Tampilkan postingan dengan label Rukun Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rukun Iman. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

Kunci Surga

Ibarat sebuah pintu, surga menbutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu ? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.

Tetapi anda tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda (yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “
(HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih).

Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illalloh, kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah itukah pintu surga kita buka ? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Allah, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga ? Tidak mungkin !

Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illalloh itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H) : “Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga ? “Wahab menjawab : “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.

Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illalloh itu ? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illalloh itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illalloh ! Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illalloh itu ada delapan, yaitu :

Pertama : Al-‘Ilmu (mengetahui), maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illalloh secara benar. Adapun artinya adalah : “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.”
(HR. Muslim).
Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut, tetapi anda tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.

Kedua : Al-Yaqiinu (meyakini), maksudnya adalah anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.
(HR. Muslim).

Ketiga : Al-Qobulu (manerima), maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an (yang artinya):
“Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “
(QS. As-Shoffat : 35-36).

Keempat : Al-Inqiyaadu (tunduk atau patuh), maksudnya Anda harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illalloh dalam amal-amal nyata. Allah subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Kembalilah ke jalan Tuhanmua, dan tunduklah kepada-Nya. “
(QS. Az-Zumar : 54).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya):
“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh). “(QS. Luqman : 22).
Makna “menyerahkan dirinya kepada Allah” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya (ed.).

Kelima : Ash-Shidqu (jujur atau benar), maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai kebohongan sedikitpun. Nabi Sholallahu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya. “
(HR. Imam Bukhori dan Muslim).

Keenam : Al-Ikhlas (ikhlas atau murni), maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla. “(HR. Imam Bukhori dan Muslim).

Ketujuh : Al-Mahabbah (mencintai), maksudnya anda harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Allah yang di cintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Allah diatas segala-galanya). “
(QS. Al-Baqarah : 165). Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Allah dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illalloh.(ed,).

Kedelapan : Al-Kufru bimaa siwaahu (mengingkari sesembahan yang lainnya), maksudnya Anda harus mengingkari segala sesembahan selain Allah, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga Anda harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu batil dan tidak pantas disembah-sembah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh), yang tidak akan putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).

Saudaraku kaum muslimin dari sini dapatlah anda ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah ! Wallahu a’lamu bish showwab !.


Dinukil dari bulletin Dakwah Al-Bayyinah
Penulis: Al-Ustadz Agus Su’aidi As-Sidawy 

Senin, 03 Desember 2012

Di MANA الله ???

Di Manakah الله

Pertanyaan ini nampak begitu sederhana, namun tidak sedikit yang terdiam seribu bahasa ketika pertanyaan di atas diajukankan kepada kita, tidak sedikit pula yang menjawab dengan serampangan dan sok tahu, atau dengan asas praduga dan prasangka, namun pertanyaan sederhana ini begitu agung dan penting bagi keselamatan aqidah seorang muslim, yang dengannya dibangun pondasi awal sebuah keimanan.

Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ kaum muslimin, telah menetapkan bahwa keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala adalah di atas langit, di atas Arsy-Nya. Allah yang Maha Mulia dan Sempurna telah mengkhabarkan hal yang demikian itu pada tujuh  tempat di dalam Al-Qur’an. Sebagai mana firman-Nya dalam surat Thoha 5 :
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه 5)
Ar-Rahman berada tinggi di atas Arsy-Nya
 
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (الأعراف54)
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam[1] di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al A’raaf 54)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (يونس 3)
“ Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (Yunus 3)

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ (الرعد 2)
“ Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (Ar-Ra’d 2)

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا ( الفرقان 59)
“ (Dia lah) yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. (Dialah) yang Maha pemurah, Maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” (Al Furqan 59)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ( السجدة 4)
“ Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at[1189]. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” (As-Sajadah 4)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (الحديد 4)
“ Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al Hadid 4)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (18 الأنعام)
“ dan Dialah yang maha berkuasa berada di atas sekalian hamba-hamba-Nya. dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. “ (Al An’am 18)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ (61 الأنعام)
dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi berada di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (Al An’am 61)

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (النحل50)
mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (An Nahl 50)

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ (10فاطر)
“ Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur. “ (Faathir 10)

Allah subhanahu wa ta’ala yang memiliki puncak kesempurnaan, telah mengkhabarkan kepada kita melalui ayat-ayatNya yang mulia tentang keberadaan-Nya, dan Allah azza wa jalla maha mengetahui tentang diri-Nya, maka apakah patut bagi seorang hamba untuk mengingkari maupun memalingkan apa yang telah Allah tetapkan dan khabarkan sendiri kepada hamba-hambaNya melalui ayat-ayatNya yang mulia. 

Demikian pula Rasul-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam pun telah menyampaikan yang demikian di atas ketika beliau bertanya kepada salah seorang budak milik sahabat.
فقال لها أين الله ؟ قالت في السماء قال من أنا ؟ قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة ” .رواه مسلم
“Berkata Rasulullah kepada salah seorang budak milik sahabat : “Di mana Allah ?” berkata budak tersebut : di atas langit. Berkata rasulullah : “Siapa aku” berkata budak tersebut : “engkau rasulullah, berkata rasulullah (kepada sahabat yang memiliki budak tersebut) “merdekakanlah dia, sesungguhnya dia adalah seorang mukminah” [HR. Muslim]

أَلاَ تَأْمَنُونِى وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِى السَّمَاءِ ، يَأْتِينِى خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً
Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, berkata rasulullah shalallahu ‘alihi wa sallam: “Tidakkah kalian mempercayaiku, sedangkan aku adalah kepercayaannya yang di atas langit, datang kepadaku wahyu dari langit pagi dan sore.” (muttafaqun ‘alihi)


Apa itu Arsy Allah ????



العرش لغة : السرير الخاص بالملك
و في الشرع : العرش العظيم الذي استوى عليه الرحمن جل جلا له و هو اعلى المخلوقات و أكبرها, وًصفه الله بأنه عظيم, بأنه كريم, بأنه مجيد

Al Arsy

Makna secara bahasa : Singgasana yang dikhususkan untuk raja-raja.
Makna secara Syar’i : Singgasana yang agung yang di sana Allah (Ar-Rahman) berada tinggi di atasnya, dan Arsy tersebut adalah ciptaan Allah yang berada paling tinggi dan paling besar di antara seluruh ciptaanNya.

[1] اسْتَوَى : di dalam bahasa indonesia diartikan dengan “bersemayam” adapun makna bersemayam itu sendiri memilki beberapa penggunaan yang berbeda-beda maknanya, adapun makna bersemayam pada kalimat اسْتَوَى maknanya di dalam bahasa arab adalah  إرتفاع و العلو   : berada tinggi di atas arsy-Nya.

http://jejakrusul.wordpress.com/2010/07/16/di-mana-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87/#more-23

Kamis, 27 September 2012

Iman kepada Malaikat

Beriman kepada Malaikat merupakan salah satu rukun iman yang enam. Tidak terwujud keimanan seseorang hingga dia juga beriman kepada para malaikat. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman :
 وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136)



Pada ayat di atas, Allah subhaanahu wa ta’aalaa menyebut orang yang mengingkari rukun-rukun iman sebagai orang kafir, dan menyifatinya sebagai orang yang sesat sejauh-jauhnya. Maka hal ini menunjukkan bahwa beriman kepada para Malaikat merupakan salah satu rukun iman yang besar, dan orang yang mengingkarinya bisa menjadi kafir atau murtad/keluar dari Islam.

Pengertian dan Kedudukan Malaikat
Kata “Malaikat” adalah bentuk jamak dari kata Malak, terambil dari akar kata al-Alukah yang bermakna risalah. Sehingga malaikat dalam pengertian bahasa bermakna para utusan Allah yang diberi tugas untuk mengurusi urusan tertentu.

Adapun beriman kepada Malaikat maka dengan meyakini secara pasti bahwa para Malaikat itu ada dan memiliki fisik, mereka termasuk jenis makhluk Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang ghaib, Allah subhaanahu wa ta’aalaa menciptakan mereka dari cahaya (nur). Kedudukan mereka di sisi Allah sangat mulia karena mereka adalah para hamba yang senantiasa menaati Allah dan tidak pernah menentang-Nya. Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah subhaanahu wa ta’aalaa.
Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman tentang sifat para Malaikat :
 لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim : 6)

وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ   يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ
“Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya`: 19-20)


Jadi, para Malaikat adalah para makhluk dan para hamba Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang dekat kepada-Nya dan senantiasa taat beribadah kepada-Nya. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak pantas dan tidak berhak untuk diibadahi, atau dimintai syafa’at, atau dijadikan perantara dalam berdo’a kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa. Maka termasuk suatu kekufuran yang nyata ketika para Malaikat tersebut disejajarkan dengan Allah subhaanahu wa ta’aalaa.

Beriman kepada Malaikat Meliputi Hal-hal Berikut Ini:
1. Mengimani keberadaan para malaikat. Yakni para Malaikat itu termasuk alam ghaib, namun nyata adanya.
Para Malaikat itu juga memiliki fisik/jasad, sebagaimana dalam firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa (yang artinya):
“Segala puji hanya khusus bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fathir: 1)

Maka termasuk kesalahan dalam beragama jika meyakini bahwa para Malaikat itu hanyalah simbol dari kekuatan maknawi, bukan makhluk yang memiliki substansi dan jasad.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga memberitakan bahwa ketika beliau Isra` dan Mi’raj, di langit ketujuh diperlihatkan kepada beliau al-Baitul Ma’mur, yang di rumah suci tersebut para Malaikat beribadah di dalamnya. Setiap harinya 70.000 malaikat masuk  ke dalamnya kemudian keluar dan tidak pernah kembali lagi, demikian seterusnya setiap hari. Ini menunjukkan bahwa jumlah para Malaikat itu sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah subhaanahu wa ta’aalaa.

2. Mengimani nama-nama para Malaikat yang terdapat dalam Al-Qur`an dan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Seperti Malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, Munkar, Nakir, Malik, dan yang lainnya. Adapun yang tidak disebutkan namanya maka kita mengimani secara global bahwa mereka ada. Perlu diketahui, tidak semua Malaikat disebutkan namanya dalam Al-Qur`an atau hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan banyak pula yang hanya disebutkan sifat atau tugasnya, namun tidak disebutkan namanya.
Adapun nama ‘Izrail, yang dikenal sebagai malaikat pencabut nyawa, maka nama tersebut tidak ada dasarnya dari Al-Qur`an maupun dari hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Nama ‘Izrail berasal dari sumber Israiliyyat (riwayat-riwayat Bani Israil). Dalam Al-Qur`an disebut “Malakul Maut” (QS. As-Sajdah: 11).

3. Mengimani sifat-sifat para Malaikat sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur`an dan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Seperti Malaikat Jibril ‘alaihis salaam yang Allah subhaanahu wa ta’aalaa sebutkan sifat-sifatnya dalam Al-Qur`an sebagai malaikat yang mulia, kuat, berwibawa, terpercaya, dan memiliki bentuk yang indah.
“Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (At-Takwir: 19-21)
“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai bentuk yang indah; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (An-Najm: 5-6)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga memberitakan bahwa beliau pernah menyaksikan Jibril dalam wujud aslinya yang memiliki 600 sayap (HR. al-Bukhari 3232, Muslim 147). Dari sayap tersebut bertebaran aneka warna yang merupakan mutiara-mutiara indah dan batu-batu yakut!! (HR. al-Baihaqi dalam Dala`il an-Nubuwwah II/372).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang para Malaikat pemikul ‘Arsy, bahwa mereka memiliki fisik yang sangat besar, jarak antara cuping telinga dengan pundaknya adalah sejauh perjalanan 700 tahun !! (HR. Abu Dawud 4727, al-Baihaqi dalam al-Asma’ wa ash-Shifat 846)
Subhanallah! Betapa indahnya para Malaikat tersebut, dan betapa besarnya mereka. Maka hal ini tentunya mengingatkan kita bahwa Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang telah menciptakan mereka adalah Dzat yang Mahaindah dan Mahabesar. Tentunya, keindahan dan kebesaran Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan makhluk-Nya.

4. Mengimani tugas-tugas Malaikat yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Allah subhaanahu wa ta’aalaa adalah Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Kuasa, yang sama sekali tidak butuh bantuan siapapun dalam mengurus alam semesta ini. Namun  dengan segala hikmah-Nya, Allah subhaanahu wa ta’aalaa menghendaki dan memerintahkan para Malaikat untuk mengurus beberapa urusan di alam semesta dengan izin-Nya.

Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul, yang dengannya terwujud kehidupan hati dan ruh. Mikail bertugas mengurus hujan, yang dengannya terwujud kehidupan badan. Israfil bertugas meniup sangkakala, yang dengannya terwujud kehidupan kembali (kebangkitan) setelah kematian. Tiga malaikat ini merupakan malaikat yang terbesar dan paling utama, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’a iftitah yang dibaca pada shalat malam mengatakan:
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
“Ya Allah, Rabb yang mengatur Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang tampak … “ (HR. Muslim 770). Di antara ketiga malaikat tersebut, yang paling utama adalah Jibril.

Malik bertugas mengurus neraka, ada juga malaikat yang mengurus jannah (surga), disebutkan dia bernama Ridwan. Malakul Maut bertugas mencabut nyawa. Ada juga para malaikat yang bertugas memikul ‘Arsy.
Di antara para malaikat tersebut ada pula yang ditugaskan oleh Allah subhaanahu wa ta’aalaa untuk mengurus manusia, sehingga malaikat memiliki hubungan yang sangat erat dengan umat manusia. Para malaikat adalah makhluk yang sangat menginginkan kebaikan dan keselamatan untuk manusia. Berbeda dengan syaithan, makhluk yang sangat menginginkan kejelekan dan kecelakaan bagi umat manusia. Oleh karena itu, banyak dalil-dalil yang menyebutkan bahwa para malaikat mendoakan kaum mukminin, di antaranya:
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan jagalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (Ghafir : 7)

Termasuk pada saat yang kritis/genting, yakni ketika sakaratul maut, para malaikat turun memberikan dukungan kepada orang beriman. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka para malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergemberilah dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kami (para malaikat) adalah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat.“ (Fushshilat: 30-31)

Bahkan di jannah (surga) kelak, para malaikat akan mengucapkan salam kepada kaum mukminin penghuni jannah. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman (yang artinya):
وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ  سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka (jannah) dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian). Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 23-24)
        Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Ustadz Ahmad Alfian hafizhahullaahu ta’aalaa

http://www.buletin-alilmu.com/2012/09/24/iman-kepada-malaikat/