Tampilkan postingan dengan label Siroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siroh. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

KISAH WANITA DENGAN MASKAWIN (MAHAR) TERMAHAL & TERBESAR : UMMU SULAIM RUMAISHA’ BINTI MALHAN

Dialah UMMU SULAIM radhiyallohu ‘anha…,

Ummu Sulaim mau menikah dengan Abu Thalhah dengan syarat Abu Thalhah masuk Islam. Syarat ini merupakan bukti tentang unggulnya akal dan kuatnya keimanan Ummu Sulaim terhadap Rabb-nya. Ummu Sulaim tidak mensyaratkan harta, kedudukan dan lainnya. Bahkan pandangan yang pertama dan yang didahulukan adalah keshalihan suami. Padahal Abu Thalhah telah membujuknya dengan harta, emas dan perak agar mau menerima untuk menjadi suaminya. Tetapi dia menolak yang selain Islam.

Melihat realitas kebanyakan kaum wanita dimana sekarang ini tentang sisi pandang mereka mengenai pernikahan, akan terlihat perbedaan yang jelas dan jarak yang jauh antara mereka dengan generasi Ummu Sulaim.

Pikiran dan ambisi wanita di zaman sekarang tentang pernikahan adalah murni materi. Dia akan melihat harta yang dimiliki oleh sang pelamar, menuntut untuk dipenuhi pembantu, sopir, dan lainnya. Namun dia lalai untuk mencari tentang agama sang pelamar dan ketaqwaannya kepada Alloh. Tidak ragu lagi ini adalah bukti tentang kurangnya fiqh sekelompok wanita tsb.

Padahal apa perlunya harta dan kedudukan bagi istri apabila suaminya tidak takut kepada Alloh dan bertaqwa kepada-Nya, bahkan menyia-nyiakan perintah Alloh dan berani untuk melanggar batasan-batasanNya ??? Suami yang demikian keadaannya pantas untuk tidak dipercaya oleh istri yang berada didalam perlindungan dan kekuasaannya.

Benarlah Rosulullah sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridha dalam hal agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia. Apabila kalian tidak mengerjakannya, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar.”
Dan pantaslah Ummu Sulaim radhiyallohu ‘anha sebagai pemilik mahar termahal dan terbesar secara mutlak.

Ummu Sulaim binti Malhan

Nama lengkapnya adalah Rumaisha’ Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Naja al-Anshaiyah al-Khazrajiyah.

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dihiasi pula dirinya dengan ketabahan, kebijaksanaan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berpikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena, beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama malik bin Nadhar untuk segera menikahinya yang akhirnya melahirkan Anas bin Malik.

Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid mulai muncul, orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Ummu Sulaim termasuk golongan petama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya di dalam masyarakat jahiliyah penyembah behala yang beliau buang tanpa ragu.

Adapun kalangan petama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik, suaminya, yang barru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?” Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab, “Tidak, bahkan aku telah beriman.”

DOWNLOAD KAJIAN MP3 “KISAH UMMU SULAIM”
1a Wanita termahal Maharnya 6.4 MB 
1b Wanita termahal Maharnya 6.6 MB 
2a Wanita termahal Maharnya 6.0 MB 
2b Wanita termahal Maharnya 6.3 MB    

“Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan kau tidak meminta yang selain dari itu.” (Lihat an-Nasa’i VI/144).

Sungguh ungkapan tesebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurrna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cedas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darrinya untuk dipeisti, atau ibu bagi anak-anaknya?”

Tanpa terasa lisan Abu Thahah mengulang-ulang, “Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, “Wahai Anas nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah.” Kemudian beliau pun dinikahkan Islam sebagai mahar. Oleh karena itu, Tsabit meiwayatkan hadis darri Anas:
Aku belum penah mendengarr seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam.” (Sunan Nasa’i VI/114).

Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thahah dengan kehidupan suami istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.

Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami istri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan orang da’iyah.
Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama, yakni Ummu Sulaim. sehingga, pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.

Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin malik yang menceitakan kepada kita bagaimana pelakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmenya tehadap Alquran sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempuna), sebelu kamu menafkahkan sebagian hata yang kamu cintai.” (Ali Imran: 92).

Seketika Abu Thalhah bediri menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah berfiman di dalam kitabnya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah degan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesukamu ya Rasulullah.”

“Bagus… bagus… itulah harta yang menguntungkan… itulah harta yang mnguntungkan…. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu.”

Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada anak kerabatnya dan Bani dari pamanya.”

Allah memuliakan kedua orang suami istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan dengan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu Umair. Suatu ketika anak tersebut bemain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tesebut untuk meghibur dan bermain dengannya, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh anak burung pipit itu?” (Al-Bukhari VII/109).

Allah berkehendak untuk menguji keduanya denga seorang anak yang cakap dan dicintai. Suatu ketika Abu umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahya apabila kembali dari pasar, petama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenag sebelum melihat anaknya.

Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka Ibu mukminah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridha dan baik. Sang ibu membaringkannya di temp[at tidur sambil senantiasa mengulangi, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Beliau berpesan kepada anggota keluarganya, “Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya.”

Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan semangat menyambut suaminya dan menjawab seperti biasanya, “Apa yang dilakukan oleh anakku?” Beliau menjawab, “Dia dalam keadaan tenang.”

Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena kahawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulim mendekati beliau dan memperssiapkan makan malam baginya, lalu beliau makan dan minum, sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanya pun berbuat sebagaimana layaknya suami istri.

Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan telah mencampurinya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya, maka beliau memuji Allah karena abeliau tidak membuat risau suaminya dana beliau bioarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

Tatkala di akhir malam beliau berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipan tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut menolaknya?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak boleh.” Kemudian Ummu Sulim berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?” Abu Thalhah berkata, “Berarti mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu adalah titipan dari Allah dan Allah telah mengambil, maka tabahkanlah hatimua dengan meninggalnya anakmu.”

Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah, “Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?”

Beliau mengulangi kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.

Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, selanjutnya Anas berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (yakni menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata, “Berikanlah nama bayi ya Rasulullah!” beliau bersabda, “Namanya Abdullah.”

Ubadah, salah seorang rijal sanad berkata, “Aku melihat dia memiliki tujuh orang anak yang kesemuanya hafal Alquran.”

Di antara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka aberdua yang manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata, “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, ‘Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar’. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada di rumahnya, namun beiau menjawab, ‘Demi yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya sama. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya’. Maka berdirilah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata, ‘Saya, ya Rasulullah’. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim), “Apakah kamu memiliki makanan?” Istrinya menjawab, ‘Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak’. Abu Thalhah berkata, ‘ Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk, maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah aberada di tangan, maka berdirilah dan matikanlah lampu’. Hal itu dilakukan oleh Ummu Sulaim. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut, sementara kedua istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah’.”

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian.”

Di akhir hadis disebutkan, maka turunlah ayat:
Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9).

Abu Thalhah tak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan kabar gembira itu kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dlam Alquran yang senantiasa dibaca. Selain berdakwah di lingkungannya, Ummu Sulaim juga turut andil dalam berjihad bersama pasukan kaum muslimin.

Anas berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berperang bersama Ummu Sulaim dan para wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka.”

Begitulah, Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim, bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli jannah.



http://kaahil.wordpress.com/2013/04/18/kisah-wanita-dengan-maskawin-mahar-termahal-terbesar-ummu-sulaim-rumaisha-binti-malhan-biografi-ummu-sulaim-kisah-pernikahan-abu-thalhah-dengan-ummu-sulaim-mahar-prnikahan-ummu-sulai/
 

Kamis, 16 Mei 2013

Ulama yang Menyamar sebagai Pengemis

Imam Baqi bin Mikhlad Nama beliau. Beliau dari negeri yang sangat jauh yaitu Andalusia sekarang bernama Spanyol. Dengarkan kisah suka dan dukanya dalam mengambil Ilmu kepada Imam Ahmad di Bagdad (Irak) selamat menyimak.

Beliau bercerita : Saya berangkat dengan berjalan kaki dari Andalusia menuju ke Baqdad untuk bertemu dengan Imam Ahmad untuk mengambil hadits dari beliau. Ketika saya mendekati Baqdad saya mendapati informasi tentang ujian yang menimpa Imam Ahmad sayapun menyadari bahwa Imam Ahmad dilarang untuk mengajar dan mengumpulkan manusia untuk mengajar mereka. Hal inipun membuat saya sedih berkepanjangan karena saya datang dari negeri yang sangat jauh dengan berjalan kaki tapi Imam Ahmad dilarang untuk mengajar.

Sesampainya saya di Baqdad saya menaruh barang-barang saya disebuah kamar dan segera mencari tahu keberadaan Imam Ahmad, hingga akhirnya saya mendapatkan kabar tentang keberadaanya. Dengan segera saya ke rumahnya kemudian mengetuk pintu rumah Imam Ahmad dan beliau sendiri yang membukakan pintu kepada saya dan saya pun berkata “Wahai Abu Abdillah, saya seorang yang jauh rumahnya, seorang pencari hadits dan penulis sunnah, saya tidak datang ke sini kecuali untuk itu. Beliau ( Imam Ahmad) berkata “Dari mana anda ?” saya menjawab “Dari Magrib Al-Aqsha” beliau ( Imam Ahmad) berkata “Dari Afrika?” Saya menjawab “Lebih jauh dari itu, saya melewati laut dari negeri saya untuk menuju ke Afrika”  beliau berkata “Negara asalmu sangat jauh, tidak ada yang lebih saya senangi melebihi dari pemenuhanku atas keinginanmu dan saya akan ajari apa yang kamu inginkan tetapi saat ini saya sedang difitnah dan dilarang untuk mengajar”.  Saya pun berkata kepadanya “Saya telah mengetahui hal itu wahai Imam, Wahai Abu Abdillah! Saya tidak dikenal orang didaerah sini dan asing ditempat ini. Jika anda mengizinkan saya akan mendatangi Anda setiap hari dengan memakai pakaian seorang pengemis kemudian berdiri di depan pintu Anda dan meminta shadaqah dan bantuan. Wahai Abu Abdillah masukkanlah saya lewat pintu ini lalu ajarkan kepadaku walaupun hanya satu hadits dalam sehari”. Beliau( Imam Ahmad ) berkata : “Saya sanggup tetapi dengan syarat Anda jangan datang ke tempat-tempat kajian dan ulama hadits yang lain agar mereka tidak mengenalmu sebagai seorang penuntut ilmu”. Saya menjawab “saya terima persyaratan itu”.

Baqi ibnu Mikhlad berkata “Setiap hari saya mengambil tongkat dan saya pun membalut kepala saya dengan sobekan kain dan memasukkan kertas serta alat tulis saya didalam kantong baju saya kemudian mulailah saya mendatangi rumah Imam Ahmad dan berdiri di depan rumah beliau dan berkata “Bersedekahlah kepada seorang yang miskin agar mendapatkan pahala dari Alloh. Maka Imam Ahmad pun keluar untuk menemui saya dan memasukkan saya lewat pintunya kemudian mengajariku dua atau tiga hadits bahkan lebih dari itu hingga saya berhasil mengumpulkan hadits dari beliau sebanyak 300 hadits. Setelah Alloh mengangkat kesulitan yang ada pada Imam Ahmad yang mana Khalifah Al-Makmun yang mengajak kepada perbuatan bid’ah telah meninggal dunia dan digantikan oleh Al-Mutawakkil (seorang yang membelah sunnah) maka Imam Ahmad menjadi terkenal dan kedudukan beliau menjadi tinggi. Pada saat itu setiap saya mendatangi Imam Ahmad di majelis beliau yang besar dan murid-murid yang begitu banyak, beliau melapangkan tempat khusus untukku dan memerintahkan kepada saya untuk mendekat dengan beliau dan dia berkata kepada murid-muridnya “Inilah orang yang berhak dinamakan penuntut ilmu” .
( Sumber Siyar alamu Nubala Imam Adzahabi)

Mutiara Kisah :
1)     Mengenal sosok ulama dari Andaulusia yang bernama Baqi ibnu Mikhlad
2)     Mengenal sosok Imam Ahmad yang teguh mempertahankan kebenaran
3)     Kesungguhan para ulama dalam menuntut ilmu
4)     Kesabaran para ulama dalam mengambil ilmu walaupun harus menjadi seorang pengemis
5)     Alloh akan senantiasa membantu hamba-hambanya selama hamba tersebut membantu agama Alloh .

Penulis : Ustadz Abu Imron Sanusi
Sumber : Kisah-kisah Keteladanan, Kepahlawanan, Kejujuran, Kesabaran, Menggugah, serta Penuh dengan Hikmah dan Pelajaran Sepanjang Masa. Penerbit : Maktabah At-Thufail, Panciro-Gowa (Makassar-Sulsel).

sumber : http://almakassari.com/ulama-yang-menyamar-sebagai-pengemis.html

Kamis, 14 Maret 2013

KISAH RABI' BIN KHUTSYAM dan SEORANG WANITA YANG CANTIK LUAR BIASA

Ada suatu kaum yang menyuruh kepada seorang wanita yang memiliki kecantikan yang luar biasa untuk menggoda Rabi' bin Khutsyam, mereka akan memberikan upah 1000 dirham jika wanita tersebut dapat menaklukkan Rabi' bin Khutsyam.

Wanita itu pun memakai pakaian yang paling indah, dan memakai parfum yang paling harum, kemudian ia menampilkan dirinya di hadapan Rabi' ketika beliau keluar dari masjidnya. maka Rabi' pun melihat wanita itu, keadaan wanita itu menimbulkan rasa takut dalam hati Rabi', lalu wanita itu datang menghadap Rabi' dalam keadaan tidak menutup wajahnya. Rabi' pun berkata padanya:


"Bagaimana keadaanmu andaikata penyakit demam menimpamu lalu menyebabkan berubah rupa dan kecantikanmu, seperti yang kulihat sekarang ini?"

"Bagaimana keadaanmu apabila malaikat maut menjemputmu lalu memutuskan urat jantungmu?"
"Bagaimana keadaanmu apabila suatu saat kamu ditanya oleh malaikat Mungkar dan Nakir?"
Mendadak wanita itu pun menjerit ketakutan dengan suara yang keras lalu jatuh pingsan. Demi Allah, setelah siuman wanita itu berubah menjadi wanita yang sangat tekun beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, hingga di saat kematiannya seolah-olah wanita itu seperti batang pohon kurma yang terbakar.

[Dinukil dari Buku: Mayat Mayat Cinta (Kisah Tragis Para Pemuja Cinta). Penerbit: tooBagus Publishing, Bandung. Cet I Hal 160]
http://pemetik-ilmu.blogspot.com/2013/01/kisah-rabi-bin-khutsyam-dan-seorang.html 

Sabtu, 01 Desember 2012

Perang Dzatu Riqa’, Dumatul Jandal dan Muraisi’

Ditulis Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Berikut ini beberapa paparan peristiwa dalam perjalanan hidup Rasulullah dan para shahabatnya yang kita bisa mengambil banyak pelajaran darinya. Diantaranya kisah Juwairiyah bintu Al-Harits, wanita yang paling banyak membawa berkah bagi kaumnya dan kisah disyariatkannya tayamum.

Perang Dzatu Riqa’ atau Perang Najd terjadi di bulan Jumadil Ula tahun keempat Hijriyah. Rasulullah  berangkat sendiri memimpin pasukan berjumlah 400 orang. Namun setelah bertemu dengan pasukan dari Ghathafan, tidak terjadi pertempuran, hanya saja beliau shalat bersama para sahabatnya, shalat khauf. Demikian dinukil oleh Ibnul Qayyim dari Ibnu Ishaq dan sejumlah ahli sejarah.

Ibnul Qayyim mengulas bahwa pendapat ini keliru (menyatakan waktu itulah terjadinya shalat khauf-pen). Sehingga kemudian beliau dalam Zaadul Ma’ad (3/253) menyatakan: “Yang benar, mengalihkan kisah perang Dzatu Riqa’ dari tempat ini, sampai pada masa setelah (menguraikan) kisah perang Khandaq bahkan setelah peristiwa Khaibar.”

Adapun perang Dumatul Jandal yang juga dipimpin Rasulullah  terjadi tahun kelima Hijriyah. Sebabnya, beliau mendengar ada sejumlah pasukan yang ingin mendekati Madinah, sedangkan jarak antara mereka dengan Madinah sekitar perjalanan lima belas hari, demikian juga jarak mereka ke Damaskus. Rasulullah  berangkat dengan 1000 pasukan, disertai penunjuk jalan dari Bani ‘Udzrah yang bernama Madzkur. Ketika sudah mulai mendekat ternyata mereka menuju ke arah barat. Dan mereka menemukan jejak-jejak unta dan kambing, lalu mereka menyerang ternak tersebut serta penggembalanya, beberapa orang terbunuh dan yang lainnya melarikan diri.

Berita ini sampai kepada penduduk Dumatul Jandal, merekapun lari bercerai berai. Rasulullah  turun di pekarangan mereka dan tidak menemukan seorangpun. Beliau tinggal di sana beberapa hari mengirim sejumlah pasukan ekspedisi, membagi-bagi pasukan, namun tidak mendapatkan apapun. Kemudian Rasulullah kembali ke Madinah. Pada kejadian inilah beliau mengadakan kesepakatan dengan ‘Uyainah Bin Hishn.

Sementara perang Al-Muraisi’ atau perang Bani Mushthaliq terjadi pada bulan Sya’ban tahun kelima Hijriyah. Sebabnya, Al-Harits bin Abi Dhirar bin Al-Mushthaliq bertolak bersama kaumnya dan siapa saja yang mampu dari kalangan Arab untuk memerangi Rasulullah. Maka beliau mengutus Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslami mencari berita tentang mereka. Dia bertemu dengan Al-Harits sendiri, kemudian mengajaknya bicara. Akhirnya Buraidah kembali kepada Rasulullah dan menceritakan perihal mereka. Maka Rasulullah  menganjurkan kaum muslimin untuk segera berangkat.

Ternyata, sejumlah munafikin ikut serta dalam peristiwa ini, padahal dalam peperangan sebelumnya mereka tidak pernah ikut. Rasulullah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pengganti di Madinah. Namun ada pula yang mengatakan Abu Dzar atau Numailah bin ‘Abdillah Al-Laitsi.

Rasulullah berangkat pada hari Senin. Berita ini sampai kepada Al-Harits bin Abi Dhirar, sementara mata-mata yang dikirimnya mengintai gerak-gerik kaum muslimin terbunuh. Akhirnya mereka sangat ketakutan, demikian pula orang-orang Arab yang menyertai mereka. Rasulullah  sampai di mata air Al-Muraisi’.

Dalam perang ini, dua orang isteri Rasulullah  ikut serta yaitu Ummu Salamah dan ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma. Setelah itu Rasulullah  menyergap mereka dan berhasil menawan anak-anak dan wanita mereka serta merampas harta mereka. Demikian diceritakan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma:
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَغَارَ عَلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ وَهُمْ غَارُّونَ وَأَنْعَامُهُمْ تُسْقَى عَلَى الْمَاءِ فَقَتَلَ مُقَاتِلَتَهُمْ وَسَبَى ذَرَارِيَّهُمْ وَأَصَابَ يَوْمَئِذٍ جُوَيْرِيَةَ
“Sesungguhnya Nabi n menyergap Bani Al-Mushthaliq ketika mereka lengah dan memberi minum ternak-ternak mereka. Beberapa orang terbunuh, dan beliau menawan anak-anak mereka dan pada waktu itulah tertawan pula Juwairiyah.”

Juwairiyah binti Al-Harits ketika itu tertawan dan menjadi bagian Tsabit bin Qais, namun wanita itu berusaha menebus dirinya dan meminta bantuan Rasulullah .

Imam Ahmad dan Abu Daud menceritakan hal ini dalam Sunan dan Musnad dari ‘Aisyah x:
وَقَعَتْ جُوَيْرِيَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ بْنِ الْمُصْطَلِقِ فِي سَهْمِ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ أَوْ ابْنِ عَمٍّ لَهُ فَكَاتَبَتْ عَلَى نَفْسِهَا وَكَانَتْ امْرَأَةً مَلَّاحَةً تَأْخُذُهَا الْعَيْنُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَجَاءَتْ تَسْأَلُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كِتَابَتِهَا فَلَمَّا قَامَتْ عَلَى الْبَابِ فَرَأَيْتُهَا كَرِهْتُ مَكَانَهَا وَعَرَفْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَرَى مِنْهَا مِثْلَ الَّذِي رَأَيْتُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا جُوَيْرِيَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ وَإِنَّمَا كَانَ مِنْ أَمْرِي مَا لَا يَخْفَى عَلَيْكَ وَإِنِّي وَقَعْتُ فِي سَهْمِ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ وَإِنِّي كَاتَبْتُ عَلَى نَفْسِي فَجِئْتُكَ أَسْأَلُكَ فِي كِتَابَتِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَلْ لَكِ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ قَالَتْ وَمَا هُوَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُؤَدِّي عَنْكِ كِتَابَتَكِ وَأَتَزَوَّجُكِ قَالَتْ قَدْ فَعَلْتُ قَالَتْ فَتَسَامَعَ تَعْنِي النَّاسَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَزَوَّجَ جُوَيْرِيَةَ فَأَرْسَلُوا مَا فِي أَيْدِيهِمْ مِنْ السَّبْيِ فَأَعْتَقُوهُمْ وَقَالُوا أَصْهَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا رَأَيْنَا امْرَأَةً كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً عَلَى قَوْمِهَا مِنْهَا أُعْتِقَ فِي سَبَبِهَا مِائَةُ أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ بَنِي الْمُصْطَلِقِ
“Juwairiyah binti Al-Harits bin Al-Mushthaliq jatuh sebagai bagian Tsabit bin Qais bin Syammas atau anak pamannya. Lalu dia berusaha menebus dirinya. Juwairiyah seorang wanita yang manis dan menarik. Dia datang meminta bantuan Rasulullah  untuk menebus dirinya. Tatkala dia tiba di depan pintu, saya melihatnya dan tidak senang. Saya tahu bahwa Rasulullah   tentu juga melihat apa yang kulihat.
Diapun berkata: “Ya Rasulullah, saya adalah Juwairiyah bintu Al-Harits. Persoalanku sudah anda ketahui dan saya jatuh sebagai jatah Tsabit bin Qais bin Syammas, tapi saya ingin menebus diriku. Maka saya pun datang meminta bantuan anda dalam urusan ini.”
Rasulullah  berkata:”Maukah kamu yang lebih baik daripada itu?”
Kata Juwairiyah:”Apa itu, ya Rasulullah?”
Kata beliau:”Saya tunaikan tebusanmu, dan saya menikahimu.”
Diapun berkata:”Saya lakukan.”
Kata ‘Aisyah: “Kaum musliminpun mendengar bahwa Rasulullah  telah menikahi Juwairiyah, maka merekapun segera melepaskan tawanan yang ada di tangan mereka. Dan mereka membebaskan tawanan itu, kata mereka:”Ipar-ipar Rasulullah .”
Dan kami tidak pernah melihat seorang wanita yang paling banyak membawa berkah bagi kaumnya dibandingkan Juwairiyah. Karena dia, akhirnya dibebaskan seratus keluarga Bani Al-Mushthaliq.”

Ibnul Qayyim menukil dari Ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa dalam perang ini juga jatuhlah kalung ‘Aisyah dan mereka tertahan di tempat yang tidak ada airnya, lalu turunlah ayat tayammum (surat Al-Maidah ayat 6). Demikian yang dirajihkan oleh Syaikh kami Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri hafizhahullahu setelah menukil sejumlah pendapat ‘ulama di antaranya Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Adz-Dzahabi dan lain-lainya.[1]

Kisah tentang tayammum ini juga menunjukkan keutamaan keluarga Abu Bakr Ash Shiddiq z. Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari ‘Aisyah isteri Nabi n wa x:
قَالَتْ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ أَوْ بِذَاتِ الْجَيْشِ انْقَطَعَ عِقْدٌ لِي فَأَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْتِمَاسِهِ وَأَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ فَأَتَى النَّاسُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَقَالُوا أَلَا تَرَى مَا صَنَعَتْ عَائِشَةُ أَقَامَتْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسِ وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعٌ رَأْسَهُ عَلَى فَخِذِي قَدْ نَامَ فَقَالَ حَبَسْتِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسَ وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَعَاتَبَنِي أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَجَعَلَ يَطْعُنُنِي بِيَدِهِ فِي خَاصِرَتِي فَلَا يَمْنَعُنِي مِنْ التَّحَرُّكِ إِلَّا مَكَانُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى فَخِذِي فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَصْبَحَ عَلَى غَيْرِ مَاءٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ فَتَيَمَّمُوا فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ الْحُضَيْرِ مَا هِيَ بِأَوَّلِ بَرَكَتِكُمْ يَا آلَ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ فَبَعَثْنَا الْبَعِيرَ الَّذِي كُنْتُ عَلَيْهِ فَأَصَبْنَا الْعِقْدَ تَحْتَهُ
“Dia berkata:”Kami berangkat bersama Rasulullah  dalam sebagian perjalanannya (safarnya). Ketika tiba di Baida` atau Dzatul Jaisy, putuslah kalungku. Maka Rasulullah  berhenti untuk mencarinya, dan rombongan pun ikut berhenti bersama beliau sedangkan mereka tidak singgah di tempat yang ada airnya. Kemudian sebagian orang datang menemui Abu Bakr dan mengatakan:”Tidakkah kau lihat apa yang dilakukan ‘Aisyah, dia menahan Rasulullah dan rombongan sementara mereka tidak mempunyai air.”

Lalu Abu Bakr datang, sementara Rasulullah sedang tidur meletakkan kepalanya di atas pahaku. Dia berkata: “Kamu tahan Rasulullah dan rombongan sementara mereka tidak mempunyai air.” Abu Bakr menusukkan tangannya ke pinggangku, namun tidak ada yang menghalangiku begerak selain posisi Rasulullah di atas pahaku. Keesokan harinya Rasulullah  bangun dalam keadaan tidak ada air. Maka Allah menurunkan ayat tayammum. Kemudian mereka semua bertayammum. Lalu berkatalah Usaid bin Hudlair: “Ini bukan berkah yang pertama dari kalian wahai keluarga Abu Bakr.”
Setelah itu kami bangunkan unta yang membawaku, ternyata kalung itu di bawahnya.”
Adapun ayat tayammum yang dimaksud adalah surat Al-Maidah ayat 6:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Asy-Syaikh Yahya menyatakan dalam Ahkamu At-Tayammum bahwa inilah yang dimaksud oleh Ummul Mu`minin ‘Aisyah x dan disahihkan penegasan ini oleh Imam Bukhari dalam sahihnya dari ‘Abdurrahman bin Al-Qasim dari ayahnya dari ‘Aisyah x dalam Kitab Tafsir Al Quran.

Dalam perisitiwa ini pula para sahabat bertanya tentang masalah ‘azl (mengeluarkan mani di luar farji ketika bersetubuh).

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri z:
عَنْ ابْنِ مُحَيْرِيزٍ قَالَ رَأَيْتُ أَبَا سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ بَنِي الْمُصْطَلِقِ فَأَصَبْنَا سَبْيًا مِنْ سَبْيِ الْعَرَبِ فَاشْتَهَيْنَا النِّسَاءَ فَاشْتَدَّتْ عَلَيْنَا الْعُزْبَةُ وَأَحْبَبْنَا الْعَزْلَ فَسَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَفْعَلُوا مَا مِنْ نَسَمَةٍ كَائِنَةٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا وَهِيَ كَائِنَةٌ
“Dari Abu Muhairiz, dia berkata:”Saya melihat Abu Sa’id z, lalu saya bertanya kepadanya, kata beliau:”Kami berangkat bersama Rasulullah  dalam perang Bani Al-Mushthaliq. Akhirnya kami memperoleh tawanan dari kalangan Arab. Kamipun tertarik kepada tawanan wanita yang ada, dan kami merasa berat membujang (jauh dari isteri), dan kami ingin melakukan ‘azl. Maka kamipun bertanya kepada Rasulullah , lalu beliau bersabda: “Tidak ada bahaya atas kamu, kalau tidak melakukan ‘azal. Tidak ada satu makhluk yang ditentukan hidup sampai hari kiamat melainkan tentu tercipta.”

Wallahu a’lam. Insya Allah edisi berikutnya Haditsul Ifk (Berita Bohong).

[1] Lihat Ahkamu At Tayammum (Tata Cara dan Tuntunan Lengkap Tayammum hal 79) –pen.

http://www.salafy.or.id/perang-dzatu-riqa-dumatul-jandal-dan-muraisi/

Mengenal Putera-puteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam

Oleh  : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy

Berikut putera-puteri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam :
  1. Qosim, Beliau wafat saat masih kecil.
  2. Zainab Radhiyallahu anha, Anak perempuan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang paling tua. Suami beliau bernama Abul Ash bin Rabi’
  3. Ruqoyyah Radhiyallahu anha, Beliau diperistri Ustman bin Affan Radhiyallahu anhu.
  4. Ummu Kultsum Radhiyallahu anha, Beliau diperistri Ustman bin Affan Radhiyallahu anhu setelah saudara perempuan beliau Ruqoyyah Radhiyallahu anhu wafat.
  5. Fatimah Radhiyallahu anha, diperistri Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu.
  6. Abdullah, Beliau juga digelari ” At-Thoyyib dan At-Thohir”
  7. Ibrohim, Beliau wafat saat masih kecil.
Tambahan Keterangan :
  • Seluruh Putera-puteri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dilahirkan oleh Khodijah bintu Khuwailid Radhiyallahu ‘anha, kecuali Ibrohim yang dilahirkan oleh Maria Al-Qibtiyah.
  • Seluruh Putera-puteri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dilahirkan sebelum diutusnya beliau menjadi rasul kecuali Abdullah dan Ibrohim.
  • Seluruh Putera-puteri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam wafat dalam keadaan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam masih hidup kecuali Fatimah, beliau wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Sumber : Zaadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim dan Al-Ishobah, Ibnu Hajar
http://assamarindy.wordpress.com/2008/12/01/mengenal-putera-puteri-rasulullah-shalallahu-alaihi-wassalam-2/

Jumat, 04 Mei 2012

‘Utsman bin ‘Affan, Pemilik Dua Cahaya


Para pembaca yang berbahagia, siapakah sosok sahabat pemalu sampai para malaikat pun malu kepadanya? Ya, dia adalah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
Nama dan Kelahiran
Beliau adalah ‘Utsman bin ‘Affan bin Abil Ash bin Umayyah bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib al-Qurasyi al-Umawi radhiyallahu ‘anhu.
Jalur nasab beliau dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu pada ‘Abdi Manaf. Ibunya bernama Arwa bintu Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf. Kunyah beliau adalah Abu ‘Amr atau Abu ‘Abdillah.
Dilahirkan di kota Thaif, pada tahun 576 Masehi atau 6 tahun setelah peristiwa Gajah yaitu penyerangan pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah.
Sekilas Keadaan Keluarga
Beliau digelari dengan Dzun Nurain (memiliki 2 cahaya), karena menikahi 2 putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha.
Siapakah Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha?
Ruqayyah radhiyallahu ‘anha adalah kakak dari Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha. Ibunda mereka adalah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu ‘anha. Awalnya, Ruqayyah radhiyallahu ‘anha menikah dengan ‘Utbah bin Abi Lahab. Sementara Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha menikah dengan ‘Utaibah bin Abi Lahab.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menyampaikan risalah kepada orang-orang Quraisy, Abu Lahab memerintahkan kedua anaknya untuk menceraikan kedua istrinya. Maka diceraikanlah Ruqayyah radhiyallahu ‘anha dan Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha dalam keadaan masih suci (perawan). Ini merupakan pemuliaan dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi keduanya sekaligus sebagai penghinaan bagi kedua anak Abu Lahab. ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu akhirnya menikahi Ruqayyahradhiyallahu ‘anha.
Tak berselang lama, mereka berdua hijrah ke negeri Habasyah. Di negeri asing tersebut, Ruqayyahradhiyallahu ‘anha melahirkan seorang putra yang diberi nama Abdullah. Kemudian beliau dan keluarga hijrah ke kota Madinah setelah sebelumnya sempat kembali ke kota Mekkah. Suatu hari, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat berangkat menuju daerah Badr untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Sedianya, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ingin mengikuti misi tersebut. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beliau untuk tetap tinggal di Madinah demi menjaga dan merawat Ruqayyah radhiyallahu ‘anha yang dalam keadaan sakit. Dan tatkala kaum muslimin bersuka cita merayakan kemenangan pasukan Allah subhanahu wa ta’ala atas pasukan musyrikin dalam kancah Badr, mendung kelabu menyelimuti keluarga ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dengan kepergian istri tercinta menghadap sang Khaliq pada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriyah.
Pada bulan Rabiul Awal tahun 3 Hijriyah, beliau menikah dengan Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha. Pada tahun 4 Hijriyah, putra beliau yang bernama Abdullah meninggal dunia karena sakit. Dan pada tahun 9 Hijriyah menyusul berikutnya sang istri Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha wafat, tanpa meninggalkan keturunan. Gurat kesedihan kembali menyelimuti wajah beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan, “Seandainya aku memiliki putri ketiga, niscaya akan aku nikahkan dengan ‘Utsman.”

Sifat dan Akhlak
Wajah beliau sangat tampan, berperawakan sedang dan gemuk, berdada lebar dan warna kulit sawo matang. Memiliki jenggot dan rambut yang lebat.
Beliau adalah seorang saudagar yang kaya lagi dermawan, banyak berbuat kebaikan, lembut perangainya, penyabar, penyayang, suka menyambung kekerabatan, memiliki sifat pemalu dan rajin melaksanakan puasa serta shalat malam.

Awal Keislaman
Beliau termasuk jajaran sahabat yang terdahulu masuk Islam setelah Abu Bakr ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah. Beliau masuk Islam atas ajakan Abu Bakr ash-Shiddiq sebelum Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah al-Arqam bin Abil Arqam, dalam usia lebih dari 30 tahun.
Ketika itu para sahabat yang masuk Islam baru mencapai 38 orang. Tatkala diketahui masuk Islam, sang paman yang bernama al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah langsung mengikat tubuh beliau seraya mengatakan, “Apakah engkau membenci agama nenek moyangmu dan lebih memilih agama yang baru? Demi Allah, aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu sampai engkau meninggalkan agama tersebut!”
Beliau mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya selama-lamanya!”
Demi melihat teguhnya pendirian beliau, sang paman pun akhirnya meninggalkannya.

Perjalanan Hijrah
Beliau adalah seorang sahabat yang berhijrah 2 kali yaitu ke Habasyah (Ethiopia) dan Madinah. Beliau termasuk rombongan awal dari para sahabat yang berhijrah ke Habasyah.

Masa Pemerintahan
Beliau dibai’at sebagai khalifah, 3 hari setelah pemakaman khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Tepatnya pada hari Sabtu bulan Muharam tahun 24 Hijriyah (644 Masehi) dalam usia 70 tahun.
Pada masa pemerintahan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, kaum muslimin dengan pertolongan Allahsubhanahu wa ta’ala berhasil menaklukkan beberapa daerah. Daerah-daerah yang ditaklukkan meliputi daerah Ray (Teheran), Hamadzan, benteng-benteng Romawi, kota Sabur, beberapa daerah di benua Afrika sampai berhasil menembus negeri Andalusia (Spanyol), Asbahan, Khurasan, Sijistan, Naisabur, Thabaristan, Thus, Sarkhas, Maru dan Baihaq. Beliau memangku jabatan khalifah selama 12 tahun.

Keutamaan dan Kelebihan
1. Mendapat kabar gembira masuk surga.
Dahulu ada seseorang minta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu:
ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى سَتُصِيْبُهُ
“Izinkan baginya dan berilah kabar gembira dengan surga atas musibah yang akan menimpanya.” (HR. al-Bukhari no. 3695)
Tatkala pintu dibuka, ternyata orang tersebut adalah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
2. Sahabat yang paling berilmu tentang masalah halal-haram dan manasik haji
3. Melaksanakan ibadah haji setiap tahun tatkala menjabat sebagai khalifah kecuali pada tahun wafatnya beliau.

Jasa dan Prestasi dalam Islam
1. Menyiapkan bekal untuk pasukan Perang Tabuk.
‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu menginfakkan harta untuk kebutuhan sepertiga pasukan sebanyak 900 unta dan 100 kuda serta uang sebesar 1000 dinar lebih.
Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan, “‘Utsman telah memberikan infak kepada pasukan perang Tabuk dengan infak yang sangat besar yang belum pernah ada seorang pun yang memberikan infak sebesar itu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mempersiapkan bekal untuk pasukan al-‘Usrah (perang Tabuk) maka baginya adalah al-Jannah (surga).” (HR. al-Bukhari no. 2778)
2. Mewakafkan sumur Ruumah untuk kaum muslimin.
Ruumah adalah nama sebuah sumur yang cukup terkenal di lembah kota Madinah dan dimiliki oleh seorang Yahudi. Kaum muslimin biasa membeli air dari sumur Yahudi tersebut dengan harga 1 dirham setiap 1 kantong air. Kemudian beliau membelinya dengan harga 20.000 dirham, dan mewakafkannya untuk kaum muslimin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menggali sumur Ruumah maka baginya adalah al-Jannah (surga).” (HR. al-Bukhari no. 2778)
Al-’Aini dalam ‘Umdatul Qari’ mengatakan, “Makna menggali di sini adalah membelinya yaitu sedekah dari beliau.”
3. Menyatukan Al-Qur`an dalam satu bacaan
Dalam rangka menyatukan bacaan Al-Qur`an, beliau membentuk panitia kerja yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dan panitia kerja berhasil menyusun standar salinan Al-Qur`an yang dikenal dengan nama Mushaf ‘Utsmani, untuk kemudian diperbanyak dan dikirim ke berbagai daerah serta memerintahkan untuk menarik semua mushaf yang tidak sesuai dengan Mushaf ‘Utsmani dalam rangka penyatuan bacaan Al-Qur`an.
4. Merenovasi dan memperluas Masjid Nabawi
Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinding Masjid Nabawi dibangun dari batu bata, atap dari pelepah kurma dan tiangnya dari batang kurma. Pada masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Masjid Nabawi mengalami renovasi dan perluasan.
Dinding masjid dan tiang dibangun dari bebatuan yang berkualitas, serta bagian atap disusun dari kayu. Masjid tetap dijadikan dengan 6 pintu sebagaimana pada zaman ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Pengerjaan tersebut memakan waktu 10 bulan, mulai bulan Rabiul Awal tahun 29 Hijriyah sampai awal bulan Muharram tahun 30 Hijriyah.
5. Membangun dan memperluas Masjidil Haram
Bentuk Masjidil Haram pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr hanya berupa halaman di sekitar Ka’bah dan tempat thawaf serta belum ada tembok yang mengelilinginya. Hanya saja ketika itu Ka’bah dan halaman sekitarnya dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk. Pada masa ‘Umarradhiyallahu ‘anhu, rumah-rumah tersebut dibeli oleh negara kemudian dibongkar dalam rangka perluasan masjid. Setelah itu, dibangunlah tembok keliling yang tidak terlalu tinggi dan kemudian dipasang lampu-lampu untuk penerangan.
Di masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu  tepatnya pada tahun 26 Hijriyah, Masjidil Haram pun dibangun dan diperluas.
6. Memindahkan kota pelabuhan dari Syu’aibah ke Jeddah
Syu’aibah adalah kota pelabuhan terkenal pada masa jahiliyah. Pada tahun 26 Hijriyah, ‘Utsmanradhiyallahu ‘anhu memindahkan kota pelabuhan dari Syu’aibah ke Jeddah atas permintaan penduduk Mekkah dengan alasan lebih dekat jaraknya dari Mekkah.

Keraguan dan Jawaban
Beliau memang tidak mengikuti Perang Badr karena ada uzur (alasan) syar’i sebagaimana yang telah dijelaskan.
Demikian pula beliau tidak mengikuti Bai’at Ridhwan, karena saat itu beliau sedang berada di kota Mekkah sebagai duta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk para pembesar Quraisy. Dalam bai’at tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya seraya bersabda,“Ya Allah, ini adalah dari ‘Utsman.”

Akhir Kehidupan
Beliau meninggal sebagai syahid pada hari Jum’at tanggal 18 Dzulhijjah tahun 35 Hijriyah (Juni tahun 656 Masehi) waktu Ashar di usia 82 tahun setelah ditikam oleh para perusuh yang mengepung rumahnya.
Beliau radhiyallahu ‘anhu meninggal dalam keadaan berpuasa. Dimakamkan pada malam Sabtu antara Maghrib dan Isya di pemakaman Baqi’.
            Wallahu a’lamu bish shawab.
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Rifqi hafizhahullahu ta’ala..

Sabtu, 24 Maret 2012

Pekikan Takbir Menggema di Perang Damaskus

Sekilas, banyak orang mengira bahwa generasi terdahulu dan terbaik umat Islam adalah sosok-sosok sederhana. Senyatanya, sepak terjang mereka yang menakjubkan begitu sulit diterka. Mereka adalah sekumpulan manusia yang mengemban misi membela agama Allah subhaanahu wa ta’ala dan meraih syahid. Tentunya, bukan aksi radikal tanpa bimbingan syariat dan ulama.

Latar Belakang Pertempuran
Dalam menapaki sejarah, Abu Bakar As-Shiddiq telah menyuguhkan banyak kebaikan di berbagai belahan bumi. Pergulatan ini berlanjut tatkala tampuk pemerintahan beralih kepada khalifah Umar bin al-Khaththab. Kebijakan pertama yang diterapkan oleh beliau adalah merombak struktur kepemimpinan pasukan Islam.
Sahabat Abu Ubaidah bin al-Jarrah dikukuhkan sebagai panglima tertinggi menggantikan posisi sahabat Khalid bin al-Walid sebelumnya. Abu Ubaidah dikenal sebagai sosok yang santun dan memiliki semangat juang yang tinggi. Beliau memiliki rekam jejak yang terhitung gemilang. Tidak didapati di kediamannya kecuali sebilah pedang tajam, tameng besi, dan pelana kuda. Pantaslah beliau menyandang gelar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Amin Hadzihil Ummah (Kepercayaan Umat Ini).
Imperium Romawi adalah negara adidaya yang tidak ada kekuatan manapun di dunia kala itu yang mampu menandingi. Namun, reputasi tersebut hancur dengan kiprah para mujahidin di pentas internasional. Paska perang Yarmuk, Heraklius raja Romawi menempatkan skuad tempur berskala besar pada satu titik lokasi, yaitu wilayah Fihl.
Kekalahan demi kekalahan tak juga menyurutkan skenario makar Romawi terhadap kaum muslimin. Perang Damaskus merupakan penaklukan putaran kedua di Syam yang termasuk teritorial penting Romawi. Damaskus adalah wilayah yang cukup luas dan menjadi basis pertahanan sekaligus ibukota Syam. Perang ini berlangsung pada tahun 14 H.

Persiapan Pasukan Islam
Sahabat Abu Ubaidah menindaklanjuti instruksi khalifah untuk menaklukkan Damaskus. Terlebih dahulu beliau mengirim armada perang ke sejumlah wilayah akses di garis demarkasi Damaskus, guna memecah konsentrasi musuh dan membendung pengiriman bantuan tempur oleh Heraklius. Sebuah strategi pengurai konspirasi terselubung.
Para mujahidin dituntut untuk memiliki kapabilitas dan pengalaman yang memadai dalam menjalani serangkaian peristiwa berikutnya. Diyakini, Islam akan senantiasa tinggi dan tiada yang lebih tinggi darinya. Berawal dari prinsip itulah kaum muslimin menatap jauh ke depan akan adanya timbangan akhirat, bukan timbangan dunia.

Pertempuran Meletus di Wilayah Fihl
Garda depan dipimpin oleh sahabat Khalid bin al-Walid, sayap kanan di bawah komando sahabat Abu Ubaidah, sayap kiri diatur oleh Amru bin al-Ash, dan pasukan infanteri dipimpin sahabat Iyadh. Sesampainya pasukan Islam di Fihl, ternyata musuh mengalihkan jalur aliran sungai ke lokasi para mujahidin hingga menyebabkan tanah menjadi becek dan berkubang.
Pasukan Romawi berjumlah 80.000 serdadu dilengkapi konstruksi persenjataan yang mutakhir. Resimen gabungan artileri-kavaleri ini di bawah komando panglima senior yang bernama Siqlab. Setelah berlalu beberapa hari, musuh menyerbu di tengah kegelapan malam. Dengan acuan bahwa para mujahidin dalam keadaan lengah.
Di tempat terpisah, pasukan Islam senantiasa siaga siang dan malam. Gempuran musuh justru dihantam dengan skema penyerangan agresif terpusat. Tak ayal, musuh begitu tersentak mendapat perlawanan sengit dengan gaya elegan dari para jawara padang pasir. Pertempuran berkecamuk hingga pagi dan berlanjut sampai malam keesokan harinya.
Pekikan takbir terdengar menggema dimana-mana. Perang terus bergulir. Tiap-tiap satuan kompi bertempur memberikan kontribusi lebih bagi kemenangan Islam. Tak heran, musuh menuai kenyataan pahit ketika hari beranjak malam. Siqlab pun terbunuh pada bentrokan bersenjata ini. Akhirnya pasukan Romawi melarikan diri dari medan laga.
Kontan saja, melihat aktivitas fisik tersebut milisi militan Islam mengoptimalkan daya tempur. Wilayah Fihl bersimbah darah. Mereka menggiring musuh yang tersisa ke parit berlumpur penuh air yang sebelumnya dipersiapkan sebagai jebakan bagi kaum muslimin. Justru menjadi bumerang atas musuh.
Diperkirakan jumlah pasukan Romawi yang terbunuh pada perang ini sebanyak 80.000 serdadu. Pasukan Islam mendapat harta rampasan perang yang sangat melimpah. Perjuangan ini patut menjadi panutan bagi orang-orang yang hidup setelahnya. Segala kesempurnaan pujian hanya milik Allah subhaanahu wa ta’ala.

Pengepungan Benteng Damaskus
Seluruh brigade beserta jajarannya di bawah komando sahabat Abu Ubaidah segera bergerak cepat menuju bumi Damaskus. Perkembangan aktual dilaporkan kepada Khalifah Umar secara intensif. Sahabat Abu Ubaidah sendiri kerap menasehati akan nikmat dan janji Allah subhaanahu wa ta’ala, membangkitkan semangat juang para prajurit bahwa jihad fi sabilillah lebih mulia dari dunia beserta isinya.
Milisi militan Islam terus merangsek maju tanpa ada kendala berarti. Pasukan Islam kala itu berjumlah 20.000 prajurit. Nampaknya, tidak ada kekuatan apapun yang dapat menahan derap langkah mereka. Sampai akhirnya tiba di kompleks benteng pertahanan Damaskus. Mekanisme pengepungan langsung diberlakukan.
Benteng Damaskus memiliki karakteristik yang amat kokoh. Tersusun dari bebatuan, dengan ketinggian mencapai lebih dari enam meter dan tebal tiga meter. Memiliki lima pintu gerbang yang sangat besar lagi kokoh. Diperkuat dengan kedalaman parit air berlumpur yang lebarnya mencapai tiga meter mengelilingi benteng, memiliki arus yang deras berasal dari aliran sejumlah sungai di sekitarnya.
Pembangunan benteng Damaskus dengan spesifikasi tersebut dalam rangka meredam laju invasi militer dari rival terbesarnya, yaitu imperium Persia. Para mujahidin terpanggil keteguhannya menghadapi tantangan ini. Disadari, bahwa kekalahan tidak sepenuhnya terkait dengan jumlah pasukan yang sedikit, namun dikarenakan berbagai dosa yang dilakukan.
Sahabat Abu Ubaidah segera menempatkan tiap bataliyon di depan pintu gerbang yang telah ditetapkan. Pasukan Islam tidak memberi mereka ruang gerak sedikitpun. Sahabat Khalid bin al-Walid membawa panji perang berwarna hitam pada perang ini. Semasa hidupnya, beliau memiliki 80 bekas luka sehingga tidak ada sejengkal pun pada tubuhnya melainkan didapati goresan luka.
Pasukan Romawi yang berlindung di dalam benteng berkekuatan 60.000 serdadu. Dipimpin oleh seorang panglima kawakan berkasta tinggi bernama Nisthas. Musuh melaporkan kronologi pengepungan ini kepada Heraklius. Namun kenyataan menorehkan cerita lain. Para pejuang justru meningkatkan status pengepungan dari segala arah.
Para mujahidin menghantam benteng dengan menggunakan persenjataan berat dan sejumlah manjaniq (ketapel pelontar ukuran besar). Sementara musuh berkomitmen mempertahankan benteng sekuat tenaga.

Akhir dari Pertempuran
Di saat bantuan pasukan tidak bisa menembus blokade pasukan Islam, pihak Damaskus tidak bisa berharap banyak. Awalnya, musuh menganalisa bahwa para mujahidin tak akan bertahan lama dalam pengepungan tersebut kala musim dingin yang sangat ekstrem. Pasalnya, mereka berasal dari jazirah Arab yang panas dan gersang.
Musuh lalai bahwa mereka berhadapan dengan tentara-tentara Allah. Kesabaran dan keyakinan seorang mukmin dapat memupus berbagai rintangan yang ada. Kombinasi itu kian menambah kegagahan dalam bertarung.
Setelah pengepungan berlalu 70 hari, anak seorang pendeta dilahirkan pada malam itu. Pendeta tersebut menyelenggarakan pesta jamuan makan yang dihadiri oleh penduduk Damaskus. Musuh asyik berpesta-pora hingga lalai dalam sistem penjagaan benteng.
Di sisi lain, sahabat Khalid bin al-Walid senantiasa siaga memantau perkembangan yang ada. Badan intelijen selalu memberikan laporan hasil pengintaian. Lampu-lampu kompleks benteng dipadamkan malam itu. Beliau bersama tim khusus beranggotakan para jagoan perang langsung bergerak perlahan tanpa sepengetahuan elemen bataliyon di tempat lain.
Tim khusus ini menyeberangi sisi parit yang sangat deras aliran airnya pada posisi yang paling berbahaya. Mereka membawa peralatan persenjataan yang dimasukkan dalam kantong terbuat dari kulit, lalu diikat pada leher mereka. Sebelumnya, mereka berpesan, “Bila kalian mendengar pekikan takbir dari atas benteng, naiklah, dan ikuti kami!”
Singkatnya, mereka berhasil memanjat benteng. Takbir pun bergema dengan suara lantang dari arah atas. Lalu mereka turun ke dalam kompleks benteng, menyerang beberapa penjaga pintu, dan berhasil membuka paksa pintu gerbang beberapa saat kemudian.
Pasukan sahabat Khalid bin al-Walid yang berada di depan pintu gerbang sebelah timur merangsek maju dan berhasil memasuki benteng tersebut di saat matahari terbit. Dalam kesenyapan mereka menyerang musuh dengan leluasa. Bentrokan kembali terjadi. Suasana tegang menyelimuti kompleks pertahanan itu.
Akhirnya musuh keluar dari arah pintu lain dan mengajukan permintaan damai. Terjadilah perdamaian dengan berbagai kesepakatan.
Di masa pemerintahannya, Khalifah Umar berhasil menaklukkan dua kerajaaan adikuasa dunia; Persia dan Romawi, dengan memasukkan1.036 kota ke dalam teritorial kekuasaan kaum muslimin. Beliau menghancurkan syiar-syiar kekafiran dan membangun serta menyemarakkan syiar-syiar Islam. Sebuah potret nyata atas curahan dedikasi terbaik untuk Islam. Semoga Allah meridhainya.
Para pembaca yang mulia, inilah untaian mutiara yang tersaji dari sejarah perjuangan generasi terbaik umat ini:
1. Kejayaan akan diraih umat Islam tatkala mereka kembali kepada Al-Qur’an dan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang besar dan mulia, tidak sebagaimana yang diklaim oleh sekte Syiah.
3. Diperbolehkan menjalin ikatan damai dengan pihak kafir, manakala ulil amri (pemerintah dan ulama) melihat adanya kemaslahatan padanya.
Wallahu a’lamu bish shawab.
Penulis: Al-Ustadz Muhammad Hadi hafizhahullah