Abdul Aziz Alu Syaikh :
Jadi pada zaman shahabat belum terjadi takwil dan belum terjadi perselisihan dalam aqidah, dan begitu juga pada zaman tabi’in (generasi setelah shahabat) sampai muncul pada akhir zaman tabi’in kesesatan-kesesatan yang nampak bersamaan dengan kelompok-kelompok dari khawarij kemudian mu’tazilah kemudian tersebar pada umat. Dan hal ini menunjukkan kepada kamu bahwasanya takwil dan penyelisihan terhadap nash-nash (dalil Al Qur’an dan Sunnah); di dalam kewajiban penerimaan terhadap nash-nash. Bahwasanya hal itu (takwil dan penyelisihan terhadap nash-nash) termasuk perkara bid’ah dan perkara muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam agama), dan perbuatan bid’ah dan muhdats adalah perbuatan yang tertolak. (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda):
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru di dalam urusan (agama) kami ini apa yang tidak termasuk di dalamnya maka amalannya tertolak.“
Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini (agama kami –ed) dalam perkara-perkara ilmiyah yang bukan bagian darinya maka tertolak –yaitu tertolak atas pelakunya-. Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini dalam perkara-perkara amaliyah yang bukan bagian darinya maka tertolak –yaitu tertolak atas pelakunya-. Dan hal ini masuk dalam perkara bid’ah dalam perkara ilmiyyah (ilmu) dan amaliyah (amal), dan hal ini sebagimana akan datang perkataan Ibnu Mas’ud di mana beliau berkata :
 اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم
“Ikutilah dan janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah tercukupi (dalam perkara agama –ed).”  (Syarh Lum’atil I’tiqad Syaikh Al-Allamah Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hal : 20. Daa’rul Atsar)


Lihatlah wahai Habib Mundzir, para shahabat menempuh jalan tentang asma’ (nama-nama) dan sifat Allah dengan beriman kepada seluruh nama-nama dan sifat – sifat yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sifatkan untuk Allah dengan tanpa takwil (menyelewengkan makna yang benar ke makna yang tidak benar) dan dengan tanpa tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat.)”

Bukan seperti apa yang engkau katakan…!!!

Sungguh telah jelaslah yang benar sebagai sebuah kebenaran yang bathil sebagai sebuah kebathilan. Yang jujur sebagai sebuah kejujuran yang dusta sebagai sebuah kedustaan. Semoga Allah Ta’aala menjadikan kita sebagai orang yang mengikuti jalan kebenaran dan istiqamah di atasnya. Dan melindungi kita dan kaum muslimin dari jalan kebathilan dan orang yang menyeru kepadanya.

Ditulis oleh Abu Ibrahim ‘Abullah Al-Jakarty
Bersambung Insya Allah Ta’aala pada penyimpangan berikutnya…………….

http://membantahquburi.wordpress.com/2012/08/17/penyimpangan-kedua-kebodohan-dan-penyimpangan-habib-mundzir-terhadap-tauhid-asma-wa-sifat-dan-menyandarkan-penyimpangannya-kepada-pemahaman-salaf-adalah-sebuah-kedustaan-darinya/


Senin, 23 Juli 2012

Imam Ath Thurtusi – Membongkar Kedustaan Ihya’ Ulumuddin

Imam Ath Thurtusi Membongkar Kedustaan Kitab Ihya’ Ulumuddin
oleh Abu Fairuz

Peran ulama tak semata mengajari muridnya untuk memahami agama. Sebagai pelanjut risalah para nabi, ulama memiliki tanggung jawab nan luhur dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan kapasitas ilmu yang dimiliki serta komitmen untuk menegakkan kebenaran, ulama berada pada garda terdepan. Walau yang dihadapi seorang penguasa, lantaran komitmennya yang tinggi dalam menegakkan kebenaran, seorang ulama mesti tampil menasehatinya. Itulah yang telah dilakukan oleh Imam Ath Thurtusi. Ketika Al Afdhal bin Amir Juyusy, seorang penguasa yang hidup di Mesir yang lekat dengan seorang Nashrani kemudian Imam Ath Thurtusi tandang ke hadapannya. Dibentangkannya kain yang dibawanya di bawah sang penguasa. Lantas ia pun menasehati Al Afdhal bin Amir Juyusy hingga penguasa itu meneteskan air mata. Nasehatnya yang menghujam ke relung kalbu mampu mengubah cara pandang sang penguasa. Al Afdhal bin Amir Juyusy pun akhirnya menjatuhkan putusan untuk mengusir karib Nashraninya itu.
Kepeduliannya untuk senantiasa menasehati penguasa tak sampai di situ saja. Tatkala Makmun bin Al Batha’ihi memegang jabatan menteri di Mesir setelah Al Afdhal bin Amir Juyusy menanggalkan jabatannya, Imam Ath Thurtusi pun menorehkan tinta bagi sang menteri. Lahirlah sebuah buku yang bertajuk Siraj Al Mulk yang diperuntukkan Makmun bin Al Batha’ihi.

Begitulah kiprah Imam At Thurtusi. Keluhuran komitmennya mampu mengantarkannya ke jantung istana kekuasaan dengan tanpa meluruhkan harkat keulamaannya. Kilau ilmu telah menjadikannya bersikap syaja’ah (berani).

Kesahajaan Imam Ath Thurtusi terpancar pula dari kezuhudannya dalam memandang gemerlap dunia. Sanjungan ini banyak diucap oleh para ulama yang hidup sejamannya. Sebutlah misalnya Al Qadli Abu Bakar Ibnul Arabi. Beliau mengungkapkan bahwa Imam Ath Thurtusi adalah seorang yang sarat ilmu, yang menyandang keutamaan, zuhud, dan senantiasa mendahulukan yang teramat penting.
Begitu pula yang dinyatakan oleh Ibrahim bin Mahdi bin Qulaina. Disebutkannya bahwa Imam Ath Thurtusi adalah seorang zuhud dan ibadahnya lebih banyak dari ilmu yang ada padanya. Sederet pujian pun dinyatakan pula oleh Ibnu Basykuwal :

“Dia seorang imam, alim, zahid, wara’, taat beragama, tawadlu, teliti, tidak tamak dunia, dan rela dengan kekurangan,” kata Ibnu Basykuwal.
Suatu hari, Imam Ath Thurtusi mendatangi para fuqaha (alim ulama) yang kala itu tengah lelap tertidur. Dengan jiwa pemurahnya, Imam Ath Thurtusi mendatangi mereka satu per satu guna membagi bagikan dinar. Maka, saat para fuqaha itu terbangun, mereka pun melihat dinar dinar itu ada di hadapannya.
“Bila disodorkan kepadamu dua pilihan, urusan dunia atau akhirat, maka segeralah pilih urusan akhirat. Niscaya engkau akan mendapatkan keduanya,” begitulah nasehat Imam Ath Thurtusi yang dikatakannya kepada Al Qadli Abu Bakar Ibnul Arabi.

Dasar pijak keilmuan Imam Ath Thurtusi memang tak diragukan. Hal ini bisa dilihat dari deretan ulama yang menjadi rujukan di kala dirinya menuntut ilmu. Tercatat seperti Al Qadli Abul Walid Al Baqi di Saraqusthah. Melalui ulama ini, Imam Ath Thurtusi banyak mempelajari beragam masalah yang dipertentangkan. Beliau pun mengkaji pula Sunan Abi Dawud melalui seorang ulama bernama Abu Ali At Tustari di Basrah, Irak. Abu Abdillah Ad Damaghani Rizqillah At Tamimi, Abu Abdillah Al Humaidi, Abu Bakar Asy Syasyi, dan sederet ulama lainnya menandakan kesungguhan dan kedalaman semangatnya dalam menelaah agama. Itu pun merupakan bukti betapa beliau teramat sangat mencintai ilmu.

Kecintaan beliau untuk menghidupkan ilmu dibuktikan dengan banyaknya murid yang belajar kepadanya. Tersebutlah nama nama yang meriwayatkan dari beliau, seperti Abu Thahir As Silafi, Al Faqih Sallam bin Al Muqaddam, Jauhar bin Du’lu Al Muqri, Al Faqih Shalih binti Mu’afi Al Maliki, Abdullah bin Ath Thaf Al Azadi, dan banyak lainnya. Selain itu, beliau pun banyak pula mengguratkan karya dengan hadirnya buku buku yang mengupas keharaman lagu, tentang zuhud, ta’liq tentang khilaf, bid’ah, keharusan berbuat baik kepada orang tua, bantahan terhadap Yahudi, Al Umud fi Ushul, dan karya tulis lainnya.

Karya beliau yang tergolong monumental adalah buku berjudul Al Hawadits ‘ala Al Bida’. Buku ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan seseorang dari Andalusia berkenaan dengan penulis buku Ihya’ Ulumuddin, Abu Hamid Al Ghazali. Mengomentari penulis Ihya’ Ulumuddin ini, Imam At Thurtusi pernah menulis surat kepada Abdullah bin Muzhaffar sebagai berikut :
Semoga keselamatan atasmu. Aku pernah bertemu dan berbicara dengan Abu Hamid. Dia seorang yang cerdas dan sarat dengan pemahaman. Dia orang besar di masanya. Akan tetapi kemudian dia menyimpang dari jalannya para ulama. Masuk ke dalam debu para ‘ubbad (ahli ibadah) kemudian bertasawwuf. Dia menjauhi ilmu dan para ahlinya, masuk ke ilmu perasaan, dan was was setan mengalir dengan cepat. Dia mencela para fuqaha dengan madzhab madzhab filsafat dan rumus rumus Al Hallaj, menjauhi para fuqaha dan mutakallimin. Hampir saja dia murtad dari Islam.

Ketika dia menulis kitab Ihya’-nya, dia bersandar dan berbicara tentang ilmu ilmu ahwal dan rumus rumus sufi. Padahal dia juga tidak mengerti tentang itu. Akibatnya, dia tersungkur. Maka dia tidak mendapat tempat di kalangan para ulama kaum Muslimin dan orang orang zuhud. Dia pun memenuhi kitabnya dengan kedustaan yang diatasnamakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku tidak mengetahui sebuah kitab pun di dunia ini yang paling banyak berdusta atas nama Nabi kecuali kitab tersebut. Bila dikaitkan dengan madzhab madzhab filsafat, rumus rumus Al Hallaj, dan makna Rasail Shafa (sebuah tulisan yang berisi pemahaman bathiniyah dan ilhad) mereka menganggap bahwa kenabian adalah sebuah usaha. Nabi menurut mereka tidak lebih sama dengan orang yang utama. Dia berakhlak yang baik dan menjauhi main main. Dia melatih dirinya sampai bisa mengalahkan syahwat. Kemudian (setelah itu) menggiring orang orang dengan akhlak tersebut. Mereka mengingkari kalau Allah mengutus Rasul kepada manusia. Mereka menganggap mukjizat adalah titipan dan suatu kebetulan. Padahal Allah telah memuliakan Islam, menjelaskan hujjah hujjahnya, dan memutus alasan (bantahan, pent.) dengan dalil dalil.

Orang-orang yang ingin menolong Islam dengan madzhab filsafat dan rasio ilmu mantiq adalah seperti orang yang ingin mencuci baju dengan air kencing. Kemudian dia membawakan ucapan yang mengguncangkan dan mengagetkan, mengharap dan merindukan, hingga bila jiwa-jiwa telah dihiasi dengan itu, ia akan berkata :
“Ini ilmu muamalah. Setelah itu ilmu mukasyafah.” Hal itu tidak boleh ditulis dalam buku. Dia menambahkan : “Ini termasuk rahasia hati dan dilarang untuk disebarkan.”

Inilah rekayasa orang orang bathiniyah dan para penipu dalam agama, menganggap remeh dengan yang ada, dan menyebut jiwa dengan yang kosong (tidak ada). Inilah godaan kepada keyakinan jiwa atau hati dan menghina ucapan Al Jamaah. Jika orang ini (Al Ghazali) meyakini apa yang ia tulis, tidak menutup kemungkinan dia dihukumi sebagai orang kafir. Adapun jika tidak meyakini, alangkah hebat kemungkinan untuk dinyatakan sesat.

Adapun tentang pembakaran buku ini (Al Ihya’), demi jiwaku, bila dia menyebar di kalangan orang-orang yang tidak mempunyai ilmu, dengan racunnya yang membunuh, dikhawatirkan orang yang membaca akan meyakini bahwa hal itu adalah kebenaran. Membakar kitab itu sama dengan membakar mushaf yang dibakar oleh para shahabat dengan tujuan agar tidak menyelisihi mushaf Utsmani … .
Bahkan menurut Imam At Thurtusi, karya Abu Hamid Al Ghazali ini tak pantas disebut Ihya’ Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama), tetapi lebih pantas disebut dengan Imatatu Ulumuddin (mematikan ilmu ilmu agama).

Itulah sosok ulama, Imam At Thurtusi. Seorang ulama yang berasal dari Thurtusyah, wilayah sebelah utara Andalusia, lahir 451 H dengan nama Abu Bakar Muhammad bin Al Walid bin Khalaf bin Sulaiman bin Ayyub Al Fihri Al Andalusi Ath Thurtusi. Beliau juga digelari Al Imam, Al ‘Allamah, Al Qudwah, Az Zahid, Asy Syaikh madzhab Maliki. Beliau wafat di Iskandariyah, Mesir pada Jumadil Ula 530 H. Semoga Allah merahmatinya.

(Dikutip dari terjemah tulisan Imam Ath Thurtusi, dimuat dalam SALAFY 32/1420/1999/Ibrah])
http://www.salafy.or.id/fatwa-fatwa/imam-ath-thurtusi-membongkar-kedustaan-ihya-ulumuddin/

Sabtu, 14 Juli 2012

Untukmu yang Belum Tahu Tentang Siapa Sebenarnya Habib Mundzir…?


(Al-Ustadz Abu Ibrahim ‘Abdullah Al-Jakarta)
Siapa yang tidak kenal dengan Habib Mundzir Al-Musawa dengan majelis Rasulullahnya?,sebagian orang (orang-orang awam yang jauh dari ilmu syar’i), orang-orang yang fanatik, dan orang-orang yang tersesat menganggapnya sebagai seorang yang memiliki ilmu atau bahkan seorang ulama. Namun bagi mereka yang sedikit saja mempunyai ilmu dan pemahaman agama yang baik dan benar maka dengan mudah dan jelas dapat menilai siapa Habib Mundzir sebenarnya. Namun karena begitu besar fitnah yang dibawa oleh Habib Mundzir maka dari itu kami merasa terpanggil untuk menjelaskan kepada ummat tentang siapa sebenarnya Habib Mundzir dalam rangka nasihat kepada ummat.
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran : 104)
dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».
“Ad-Din (agama) adalah nasehat. Kami bertanya : untuk siapa? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan Imam-imam kaum muslimin serta seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad-Daarii)
Insya Allah di bawah ini penjelasan sederhana tentang penyimpangan dan kesesatan Habib Mundzir :
Pertama : Kebodohan dan penyelisihan Habib Mundzir terhadap makna dan hakekat tauhid
Bagaimana mungkin seorang yang dianggap sebagai seorang yang memiliki ilmu atau bahkan seorang ulama oleh para pengikutnya ternyata seorang yang bodoh terlebih lagi dalam masalah tauhid, yang merupakan pondasi agama kita dan inti dakwah para Rasul. Hal ini diketahui dari sepak terjang Habib Mundzir, dari perkataannya, dari ceramah-ceramahnya dan dari perbuatan dan amalannya. Di sisi Habib Mundzir tauhid adalah tauhid yang orang musyrik zaman dahulu pun menyakininya yaitu sebatas pada tauhid Rububiyyah yaitu tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada yang pemberi rezeki selain Allah dan tidak ada yang mengatur alam semesta ini selain Allah.
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman mengkhabarkan bahwa orang musyrik pun mengimani hal ini :
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
“ Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31).
Berkata Ibnu Katsir Rahimahullah :
{ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ } أي: هم يعلمون ذلك ويعترفون به، { فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ } أي: أفلا تخافون منه أن تعبدوا معه غيره بآرائكم وجهلكم؟
“ (Maka mereka akan menjawab: “Allah”). Yaitu mereka mengetahui dan mengakui yang demikian itu (Allah sebagai pencipta, pemberi rezki dll –ed), “(Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” yaitu kenapa kalian tidak takut kepada-Nya yang kalian beribadah bersama-Nya yang lainnya dengan pendapat-pendapat kalian dan dengan kebodohan kalian.” (Tafsir Ibnu Katsier, Jilid 4 hal 287, cet. Daarul Hadits Al-Qaahirah)
Berkata salah seorang ulama ahlussunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al-Whusoby hafidzahullah :
ولم ينكر هذا القسم أحد إلا فرعون والنمرود والدهرية قديما والشيوعية حديثا, والمنكر له يعتبر كافرا ملحدا
“ Tidak ada yang mengingkari tauhid dengan jenis ini (tauhid rububiyyah) kecuali fir’aun, namrud, Ad-Duhriyah di masa lalu dan komunis di masa kini. Orang yang mengingkari jenis ini terhitung kafir mulhid (atheis).” (Al-Qaulul Mufiid Fi Adilatit Tauhid : 78, Cet. Maktabah Al-Irtsaad, Shan’a Yaman)
Dan hal ini (keimanan/pengakuan terhadap tauhid rububiyyah) semata tidaklah cukup sampai seseorang mentauhidkan Allah di dalam beribadah. Yaitu seseorang tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya. Dia menyerahkan seluruh ibadahnya hanya kepada Allah Subhaanahu wata’aala dan tidak kepada yang lainnya. Shalatnya, doanya, menyembelih hewannya, tawakalnya dan seluruh ibadahnya hanya dia peruntukkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya siapapun orangnya. Namun Habib Mundzir bodoh terhadap hal ini (yaitu memahami tauhid uluhiyyah/ibadah). Sehingga mereka menolak untuk di ajak beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah, tetapi yang dia inginkan selain beribadah kepada Allah juga beribadah kepada orang shalih, baik itu nabi atau yang lainnya yang mereka anggap wali (1). Mereka menolak untuk diajak bersandar dan bertawakal hanya kepada Allah semata tetapi yang mereka inginkan bersandar dan bertawakal kepada Allah dan juga bersandar dan bertawakal kepada kuburan-kuburan yang mereka anggap wali. Padahal Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)
Berkata salah seorang ulama Yaman serta ulamanya kaum muslimin, Al-Imam Shan’ani Rahimahullah :
“ Segala puji bagi Allah yang tidak menerima tauhid rububiyyah dari hamba-Nya, sampai mereka mentauhidkan-Nya dalam ibadah dengan seluruh bentuk pengesaan (penyerahan ibadah hanya kepada-Nya). Sehingga mereka tidak mengambil tandingan bagi Allah, tidak menyeru (berdoa) bersama Allah siapapun, tidak bersandar kecuali kepada-Nya, tidak berlindung pada setiap keadaan kecuali hanya kepada-Nya, tidak berdoa kepada-Nya dengan selain dari asmaul husna (nama-nama yang indah) dan tidak bertawasul kepada-Nya dengan perantaraan pemberi syafaat.
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلّا بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” (Qs. Al-Baqarah : 255)
Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, satu-satunya Rabb dan sesembahan yang haq, dan muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya yang Allah perintah untuk mengatakan :
قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ
“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. “ (Qs. Al-A’raf : 188). (Kitab Tah-hirul I’tiqad ‘An Adranil Ilhad : 22)
Berkata Syaikh Al-Allamah Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah :
وهذا القسم كفر به وجحده أكثر الخلق
“ Macam tauhid ini (tauhid uluhiyyah/ibadah -ed) yang kebanyakan manusia mengingkari dan menolaknya.” (Al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitabit Tauhid : 12, Cet. Dar Ibnul Jauzi)
Berkata salah seorang ulama ahlussunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al-Whusoby hafidzahullah :
والذي أنكروا هذا القسم هم المشركون قديما والقبوريون حديثا
“Orang-orang yang mengingkari tauhid jenis ini (tauhid uluhiyyah/ibadah –ed) adalah orang-orang musyrik pada zaman dahulu dan para penyembah kuburan pada masa sekarang.” (Al-Qaulul Mufiid Fii Adilatit Tauhid : 80, Cet. Maktabah Al-Irtsaad, Shan’a Yaman)
___________________
Catatan
(1) Diantara sekian banyak bukti dari apa yang kami sampaikan adalah perkataan Habib Mundzir berikut ini, Habib Munzir menyatakan pada bukunya “Meniti Kesempurnaan Iman” (pada halaman 4-5): “Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat…” (sampai di sini penukilannya)
Bantahannya
Wahai Habib Mundzir, doa itu adalah ibadah, tidak boleh dipalingkan untuk selain Allah. Dan diantara bentuk doa adalah istighatsah (memohon pertolongan setelah terjadinya musibah). Jika dipalingkan kepada orang mati maka mutlak bentuk kesyirikan akbar. Siapapun orang mati yang ditujukan doa kepadanya.
Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kapada Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Qs. Al-Mu’min : 60)
Berkata Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad Qaasim An-Najdi Rahimahullah : “ Dinamakan (pada ayat ini) doa adalah ibadah, dan datang dalam Al-Qur’an dalam banyak tempat (ayat) bahwasanya doa adalah ibadah, maka memalingkannya kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikkan akbar (besar).” (Haasiyah Tsalasatul Ushuul : 36)
Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman :
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (Qs. Al-Anfal : 9)
Berkata Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad Qaasim An-Najdi Rahimahullah
“ Ditunjukkan pada ayat (ini) bahwasanya istighatsah adalah ibadah, maka apabila dipalingkan kepada selain Allah merupakan perbuatan kesyirikan.” (Haasiyah Tsalasatul Ushuul : 36)
Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasululloh shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
الدعاء هو العبادة
” Doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari di dalam adabul mufrod dishahihkan oleh Syaikh Muqbil di Shahihul musnad mima laysa fi shohihain)
Berkata Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz Bin Baaz Rahimahullah : ”Adapun berdoa kepada orang mati, atau yang tidak hadir di hadapannya yang tidak mendengar ucapanmu, atau berdoa kepada patung, atau jin atau pohon dan yang selainnya maka ini perbuatan syirik orang musyrik ” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul : 14)
Bersambung insya Allah pada penyimpangan dan kesesatan berikutnya….
Sumber:http://membantahquburi.wordpress.com